Saturday, June 7, 2014

LIPI SELENGGARAKAN SIMPOSIUM METROLOGI

LIPI Selenggarakan Simposium Metrologi
Rabu, 4 Juni 2014

JAKARTA, (PRLM).- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyelenggarakan Simposium Metrologi yang mengusung tema Measurement and The Global Energy Challenge. Kegiatan itu dijadwalkan berlangsung di Auditorium Widya Graha LIPI, Jakarta, Rabu (4/6/2014).

Sebagaimana keterangan pers, Selasa (3/6/2014) disebutkan, simposium metrologi ini merupakan bagian dari rangkaian pertemuan tengah tahun Asia-Pasific Metrology Programme (APMP) yang merupakan kerja sama lembaga-lembaga metrologi nasional di wilayah Asia dan Pasifik yang dilaksanakan pada 29 Mei s.d. 3 Juni 2014.

Pertemuan tengah tahun APMP dihadiri oleh anggota Komite Eksekutif, para ketua komite-komite teknis, dan Komite Negara Berkembang. Pertemuan itu sekaligus memantapkan posisi Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi, dan Metrologi (Puslit KIM) LIPI sebagai pelaksana fungsi Lembaga Metrologi Nasional (LMN).

Simposium metrologi juga akan membahas mengenai pengembangan sistem pengukuran/kalibrasi untuk gas alam oleh Perusahaan Gas Negara (PGN) bekerja sama dengan KIM-LIPI dan grand design kebijakan energi nasional dalam mengatasi permasalahan energi global.(Agus Ibnudin/A-108)***



» Arsip
» Diakses : 57 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

INDONESIA BUTUH LEMBAGA METROLOGI NASIONAL

Indonesia Butuh Lembaga Metrologi Nasional
Kamis, 5 Juni 2014

Jakarta, GATRAnews - Menjelang diberlakukannya perdagangan bebas regional ASEAN 2015, Indonesia perlu membentuk Lembaga Metrologi Nasional. Lembaga tersebut, menurut Mego Pinandito bertugas sebagai tempat untuk menguji kualitas suatu produk sehingga dapat diterima pasar dalam dan luar negeri.

Menurut Kepala Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi Lembaga Penelitian Ilmu Pengetahuan (LIPI) tersebut, saat ini fungsi lembaga metrologi telah dijalankan di salah satu divisi di LIPI, namun dengan pembentukan lembaga tersebut dapat memperkuat standart uji dari suatu produk.

"Kami melihat bagaimana fungsi jaminan dan ketelusuran di Indonesia bisa diterima di negara lain dalam ekspor dan impor. Jika mengekspor sudah diperiksa, maka di negara impor bisa diterima. Jadi, cost-nya tidak lebih mahal jika harus melakukan tera di negara impor tersebut," kata Mego dalam forum Metrology and Global Energy Challenge di Jakarta, Rabu (4/6).

Ia menambahkan saat ini, sebagai sebuah badan memang belum ada tapi fungsi yang menjamin metrologi nasional itu yang sekarang dilakukan oleh Puslit KIM LIPI. Ia berharap pembentukan lembaga metrologi dapat meningkatkan kualitas pengecekan suatu produk.

"Dengan menjadi sebuah badan hasilnya akan lebih kuat," tambah Mego. Menurutnya, lembaga meteologi berbeda fungsinya dengan unit kerja yang ada di Kementerian Perdagangan.

"Yang kami lakukan adalah sifatnya ilmiah sience dan dan industrial. Ini adakah riset dan metrologi secara siencetyfic. Alat2 di pabrik untuk menjaga kualitas dari produknya dan kebenaran produknya," imbuh Mego.

Ia mencontohkan Korea yang memiliki lembaga metrologi bernama Korea Research Institute of Standards and Science (KRISS) di bawah Kementerian Ilmu dan Teknologi. "Institut ini berdiri di bawah kementrian. Bertugas mengukur standar ukur dan riset," kata Mego. (*/jnr)



» Arsip
» Diakses : 61 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

KERETA API ALTERNATIF ANGKUTAN BARANG

Kereta Api Alternatif Angkutan Barang
Kamis, 5 Juni 2014

TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat ekonomi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Latif Adam, menyarankan pemerintah memikirkan alternatif lain sebelum melarang truk kontainer melewati jalan tol. "Kalau tidak ada alternatif tapi sudah diberlakukan, keputusan itu tidak bijaksana," katanya ketika dihubungi Tempo, Selasa, 3 Juni 2014.

Latif mengatakan pengusaha menggunakan jalan tol sebagai jalur distribusi barang karena tidak punya pilihan lain. "Pelarangan ini harusnya dibarengi dengan mengoptimalkan moda transportasi lain.

Moda transportasi alternatif yang disarankan Latif adalah kereta api. Ia mendesak pemerintah mengoptimalkan jalur rel ganda untuk jalur distribusi barang. (Baca: Truk Besar Dilarang Lewat Tol Wiyoto mulai 5 Juni)

"Kalau ada kereta api, pasti pengusaha juga mau pakai kereta api," kata Latif. Selain kereta api, perbaikan transportasi laut terutama kapal jalur Kilang Maya-Tanjung Priok dapat menjadi solusi lain.

Pernyataan Latif menanggapi larangan truk kontainer ukuran lebih dari sepuluh ton untuk melintasi jalan tol tersebut. Larangan tersebut dikeluarkan dengan pertimbangan aktivitas truk-truk tersebut telah mempercepat kerusakan jalan tol. Sebagai alternatifnya, lalu lintas truk kontainer akan dialihkan ke tol lingkar luar Jakarta akses Tanjung Priok-Cilincing.

Saat ini, tol tersebut sedang dalam proses konstruksi, dan pengalihannya menunggu tol rampung dibangun. Langkah ini dilakukan, berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 14 Tahun 2007 tentang Kendaraan Pengangkut Peti Kemas di Jalan.

Latif memprediksi kebijakan baru ini dapat memicu konflik, terutama dari pengusaha yang tidak punya alternatif jalur distribusi barang. "Pemerintah jangan serta-merta melarang, tapi juga beri pilihan," kata dia lagi.

Saat ini, menurut dia, kawasan industri semakin mendekat ke arah jalan tol seperti yang terjadi di Cikarang. Hal ini dilakukan pelaku industri karena jalur tol memang lebih cepat dan murah.



» Arsip
» Diakses : 27 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

KEMBANGKAN IPTEK, INDONESIA PERLU SIAPKAN BANYAK PENELITI MUDA

Kembangkan Iptek, Indonesia Perlu Siapkan Banyak Peneliti Muda
Kamis, 5 Juni 2014

(Tiongkok Humas LIPI). Salah satu ukuran kemajuan sebuah negara adalah perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek-nya). Semakin maju Iptek, maka negara itu bisa tergolong sebagai negara maju.

Berangkat dari hal tersebut, Indonesia perlu lebih memajukan perkembangan Ipteknya. Salah satu langkahnya dengan lebih banyak menyiapkan peneliti muda sebagai generasi penerus.

Pemerintah Indonesia dalam hal ini lembaga riset dan institusi pendidikan perlu memprioritaskan penyiapan peneliti muda sebagai generasi penerus melalui berbagai program pengayaan ilmiah, capacity building peneliti muda dan mobility program, ungkap Sekretaris Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Akmadi Abbas menyarikan salah satu rekomendasi hasil pertemuan bertajuk The 3rd Annual Meeting Global Research Council (GRC) pada 26-29 Mei 2014 lalu di Beijing, China (Tiongkok).

Dua delegasi Indonesia dari LIPI hadir dalam pertemuan tersebut yaitu Sekretaris Utama LIPI dan Kepala Biro Kerja sama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI Nur Tri Aries S. Pertemuan GRC ini diselenggarakan atas kerja sama Chinese Academy of Science (CAS), the National Science Foundation of China (NSFC) dan the Natural Sciences and Engineering research Council of Canada (NSERC). Pertemuan mengesahkan the Statement Principles for for Action on shaping the Future : Supporting the Next Generation of Researchers.

Sebanyak 120 peserta dari 31 negara dan 14 organisasi ilmiah internasional mengikuti pertemuan tersebut. Pertemuan antara lembaga penyandang dana riset dan lembaga ilmiah ini memiliki dua tujuan. Pertama, pengesahan Statement Principles for Action on shaping the Future : Supporting the Next Generation of Researchers dan kedua adalah penerapan the GRC Action Plan on Open Access to Publications, yang sebelumnya telah disahkan dalam The 2nd GRC Meeting di Berlin tahun lalu.

Akmadi menambahkan, hasil pertemuan GRC juga menyoroti tentang pentingnya penyamaan persepsi terkait Open Access to Publication. Untuk itu, LIPI seyogyanya menginisiasi Workshop Open Access tersebut untuk mendefinisikan pemahaman open access dan langkah-langkah yang harus dipersiapkan agar saat kebijakan ini diambil sudah tidak menimbulkan multitafsir.

Partisipasi GRC Tokyo

Sementara terkait pertemuan GRC, Nur Tri Aries S menuturkan bahwa Indonesia, khususnya LIPI ke depan perlu mempersiapkan partisipasinya dalam The 4th GRC di Tokyo terkait scientific breakthrough dan sinergisme riset serta pendidikan.

Nur menjelaskan, pertemuan GRC merupakan pertemuan tingkat tinggi yang dihadiri oleh Presiden/Kepala Lembaga Riset terkemuka dan Lembaga Penyandang Dana riset. Tentu, ini penting diikuti oleh Indonesia, imbuhnya.

Selain menghasilkan komitmen mengenai jaringan ilmuwan dan kebijakan Iptek dunia, lanjutnya, juga penting bagi Indonesia untuk membangun jaringan ilmuwan/policy makers dalam bidang Iptek. Sehingga, pertukaran kebaruan informasi dan best practice dari negara maju lainnya dapat memperkaya wawasan dan sebagai landasan Indonesia mengambil langkah-langkah penting kebijakan Iptek.

Forum GRC ini menjadi signifikan karena Indonesia sampai sekarang belum memiliki Lembaga penyandang Dana Riset seperti NSF di USA dan negara-negara anggota lainnya. Diharapkan ke depan Indonesia memiliki lembaga semacam NSF tersebut untuk menstimulus gairah riset di Indonesia, pungkasnya. (pw)



» Arsip
» Diakses : 208 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

KETERSEDIAAN AIR TANAH KEBUN RAYA BOGOR MENGKHAWATIRKAN

Ketersediaan Air Tanah Kebun Raya Bogor Mengkhawatirkan
Kamis, 5 Juni 2014

TEMPO.CO , Bogor: Pembangunan gedung-gedung di seputar Kota Bogor dan seputar Kebun Raya Bogor mengancam ketersediaan air tanah di kebun bersejarah yang tak ternilai harganya itu dan di Kota Bogor umumnya.

Hal itu diungkapkan Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Didik Widyatmoko, Rabu, 4 Juni 2014. Komentar itu sebagai tanggapan terhadap pembangunan gedung bertingkat di seputar Kebon Raya Bogor yang dirasakan semakin tidak terkendali.

"Pembangunan gedung-gedung saat ini sudah tidak terkontrol. Ini mengancam ketersediaan air tanah bagi Kebun Raya," keluh Didik.

Didik mencontohkan tanaman di Kebun Raya Bogor msekarang lebih mudah kering jika tidak tersiram hujan selama sepekan. "Padahal, dulu hal itu tidak pernah terjadi," jelasnya. Menurut dia, gejala itu menunjukkan berkurangnya air tanah di kebun seluas 87 hektare dengan 15 ribu jenis tanaman tersebut.

Pada kesempatan Seblumnya, Wali Kota Bogor Bima Arya berkomitmen melindungi dan menyelamatkan Kebun Raya Bogor dari ancaman pesatnya pembangunan gedung di wilayah seputarnya. "Kondisi Kebun Raya Bogor saat ini luar biasa mengkhawatirkan. Jangan sampai kebun yang kita banggakan ini rusak," kata Bima.

Padahal ungkap Bima, Kebun Raya Bogor merupakan etalase dan citra bagi mereka yang berkunjung ke Kota Bogor. Ia berjanji menghentikan sementara pelayanan pemberian izin perhotelan di sekitar kawasan pusat kota. (Baca juga: Revisi Tata Ruang Bogor Tunggu Penyempurnaan).

Langkah itu diharapkan dapat mengerem pembangunan gedung-gedung di pusat Kota Bogor, terutama di sekitar kawasan konservasi. "Izin pembangunan hotel dan kawasan komersial lainnya sudah mulai kita perketat sebagai salah satu langkah penyelamatan lingkungan," tegas Bima.



» Arsip
» Diakses : 71 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

LIPI-SEAMOLEC SOSIALISASIKAN AKREDITASI MAJALAH ILMIAH

LIPI-SEAMOLEC Sosialisasikan Akreditasi Majalah Ilmiah
Jumat, 6 Juni 2014

(Jakarta Humas LIPI). Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan (Pusbindiklat) Peneliti bekerja sama dengan Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Distance Learning Center (SEAMOLEC) melakukan kegiatan sosialisasi tentang akreditasi majalah ilmiah awal Mei lalu di Sekretariat SEAMOLEC Jakarta.

Kegiatan sosialisasi tersebut berupa pemaparan dan diskusi jarak jauh bertajuk Tahapan, Kiat dan Pasca Akreditasi Majalah Ilmiah ke 17 provinsi. Langkahnya dengan mendayagunakan 17 Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) di daerah, antara lain Jakarta, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Lampung, Riau, Bangka Belitung, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Makassar, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo.

Saat pelaksanaan sosialisasi, sebanyak 60 peneliti yang menerima pembinaan serupa juga hadir. Mereka adalah perwakilan dari 17 Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK).

Kepala Pusbindiklat Peneliti LIPI Prof. Dr. Enny Sudarmonowati memberikan pemaparan dalam kesempatan tersebut bersama dengan Deputy Director for Program SEAMOLEC Mr. Ith Vuthy, M.Sc, M.A dari Kamboja. Keduanya didampingi oleh Kasubbid Akreditasi Pusbindiklat peneliti LIPI Sutrisno Heru Sukoco.

Prof. Dr. Enny Sudarmonowati mengungkapkan, pihaknya melalui kegiatan sosialisasi akreditasi majalah ilmiah tersebut berupaya meningkatkan terobosan dalam rangka pembinaan melalui peningkatan distribusi informasi secara merata untuk menjangkau sebanyak mungkin provinsi di Indonesia.

Hal ini untuk menyikapi kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari lebih 17.000 pulau dan anggaran terkait pembinaan peneliti yang rendah. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan melalui pendekatan open and distance learning.

Kegiatan semacam ini akan berlanjut untuk topik-topik lain sebagai wujud pelayanan LIPI sebagai instansi Pembina Jabatan Fungsional Peneliti ke peneliti di 33 provinsi. (Pusbindiklat/pw)



» Arsip
» Diakses : 45 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

Tuesday, June 3, 2014

Badai dengan nama perempuan lebih mematikan

Washington (ANTARA News) - Badai dengan nama perempuan (feminin) tampaknya merenggut lebih banyak kematian ketimbang badai dengan nama laki-laki (maskulin), demikian satu analisis atas lebih dari enam dasawarsa angka kematian akibat badai di Amerika Serikat.

Studi itu, yang disiarkan pada Senin (2/6) di jurnal AS Proceedings of the National Academy of Sciences, mengatakan alasannya sangat sederhana, sebab topan dengan nama perempuan dipandang sebagai menyimpan lebih sedikit firasat dibandingkan dengan nama yang lebih laki-laki.

Akibatnya ialah orang di jalur badai sangat kuat itu melakukan lebih sedikit langkah pencegahan, sehingga mereka lebih rentan terhadap bahaya, kata studi tersebut --yang dipimpin oleh para peneliti dari University of Illionis.

"Masalahnya ialah nama badai tak memiliki kaitan dengan kekuatannya ... (nama itu) diberikan semaunya, berdasarkan daftar yang ditetapkan lebih dulu untuk mengganti nama lelaki dan perempuan," kata penulis utama Kiju Jung, mahasiswa tingkat doktoral dalam bidang pemasaran di Illionis.

"Jika orang di jalur topan kuat menilai resiko berdasarkan namanya, maka ini berpotensi sangat berbahaya," jelas Kiju Jung.

Jung dan rekannya meneliti korban jiwa sesungguhnya akibat semua badai yang mendarat di Amerika Serikat dari 1950 sampai 2012, demikian laporan Xinhua.

Namun studi itu tak memasukkan Badai Katrina (2005) dan Badai Audrey (1957) sebab keduanya jauh lebih mematikan dibandingkan dengan topan khas.

Mereka mendapati bagi badai yang menimbulkan kerusakan sangat besar, makin feminin nama badai, makin banyak orang yang tewas akibatnya. Analisis tersebut menyatakan perubahan nama badai kuat dari maskulin seperti "Charley" menjadi feminin "Eloise" dapat membuat jumlah korban jiwa nyaris tiga kali lipat.

"Dalam menilai kekuatan badai, orang tampaknya menggunakan kepercayaan mereka mengenai bagaimana lelaki dan perempuan berprilaku," kata Sharon Shavitt, profesor bidang pemasaran di Illniois dan penulis bersama laporan itu.

"Ini membuat badai dengan nama perempuan, terutama nama yang sangat feminin seperti Belle atau Cindy, tampak lebih lembut dan tak terlalu kencang."

Dalam serangkaian pengamatan lanjutan, Jung dan rekannya meneliti bagaimana gender nama secara langsung mempengaruhi penilaian orang mengenai topan. Mereka mendapati bahwa orang yang diminta untuk membayangkan berada di jalur "Badai Alexandra", atau "Christina" atau "Victoria", memberi peringkat topan tersebut sebagai tak terlalu beresiko dan kuat dibandingkan dengan mereka yang diminta untuk membayangkan mereka berada di jalur "Badai Alexander", atau "Christopher" atau "Victor".

"Ini adalah temuan yang sangat penting. Bukti positif bahwa kaitan latar belakang budaya kita mengemudikan langkah kita," kata Hazel Rose Markus, profesor dalam ilmu prilaku di Stanford University. Ia tak terlibat dalam penelitian tersebut.

Badai menewaskan lebih dari 200 orang di Amerika Serikat setiap tahun, dan badai kuat mampu merenggut ribuan korban jiwa, kata para peneliti itu.

(C003)



View the Original article