Wednesday, April 23, 2014

MERAKIT VARIETAS BUAH UNGGUL

Merakit Varietas Buah Unggul
Minggu, 20 April 2014

Tanaman triploid lebih tahan penyakit, seperti serangan penggerek batang dan serangan virus.

Teknik kultur jaringan endosperma bisa menghasilkan jumlah produksi buah lebih banyak secara cepat, kualitas seragam, tahan serangan penggerek serta virus, dan buah tanpa biji.

Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Institut Pertanian Bogor (IPB) mencatat konsumsi buah-buahan di negara Jepang dan Malaysia lebih tinggi dibandingkan daging, telur, beras, maupun gandum. Rata-rata tingkat konsumsi buah-buahan di dua negara itu lebih tinggi tiga kali lipat ketimbang konsumsi beras.

Berbeda dengan tingkat konsumsi buah di Indonesia, masih lebih rendah daripada daging, telur, beras, maupun gandum. Maklum, tingkat pendapatan di Jepang dan Malaysia lebih tinggi daripada di Indonesia.

Walaupun demikian, fakta itu seharusnya tidak menjadi alasan rendahnya produksi buah-buahan di Indonesia. Pasalnya, tingginya produksi buah lokal diharapkan dapat membendung produk buah impor.

Pada sisi lain, dengan menanam tanaman buah dalam jumlah banyak, diharapkan dapat mengurangi erosi dan longsor, memperbaiki resapan air, dan mengurangi emisi karbon.

Sejauh ini, dari 60 komoditas buah yang dikembangkan Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), masih dikembangkan 26 komoditas buah. Kementan mencatat dari 26 komoditas buah itu, total produksi sebesar 18.089.952 ton pada 2012. Pencapain produksi tersebut naik 0,99 persen dibandingkan 2011, sebanyak 18.037.554 ton.

Untuk meningkatkan produksi buah tersebut, ada beberapa komoditas yang memiliki potensi untuk ditingkatkan secara signifikan. "Sekitar 10 komoditas bisa dikembangkan potensinya, antara lain pisang, pepaya, nanas, durian, dan alpukat," kata Sobir, guru besar Buah Tropika IPB kepada Koran Jakarta di ruang kerjanya, Bogor, Jawa Barat, Senin (6/1).

Kini PKHT IPB tengah membudidayakan empat jenis buah, yaitu pisang, melon, manggis, dan nanas. Dari jenis empat buah itu, pisang dan melon untuk kebutuhan dalam negeri, sedangkan manggis dan nanas guna keperluan ekspor.

PKHT IPB mulai mengembangkan varietas buah-buahan dimulai dengan pemilihan sumber daya genetik hingga karakterisasi dan evaluasi. Sobir menjelaskan ada beberapa proses pemuliaan verietas buah-buahan setelah karakterisasi dan evaluasi, di antaranya mutasi, hibridisasi, dan transformasi genetik. Masing-masing dari proses tersebut akan diperoleh varietas unggul.

Proses pemuliaan verietas buah-buahan berusaha menciptakan produk yang berkualitas. "Kalau bisa kita berada di atas gelombang tren karena mendahului dan ketinggalan tren juga nggak bagus. Tren kita penampilan menjadi nomor satu, rasa berikutnya, dan kesehatan berikutnya," ujarnya.

Adapun untuk meningkatkan kualitas buah lokal, ada beragam tantangan yang harus dihadapi petani, seperti penyediaan buah-buahan harus selalu segar, dan tampilan fisik yang menarik.

Tampilan fisik buah yang dimaksud yakni rasanya segar dan ukurannya lebih kecil.

"Ke depan, orang makin sibuk, sudah malas melakukan persiapan (memasak makanan). Ke depan akan laku buah-buah fresh cut (potongan segar)," ucap Sobir.

Endosperma

Sementara itu, Pusat Penelitian (Puslit) Biologi, Bidang Botani, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berpendapat standar kualitas buah-buah yang dihasilkan dalam satu areal tanaman tidak seragam.

Kandungan biji dalam buah-buahan lokal juga sebagai kekurangan dibandingkan buah-buahan dari sebagian negara di dunia. Buah-buah berbiji yang dimaksud, seperti pepaya, pisang, delima, srikaya, dan sirsak. Untuk buah berbiji besar, antara lain kedondong, kepel, matoa, nanas, gowok, jamblang.

"Secara ekonomi buah-buahan berbiji kurang laku di pasaran," ucap Lazarus Agus Sukamto, profesor riset Biologi Sel dan Biokimia, LIPI, kepada Koran Jakarta di Puslit Biologi Botani LIPI, Senin (6/1).

Pemulian tanaman triploid bisa menjawab kebutuhan di atas. Pasalnya, tanaman ini dapat menghasilkan buah dengan jumlah produksi lebih banyak secara cepat, standar kualitas yang seragam, dan buah tanpa biji.

Bahkan, tanaman triploid lebih tahan penyakit, seperti serangan penggerek batang dan serangan virus. Selain itu, tanaman ini mencegah persebaran biji tumbuhan pengganggu, tepung sari, bulu-bulu buah penyebab alergi, dan kejatuhan buah.

Tanaman triploid memiliki inti sel dengan tiga set kromoson. Tanaman ini bisa dikembangkan dengan enam teknik, yakni persilangan antara tanaman normal diploid dan tanaman tertraploid, kultur jaringan endosperma, fusi protoplas haploid dengan diploid, kultur tepung sari, induksi radiasi sinar gama, dan induksi kolkisin atau oryzalin.

"Tanaman triploid paling efisien dihasilkan kultur jaringan endosperma," jelas Lazarus.

Buah Berbiji

Namun, kandungan yang terdapat pada buah tanpa biji yang dihasilkan dari tanaman triploid dari beragam teknik termasuk kultur jaringan endosperma yang lebih rendah dibandingkan buah berbiji seperti jeruk.

"Bagaimanapun buah yang berbiji kandungannya lebih besar dibandingkan yang tidak berbiji dan rasa buah berbiji lebih terasa," jelas Sobir.

Jeruk berbiji memunyai diameter lebih besar, ukuran lebih tinggi, tingkat Brix (kandungan gula dari larutan berair) lebih tinggi, volume saat dijus lebih besar, keasaman tidak tinggi, dan lebih matang.

Manfaat biji buah-buahan, papar Sobir, juga tidak sekadar untuk bibit tanaman tersebut. Namun, ini bisa dipakai untuk bahan obat-obatan.

"Unsur-unsur yang terdapat dalam biji baik untuk kesehatan tubuh," ucapnya.

Namun, Agus membantah kandungan buah berbiji lebih tinggi ketimbang buah tanpa biji, seperti semangka. Rasa semangka buah tanpa biji lebih manis dibandingkan semangka berbiji. "Namun, kandungan ini masih diteliti lebih lanjut," jelasnya.

Agus juga berpandangan keseragaman produksi buah dari teknik kultur jaringan endosperma belum tentu seragam. Sebab, ini masih bergantung keseragaman genetik dan kepadatan buah didorong jumlah daun berbeda.

"Pohonnya rindang bisa buahnya sedikit, tapi ukurannya besar. Pohon yang sama bisa dengan buahnya banyak, tapi ukurannya kecil-kecil," urainya.

Sobir meneruskan tidak semua tanaman triploid menghasilkan buah seperti semangka. Walaupun tanaman ini menghasilkan bunga.

"Namun, tanaman ini memerlukan induksi penyerbukan dengan tanaman semangka diploid," tegasnya.

Tanaman jeruk bisa menghasilkan buah dengan inkubalitas. Jadi, tanaman ini tetap diserbuki menjadi buah tanpa biji. mochamad ade maulidin



» Arsip
» Diakses : 49 kali
» Dikirim : 0 kali


View the Original article

KENAPA KANTONG SEMAR MAKAN SERANGGA? INI JAWABAN PENELITI

Kenapa Kantong Semar Makan Serangga? Ini Jawaban Peneliti
Minggu, 20 April 2014

Jakarta- Tanaman biasa memakan kandungan nutrisi unsur hara di tanah. Namun berbeda dengan kantong semar tumbuhan ini bertahan hidup dengan memakan serangga.

"Kenapa kantong semar bisa makan serangga, karena tanaman hidup di tanah marjinal," ujar Peneliti Botani Lipi, Muhamad Mansur di Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Bogor, Jumat (11/4/2014).

Kantong Semar hidup di bawah media tanam yang miskin unsur hara, sehingga memodifikasi daunnya untuk beradaptasi dengan lingkungan.

"Jadi daun itu membentuk kantung yang dibuat sebagai perangkap serangga. Serangga yang masuk ke dalam itu akan terjebak kemudian tanaman ini mengeluarkan enzim untuk mencerna serangga," tuturnya.

Ketua harian Komunitas Tanaman Karnivora Indonesia (KTKI) Putra Septiawan mengatakan setiap serangga yang teperangkap tidak akan mudah keluar dari kantong.

"Di dinding bagian dalam itu sangat licin, tanaman ini memodifikasi bagian seperti cairan prpotelasi," tuturnya.

Menurutnya selain media tanah dan suhu. Jenis serangga yang dimakan sangat mempengaruhi bentuk dan corak pertumbuhan.

"Saking tertariknya saya sampai melihat lokasi tumbuh mereka di alam liar, di situ saya cari tahu mereka hidup dalam suhu berapa, pencahayaannya gimana, karena itu mempengaruhi bentuk dan corak dari nephentes ini," ungkapnnya.



» Arsip
» Diakses : 93 kali
» Dikirim : 0 kali


View the Original article

PENELITI LIPI TEMUKAN TIGA KATAK SPESIES BARU

PENELITI LIPI TEMUKAN TIGA KATAK SPESIES BARU
Minggu, 20 April 2014

Humas P2 Biologi LIPI.Dua orang peneliti herpetofauna LIPI kembali menemukan tiga katak spesies baru dalam kurun waktu triwulan pertama 2014. Penemuan ketiga katak spesies baru tersebut dilaporkan oleh peneliti bidang Zoologi, Pusat Penelitian (P2) Biologi-LIPI yaitu Awal Riyanto dan Hellen Kurniati. Ketiga katak spesies baru yang diberi namaChiromantis trilaksonoi, Chiromantis baladika, dan Chiromantis nauli, terpublikasikan dalam satu artikel ilmiah pada jurnalRussian Journal of Herpetologyvolume 21(1) 2014.

Spesies pertama yaituChiromantis trilaksonoi,yang didedikasikan untuk Wahyu Trilaksono, seorang teknisi laboratorium herpetologi P2 Biologi yang cukup berbakat. Sekaligus pula penghargaan kepada Wahyu karena telah mendapatkan spesimen tersebut di sekitar rumahnya pertengahan April 2011. Wahyu lebih suka namanya diabadikan sebagai nama spesies daripada diikutsertakan dalam penulisan artikel. Katak berukuran 24,5 26 mm memiliki tubuh bagian punggung berwarna cokelat terang dengan variasi garis tak jelas berwarna cokelat gelap membujur, bagian perut putih semitransparan, di atas rahang terdapat garis putih dari segaris tengah mata hingga tengkuk dan selaput terdapat diantara jari ketiga dan keempat tangan.

Spesies kedua adalahChiromantis nauli, diberi nama sesuai dengan lokasi ditemukannya yaitu Teluk Nauli, Sibolga, Sumatera Utara. Spesies ini berwarna cokelat kekuningan polos, pada sisi perut berwarna putih kekuningan dan tidak mempunyai selaput di sela jari tangan.

Terakhir spesies ketiga adalahChiromantis baladika,nama spesies ini diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti prajurit pembela bangsa. Spesies ini dikoleksi dari kolam non permanen pada area kebun sawit di Sumatera Barat. Memiliki punggung berwarna cokelat dengan bercak cokelat gelap kekuningan, sisi perut putih, pada paha terdapat pola tiga buah pita gelap melintang dan terdapat garis kuning dari ujung moncong melewati dorsolateral hingga sela paha.

Sekilas gambaran margaChiromantisyang merupakan kelompok Katak pohon (Rhacophoridae), umumnya berukuran kecil, bersifat arboreal, hidup di habitat yang terganggu hingga hutan primer, bersifat nocturnal dan aktif bernyanyi seusai turun hujan. Ciri khas dari marga ini terletak pada dua jari tangan bagian dalam dan dua jari tangan bagian luar bias ditekuk sehingga dapat saling berhadapan.

Berdasarkan akses bulan Maret padaAmphibian Species of the Worldversi online (http://research.amnh.org/herpetology/amphibia) jumlah spesies dari marga ini sebanyak 15 spesies. Sehingga dengan bertambahnya ketiga spesies baru ini, setidaknya di dunia telah memiliki 18 spesies margaChiromantis. (sw)



» Arsip
» Diakses : 97 kali
» Dikirim : 0 kali


View the Original article

PERBAIKI TERUMBU KARANG, LIPI DAPAT PINJAMAN DARI ADB DAN WORLD BANK

Perbaiki Terumbu Karang, LIPI Dapat Pinjaman dari ADB dan World Bank
Selasa, 22 April 2014

Jakarta - Kondisi Terumbu Karang di Indonesia saat ini 30,4 persen mengalami kerusakan. Melihat hal itu Pusat Penelitian (Puslit) Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuat progam rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang atau lebih dikenal dengan Coral Reefs Rehabilitation an Management Progam atau COREMAP.

Progam itu sendiri mendapat pinjaman uang dari World Bank dan Asian Development Bank (ADB) sebesar Rp 150 miliar untuk jangka waktu 5 tahun.

"Dana itu dibagi lima tahun dimulai dari tahun ini. Jumlahnya tidak besar buat lingkungan. Mereka hanya bantu dana saja, yang mengerjakan dari kita semua," ujar Ahli Peneliti Utama Bidang Terumbu Karang LIPI Prof. Dr. Suharsono di Media Center LIPI, Jakarta, Kamis (17/4).

Ia mengatakan progam tersebut telah berjalan dari tahun 1998 tetapi baru diimplementasikan pada tahun 2002.

Progam COREMAP mempunyai tiga tahap. Tahap pertama yaitu inisiasi selama 6 tahun, lalu tahap kedua internalisasi dan terakhir kelembagaan.

"Nah sekarang ini mulai tahap ketiga.. jadi nanti semua itu mau monitoring dari pemerintah daerah sendiri," ujar Suharsono.

Ia mengatakan kalau mengandalkan dana dari pemerintah untuk penelitian hanya bisa dua lokasi dalam setahun.

"Makanya kita butuh dana dari asing seperti World Bank dan ADP. Kita sebenarnya berharap Pemerintah mau memberikan bantuan dana yang lebih besar lagi. Semboyan kita sederhana 'Karang Sehat, Masyarakat Sejahtera'," ujar Suharsono.

Di tempat yang sama, Peneliti Puslit Kependudukan LIPI Dr Widayatun yang juga tergabung dalam progam COREMAP menuturkan upaya penyelamatan terumbu karang tidak hanya melalui pengamatan semata. Cara lain juga perlu dilakukan seperti pengembangan pendidikan pesisir dan laut, riset dan monitoring sosial ekonomi (Sosek).

Ia mengatakan budang edukasi COREMAP telah menyusun, memproduksi, dan mendistribusikan materi edukasi dalam bentuk seroal buku "Pesisir dan Laut Kita" untuk tingkat SD, SMP, dan SMA atau sederajat. Buku itu juga dilengkapi dengan buku panduan guru dan materi-materi pendukung untuk masing-masing tingkatan.

"Mendiknas sudah memasukkan buku ini dalam Muatan lokal atau mulog," ujar Widayatun.

Ia menjelaskan COREMAP telah melakukan riset dan monitoring sosek masyarakat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Hal itu bertujuan untuk memahami kondisi sosek, permasalahan, dan kebutuhan masyarakat, serta potensi dan alternatif solusi yang berkaitan dengan pengelolaan terumbu karang.

"Kami berharap melalui edukasi dan riset tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk penyelematan terumbu karang," ujar Widayatun.



» Arsip
» Diakses : 74 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

LIPI: 30,4 PERSEN TERUMBU KARANG RUSAK

LIPI: 30,4 Persen Terumbu Karang Rusak
Selasa, 22 April 2014

JAKARTA, (PRLM).- Hasil penelitian Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat, hingga hingga 2013 pada 1.135 stasiun menunjukkan bahwa sebesar 30,4 persen kondisi terumbu karang di Indonesia mengalami kerusakan atau kurang baik.

Demikian terungkap dalam diskusi media bertajuk Riset Ekosistem Terumbu Karang di Indonesia yang berlangsung di Media Center LIPI, Jakarta, Kamis (17/4/2014).

Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Giyanto mengatakan, hanya sebesar 5,29 persen dalam kondisi sangat baik, sebesar 27,14 persen masih dalam kondisi baik, dan sebesar 37,18 persen dalam kondisi cukup.

Meskipun demikian, terlihat ada kecenderungan atau tren kondisi terumbu karang yang semakin membaik apabila dibandingkan dengan pengamatan sejak 1993, ujarnya.

Hadir pada diskusi itu antara lain peneliti senior Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Suharsono dan dua peneliti dari Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, yaitu Deny Hidayati dan Widayatun.

Dijelaskan, program penyelamatan terumbu karang tidak hanya berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga berhasil meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang pentingnya penyelamatan dan pelestarian terumbu karang. LIPI melalui kegiatan Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Ceremap) terus berupaya meminimalkan kondisi terumbu karang Indonesia yang rusak. LIPI telah melakukan pengamatan terumbu karang secara lebih intensif dan berulang di 15 kota/kabupaten.

Giyanto menyebutkan, delapan kota/kabupaten yang diamati di Indonesia bagian barat adalah Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Mentawai, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Riau, Kabupaten Lingga, dan Kota Batam.

Sedangkan, tujuh kota/kabupaten di Indonesia tengah dan timur, yakni Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Kabupaten Selayar, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Selayar, Kabupaten Sikka, Kabupaten Biak Numfor, serta Kabupaten Raja Ampat.

Dia menuturkan, meskipun terjadi penurunan tutupan karang hidup di Nias dan Mentawai, tetapi secara rata-rata hasil pengamatan terumbu karang yang dilakukan di lokasi yang berada di Indonesia bagian barat menunjukkan peningkatan persentase tutupan karang sekitar 4 persen per tahun berdasarkan pengamatan yang dilakukan sejak 2004 hingga 2011.

Penurunan tutupan karang hidup yang terjadi di Nias dan Mentawai lebih disebabkan oleh faktor bencana, yaitu gempa bumi yang diikuti oleh tsunami yang terjadi di akhir 2004, katanya.

Giyanto menambahkan, pada lokasi yang berada di Indonesia bagian tengah dan timur terjadi kondisi yang hampir sama seperti yang terjadi di lokasi Indonesia bagian barat. Walaupun terjadi penurunan tutupan karang hidup di Biak, tetapi secara rata-rata hasil pengamatan terumbu karangnya menunjukkan peningkatan persentase tutupan karang sekitar 3 persen per tahun berdasarkan data pengamatan 2006-2011.

Penurunan tutupan karang hidup yang terjadi di Biak lebih disebabkan oleh faktor bencana, yaitu badai hebat yang terjadi pada 2009 dan peristiwa pemutihan karang (bleaching) yang melanda perairan Biak akibat naiknya temperatur air laut pada 2010, jelasnya.

Sementara itu, peneliti senior Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Suharsono menuturkan, secara umum penyebab rusaknya terumbu karang akibat perilaku manusia dan faktor alam. Dan, kerusakan yang disebabkan perilaku manusia, kondisinya sulit bisa kembali pulih seperti semula.

Peneliti pada Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Deny Hidayati dan Widayatun yang juga tergabung dalam program Ceremap menuturkan, upaya penyelamatan terumbu karang tidak hanya melalui pengamatan semata. Mereka mencontohkan, cara lainnya juga perlu terus dilakukan yakni dengan pengembangan pendidikan pesisir dan laut serta riset dan monitoring sosial ekonomi.

Deny menjelaskan, Bidang Edukasi Ceremap telah menyusun, memproduksi dan mendistribusikan materi edukasi dalam bentuk Serial Buku Pesisir dan Laut Kita untuk tingkat SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK atau sederajat yang dilengkapi dengan buku panduan guru dan materi-materi pendukung untuk masing-masing tingkatan.

Tidak hanya itu, Ceremap juga telah pula melakukan riset dan monitoring sosial ekonomi masyarakat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Ini bertujuan untuk memahami kondisi sosial ekonomi, permasalahan dan kebutuhan masyarakat, serta potensi dan alternatif solusi yang berkaitan dengan pengelolaan terumbu karang.

Diharapkan, melalui edukasi dan riset tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk penyelamatan terumbu karang. (A-94/A-88)***



» Arsip
» Diakses : 11 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

LIPI: 30.4 PERCENT OF CORAL REEFS SEVERELY DAMAGED

LIPI: 30.4 percent of coral reefs severely damaged
Selasa, 22 April 2014

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Study by Indonesian Institute of Sciences (LIPI) through Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP) shows that 30.4 percent of Indonesia's coral reefs are severely damaged and affecting people's life.

Head of Research Center for Oceanography in LIPI, Zainal Arifin said that he and his team made some intensive research in 15 cities and districts.

"We observed coral reefs in eight cities and districts in western Indonesia and seven cities and districts in central and eastern Indonesia," Arifin said recently.

Another researcher, Giyanto explained that eight districts and cities in western Indonesia were Tapanuli Tengah, Nias, Nias Selatan, Mentawai, Natuna, Riau islands, Lingga and Batam, while seven districts and cities in central and eastern Indonesia were Pangkep islands, Selayar, Wakatobi, Sikka, Biak Numfor and Raja Ampat.

Coral reefs damage in Nias and Mentawai that is caused by earthquake and tsunami in 2004. But, based on study between 2006-2013, coral reefs in western Indonesia increase four percent per year while in western part of Indonesia the increase reaches three percent per year.



» Arsip
» Diakses : 10 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

HANYA 5,29 PERSEN TERUMBU KARANG MASIH SANGAT BAIK

Hanya 5,29 persen terumbu karang masih sangat baik
Selasa, 22 April 2014

Jakarta (ANTARA News) - Dari total luas area terumbu karang 25.178,58 kilometer persegi di perairan Indonesia, hanya 5,29 persennya saja yang masih dalam kondisi sangat baik.

Peneliti pada Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Giyanto di Jakarta, Jumat, mengatakan berdasarkan pengamatan di 1.135 stasiun menunjukkan hanya 5,29 persen terumbu karang dalam kondisi sangat baik, sedangkan 30,4 persen rusak.

Pengamatan Pusat Penelitian Oseanografi LIPI secara lebih intensif dan berulang di 15 kabupaten/kota juga menunjukkan 27,14 persen terumbu karang masih dalam kondisi baik, dan 37,18 persen dalam kondisi cukup.

"Walau ada tutupan terumbu karang yang berkurang di beberapa tempat tapi jika diamati justru terlihat ada kecenderungan atau tren kondisi terumbu karang yang semakin membaik bila dibandingkan dengan pengamatan sejak 1993," ujar dia.

Lebih lanjut, ia mengatakan delapan kabupaten/kota yang menjadi lokasi pengamatan di Indonesia bagian barat adalah Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Mentawai, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Riau, Kabupaten Lingga, dan Kota Batam.

Sedangkan tujuh kabupaten/kota di Indonesia tengah dan timur yakni Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Kabupaten Selayar, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Selayar, Kabupaten Sikka, Kabupaten Biak Numfor, serta Kabupaten Raja Ampat.

Dari pengamatan 2004--2011, ia mengatakan terlihat ada penurunan tutupan karang hidup di Nias dan Mentawai, meski secara rata-rata menunjukkan peningkatan persentase tutupan karang sekitar empat persen per tahun.

"Penurunan tutupan karang hidup yang terjadi di Nias dan Mentawai lebih disebabkan oleh faktor bencana yaitu gempa bumi yang diikuti oleh tsunami yang terjadi di akhir 2004," ujar dia.

Di Indonesia bagian tengah dan timur terjadi kondisi yang hampir sama seperti yang terjadi di lokasi Indonesia bagian barat. Walaupun terjadi penurunan tutupan karang hidup di Biak, namun menurut dia, secara rata-rata hasil pengamatan terumbu karang menunjukkan peningkatan persentase tutupan karang sekitar tiga persen per tahun.

"Penurunan tutupan karang hidup yang terjadi di Biak lebih disebabkan oleh faktor bencana yaitu badai hebat yang terjadi pada tahun 2009 dan peristiwa pemutihan karang (bleaching) yang melanda perairan Biak akibat naiknya temperatur air laut pada 2010," lanjutnya.



» Arsip
» Diakses : 25 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article