Monday, September 23, 2013

Pentingnya Center of Excellence di Tiap Daerah, Agar Penduduk Lokal Tidak Hijrah Ke Jakarta

Category: Berita Kebijakan Teknologi

“Sebagai salah satu mitra kerja, BPPT memaknai Daerah sebagai entitas utuh dari Pemerintah Daerah (eksekutif dan legislatif ), dunia usaha, perguruan tinggi dan masyarakat di daerah tersebut. Oleh karenanya, pengkajian dan penerapan teknologi di BPPT juga didasari dari apa kebutuhan suatu daerah.  BPPT juga  berkontribusi ke daerah secara terintegrasi melibatkan seluruh unit kerja yang relevan dengan tema prioritas pembangunan di daerah tertentu,” demikian ungkap Kepala BPPT, Marzan A. Iskandar kala mengawali  Workshop "Praktik Baik: Kebijakan Inovatif Untuk Mempercepat dan Memperluas Pembangunan Ekonomi di Daerah Otonom" di Pekalongan, Jawa Tengah, (20/9).

Senada dengan Menko Perekonomian RI, M. Hatta Rajasa yang sebelumnya membuka acara ini, Kepala BPPT juga kembali menegaskan bahwa Iptek dan inovasi adalah salah satu faktor penentu keberhasilan dalam membangun daya saing dan kesejahteraan  bangsa Indonesia. “Oleh karenanya kita perlu mendorong adanya kolaborasi dengan sinergi positif antar pemerintah, akademisi  dan kalangan bisnis dalam hal pengembangan Iptek dan inovasi ,” terangnya.

 Kepala BPPT  kemudian mencontohkan sinergi positif yang telah diinisiasi BPPT dengan beberapa mitra daerah, yakni; Pengembangan ekowisata Bono dan Pembangunan kawasan  Teknopolitan berbasis energi biomassa  di Kab.Pelalawan , Pengembangan klaster industri bambu pendukung Geopark Batur di Kab.Bangli dan Pengembangan Klaster Industri kreatif  di Kota Cimahi. Kemudian di Kota Pekalongan juga BPPT bersinergi dalam hal Budidaya Ikan  di pesisir laut serta Pengembangan Layanan Kesehatan dan Industri berbasis Obat Alam.

Dengan adanya kerjasama kemitraan seperti ini,  Marzan juga mengharapkan dibangunnya center of excellence guna meningkatkan kreativitas dan yang tinggi untuk menghasilkan inovasi. Sehingga pembangunan di daerah akan maju dan tersedia lapangan kerja baru. “Jika lapangan kerja baru telah tercipta, maka penduduk lokal tidak perlu ke Jakarta. Mereka harus berkreasi untuk membangun daerahnya masing-masing,” ungkapnya.

Marzan pun mengingatkan bahwa kalau pusat unggulandi daerah tidak diwujudkan,  maka fenomena menumpuknya orang-orang dengan kualitas terbaik hanya mau bekerja di Jakarta, tidak akan bisa berubah. “Kita ingin, dengan program sistem inovasi daerah ini, di setiap daerah dapat tercipta pusat unggulan baru berdasarkan potensi dan ciri khas daerah masing-masing. Hal ini pun dapat mendorong pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI),” tutupnya.

Adapun pada acara ini juga di deklarasikan Pencanangan Gerbang Indah Nusantara (Gerakan membangun sistem inovasi, daya saing dan kohesi sosial di seluruh wilayah nusantara)   yang dibacakan oleh Walikota Pekalongan M. Basyir Ahmad serta diluncurkan website resmi  Gerbang Indah Nusantara yang dapat dikunjungi pada laman http://portal.gin.web.id/. Website ini pun secara resmi diluncurkan oleh Menko Perekonomian, M. Hatta Rajasa, yang juga disaksikan oleh Kepala BPPT dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.(SYRA/humas)



View the Original article

Teknologi Modifikasi Cuaca Bantu Cegah Hujan Pada Pembukaan ISG 2013

Category: Berita Teknologi Sumberdaya Alam & Kebencanaan

Seiring dengan keberhasilan pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca (TMC) di berbagai daerah di tanah air, kali ini UPT Hujan Buatan (UPTHB) BPPT turut membantu mengamankan acara Pembukaan Islamic Solidarity Games (ISG) III 2013 di Stadion Sriwijaya Kompleks Olahraga Jakabaring Palembang. Dengan izin dari Yang Maha Kuasa dan kerja keras seluruh awak UPTHB-BPPT, acara pembukaan ISG ini berlangsung sukses tanpa disertai turunnya hujan (22/9).

Kepala UPTHB BPPT, F.Heru Widodo mengatakan bahwa kegiatan TMC guna mengamankan pembukaan ISG di Gelora Jakabaring Palembang. “Hari Minggu ini  telah dilakukan 6 sorti penerbangan yang di mulai terbang dari sekitar jam 10 s.d jam 17.00 sore menggunakan metode jumping proses dan overseed seeding agar awan turun hujan atau buyar,” ungkap Heru.

Pada pelaksanaan ISG 2013 ini BPPT dan BNPB diminta mengamankan pelaksanaan Islamic Solidarity Games (ISG) Palembang dengan menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (Hujan Buatan) dari gangguan asap dan curah hujan yang berlangsung dari tanggal 18 September s.d 1 Oktober 2013.  Heru menguraikan bahwa UPTHB BPPT menerapkan redistribusi curah hujan dengan metode Jumping Process dan metode Kompetisi untuk mengganggu pertumbuhan awan. “Metode ini sama dengan yang diterapkan saat mengurangi banjir di DKI Jakarta awal tahun 2013 ini serta saat pelaksanaan Sea Games th 2011 di Palembang. Pada pelaksanaan ini, BPPT mengerahkan 2 pesawat Casa milik BPPT dan 6 peralatan GPG dan 6 pohon flare,” paparnya.

Adapun Posko kegiatan TMC kali ini diposisikan di  Lanud Palembang. “Hari Minggu kemarin, selain melakukan sorti penerbangan, guna mencegah turunnya hujan digunakan 6 Ground Particles Generator dan 6 pohon flare yang mulai dibakar dari jam 8 pagi sampai jam 22 malam untuk menjalankan metode kompetisi agar awan mandul dan tidak berkembang,” jelas Heru. (SYRA/humas) 



View the Original article

LIPI GAET GIANT WONGKAR BIMBING PELUKIS MUDA DI AMBON

LIPI Gaet Giant Wongkar Bimbing Pelukis Muda di Ambon
Senin, 23 September 2013

Ambon, Tribun-Maluku.com : Balai Konservasi Biota Laut (BKBL) LIPI Ambon menggaet pelukis sketsa objek mahkluk hidup, Giant Tumalun Wongkar, untuk membimbing pelukis muda di Ambon melukis biota laut.

"Beliau sangat berpengalaman dalam melukis sketsa mahkluk hidup, dibawah bimbingannya kami berharap nantinya ada pelukis-pelukis muda di sini yang bisa membuat lukisan biota laut dalam bentuk tiga dimensi (3D)," kata Kepala BKBL LIPI Ambon Augy Syahailatua di Ambon, Kamis (19/9).

Ia mengatakan, meski memiliki nilai seni yang tinggi, melukis objek hidup dalam bentuk tiga dimensi secara langsung sangatlah tidak mudah, diperlukan kesabaran dan ketelitian untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal, terutama keakuratan pola, gambar dan diameter objek lukisan yang sesuai dengan aslinya.

Oleh karena itu, tak hanya sekedar menggelar lokakarya melukis biota laut, LIPI Ambon juga berencana membentuk komunitas pelukis biota laut dalam Gerakan Menuju Ambon Ilmiah (GEMAI), yang terdiri dari siswa SD - SMP dan mahasiswa yang memenangkan lomba lukis "Pesona Kota Ambon" pada 13 September 2013.

"Para pelajar dan mahasiswa yang kami kumpulkan ini sangat berbakat, mereka hanya perlu dibimbing secara profesional, dengan menjadi satu komunitas, mereka bisa membuat pertemuan rutin dalam periode tiga atau enam bulan sekali, untuk mengukur progres yang sudah dicapai," katanya.

Menurut Augy, pembentukan komunitas tersebut dimaksudkan di bawah bimbingan Giant Wongkar, diharapkan dalam waktu satu atau dua tahun ke depan para pelukis muda itu sudah dapat membuat koleksi lukisan biota laut khas Maluku.

"Kami berharap satu atau dua tahun ke depan mereka sudah bisa berkarya. Mungkin nantinya karya mereka akan dipamerkan dalam bentuk pameran lukisan, dibukukan sebagai dokumentasi koleksi lukisan biota laut atau juga bisa dicetak ulang (repro) menjadi kartu pos," ucapnya. (ant/tm)



» Arsip
» Diakses : 3 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

LIPI SIAPKAN PENJERNIH AIR GAMBUT

LIPI Siapkan Penjernih Air Gambut
Senin, 23 September 2013

PEKANBARU (RP) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menyiapkan instalasi pengolahan air gambut. Bekerja sama dengan Balitbang Riau dalam Riau Expo 2013, LIPI berharap alat pengolah air gambut ini dapat dimaksimalkan di Riau.

Kita juga sudah siapkan alat penjernih ini dengan sistem mobile menggunakan truk. Diharapkan tentu dapat menjangkau ke desa-desa, ujar Peneliti Instrumentasi dan Kontrol LIPI, Sutrisno Salomo kepada Riau Pos, Rabu (18/9) di stan Balitbang Riau pada Riau Expo.

Sutrisno menyebutkan, alat ini bekerja dengan menggunakan kombinasi metoda Aop + ro (advance oxidation process and reverse osmosis). Pengembangannya sudah dilakukan sejak tahun 2012 lalu dengan mengambil sampel air di Rimbo Panjang, Kampar.

Jadi cocok dan sudah bisa diterapkan untuk kondisi air di Riau, ujarnya.

Mesin ini bisa mengolah air gambut sebanyak 100 liter perjam. Dengan kapasitas yang masih kecil dan terbatas, mesin ini memang hanya cocok untuk kalangan pedesaan. Namun dengan pengembangan lebih lanjut, LIPI siap menambah kapasitasnya.

Perbedaan mesin buatan LIPI ini dengan mesin yang digunakan PDAM adalah pada konsep tak ada bahan kimia yang digunakan. Mesin ini hanya menggunakan listrik berkekuatan 3.600 watt untuk menjernihkan airnya.

Kepala Balitbang Riau Prof Dr Tengku Dahril MSc menyambut baik inovasi yang dikembangkan LIPI. Dia berharap, ini dapat menjadi solusi bagi kondisi air gambut yang banyak terdapat di Riau dan saat ini masih sulit untuk diatasi.(muh)



» Arsip
» Diakses : 7 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

Saturday, September 21, 2013

BALITBANG RIAU DAN LIPI KEMBANGKAN TANAMAN SORGUM

Balitbang Riau dan LIPI Kembangkan Tanaman Sorgum
Jumat, 20 September 2013

Pekanbaru, InfoPublik Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Riau, bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), telah mengembangkan tanaman Sorgum karena jenis tanaman tersebut dapat dijadikan bahan energi alternatif.

Tanaman Sorgum tersebut, sempat ditampilkan di stand Balitbang Prov Riau dalam Riau Expo, yang saat ini sedang berlangsung di Pekanbaru.

Mengenai pengembangan tanaman Sorgum tersebut, disampaikan oleh Adityo Wicaksono, staf Pusat Inovasi LIPI, dalam wawancara dengan mediacenter@riau.go.id, di Arena Riau Expo 2013 Bandar Seni Raja Ali Haji atau Purna MTQ Jalan Jenseral Sudirman Pekanbaru, Kamis (19/9).

Dijelaskan Adityo Wicaksono, kedepannya minyak bumi yang merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui akan habis, dan harus mencari energi alternatif yang murah dan ramah lingkungan, salah satu di antaranya adalah bioetanol dari tanaman sorgum.

Adittyo Wicaksono menambahkan tanaman Sorgum yang tingginya bisa mencapai 5 meter ini hampir sama dengan tebu, airnya digunakan untuk sumber bio etanol, sedangkan ampasnya untuk pakan ternak.(MC Riau/Tri/toeb)



» Arsip
» Diakses : 28 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

Friday, September 20, 2013

PT. PETROSIDA GRESIK GANDENG BPPT UNTUK MEMBANGUN INDUSTRI ENZIM

Category: Berita Teknologi Agroindustri & Bioteknologi

Saat ini sebagian besar produk enzim untuk industri (99%) masih diimpor dari luar negeri. Nilai pasar perdagangan enzim dunia pada tahun 2015 diperkirakan mencapai   4,4  milyar US dollar. Sedangkan konsumsi enzim untuk industri di dalam negeri dengan pertumbuhan volume 4-6% per tahun, diperkirakan mencapai sekitar 2.500 ton pada tahun 2015  dengan nilai impor sebesar Rp 187,5 Milyar. Kebutuhan ini akan cenderung meningkat seiring dengan makin berkembangnya industri di tanah air dan kesadaran masyarakat terhadap produk yang ramah lingkungan. Aplikasi teknologi enzim dibutuhkan untuk mendukung proses produksi yang bersih dan berwawasan lingkungan (green industry). Ini merupakan peluang bisnis sehingga PT. Petrosida tertarik untuk membangun industri enzim nasional dengan dukungan teknologi dari BPPT guna memenuhi kebutuhan enzim dalam negeri dan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap enzim impor. Demikian penjelasan Dwi Tjahjo Juniarto, Direktur Utama PT. Petrosida Gresik dalam sambutannya di sela-sela acara penandatanganan  Kontrak Kerjasama antara PT. Petrosida Gresik dengan BPPT tentang Konsultasi Teknis dan Alih Teknologi Produksi Enzim di PT. Petrosida Gresik, Gresik pada tanggal 18 September 2013.

Direktur Pusat Teknologi Bioindustri, Retno Dumilah Esti Widjayanti menegaskan bahwa penandatanganan Kontrak Kerjasama antara BPPT dengan PT. Petrosida Gresik ini merupakan tindaklanjut/implementasi dari Kesepakatan Bersama antara BPPT dengan PT. Petrosida Gresik yang telah ditandatangani oleh Ka. BPPT dan Dirut PT. Petrosida Gresik pada tanggal 13 November 2012 di Jakarta. Pusat Teknologi Bioindustri siap memberikan dukungan teknologi kepada PT. Petrosida Gresik untuk pembangunan unit produksi enzim di Bio Center, Kawasan Industri Gresik. Lebih lanjut, Kepala BE YBS. Sananugraha menyampaikan apresiasi kepada PT. Petrosida Gresik atas kepercayaannya menggunakan teknologi BPPT untuk mengembangkan salah satu unit produksinya.

Acara penandatanganan kontrak kerjasama tersebut juga dihadiri dan disaksikan oleh Deputi Kepala BPPT Bidang TAB. Dalam sambutannya, Listyani Wijayanti menjelaskan bahwa kerjasama ini sangat strategis karena terkait dengan peran BPPT yaitu solusi dan intermediasi teknologi, dimana BPPT sebagai salah satu lembaga penyedia teknologi memberikan solusi dan akses kepada industri untuk memanfaatkan sumberdaya dan hasil rekayasa teknologi yang ada di BPPT. Saat ini bangsa Indonesia sedang mengubah status dari efficiency-driven economies menjadi innovation  driven economies yaitu pembangunan ekonomi yang didasarkan pada inovasi. Dengan demikian inovasi teknologi menjadi kata kunci dan salah satu tool untuk mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Dalam kerangka sistem inovasi, dibutuhkan adanya sinergi positif ABG (Academician, Business, Government) yaitu antara lembaga penyedia teknologi, pemerintah yang mengatur regulasinya dan pihak industri sebagai pengguna teknologi untuk secara bersama-sama dan bersinergi melakukan kegiatan pengembangan dan penerapan teknologi dalam rangka mendukung pembangunan nasional. Dalam kaitan ini, BPPT yang mengembangkan inovasi teknologi berbasis kemitraan, ke depan akan semakin proaktif untuk merapat ke industri dalam rangka mendukung pemanfaatan dan komersialisasi hasil rekayasa teknologi,” tegas Listyani Wijayanti. Di akhir sambutannya, Listyani Wijayanti menyatakan bahwa beberapa produk bioteknologi yang telah dikembangkan BPPT siap untuk dikerjasamakan dan diaplikasikan pada skala industri/komersial. Turut hadir dalam acara tersebut jajaran direksi PT. Petrosida Gresik beserta karyawan.



View the Original article

BPPT REKRUT 150 RELAWAN MUDA BERINOVASI DI PEKALONGAN

Category: Berita Kebijakan Teknologi

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kembali merekrut anak-anak muda yang berstatus mahasiswa sebagai relawan muda berinovasi di Kota Batik Pekalongan. Serangkaian pelatihan dilakukan bagi sekitar 150 mahasiswa, diharapkan relawan inovasi ini menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat untuk mendukung sistem inovasi daerah. Pada angkatan kedua calon relawan muda berinovasi ini, sejumlah mahasiswa Universitas Diponegoro yang sudah didaulat sebagai relawan muda berinovasi dilibatkan.

Deputi Kepala BPPT Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi Tatang A Taufik mengatakan gerakan relawan muda berinovasi ini menjadi bagian dari upaya penguatan sistem inovasi di daerah terutama di usia muda. "Gerakan relawan muda berinovasi di Pekalongan ini sudah kedua kalinya digelar, pertama kali dilakukan Juni 2012. Melalui gerakan ini ada nilai yang ditanamkan kepada mereka," katanya di sela acara Gerakan Relawan Muda Berinovasi, di Pekalongan, Kamis (19/6).

Tatang menambahkan, kegiatan ini diharapkan mendekatkan inovasi kepada generasi muda, sehingga mereka dapat menciptakan kreativitas. Inovasi yang dimaksud memiliki segmen yang luas seperti di bidang lingkungan hidup atau pun teknologi informasi dan komunikasi.

Sementara itu, dari kegiatan serupa yang sudah dilakukan tahun lalu, sebagian besar masih dalam proses inovasi. Terkait batik yang menjadi ikon Pekalongan, mahasiswa berhasil mengembangkan pewarna alami untuk proses pembuatan batik. "Nantinya diharapkan peran mereka beragam melalui berbagai kegiatan sesuai profesinya dan bermanfaat bagi lingkungan yang inovatif," ujarnya.

Sekretaris Daerah Kota Pekalongan Dwi Arie Putranto mengungkapkan kegiatan yang baru diperkenalkan tahun lalu ini sejalan dengan misi pemerintah kota Pekalongan untuk membangkitkan kreativitas dan inovasi pemuda dan memberdayakan masyarakat.

Untuk mendukung percepatan inovasi daerah Dwi mengaku, pemerintah Kota Pekalongan memberikan dukungan dana hibah bersaing bagi kelompok yang memiliki usulan proposal kreatif.

"Dalam banyak hal, kita mengarahkan relawan muda berinovasi agar dapat memberikan solusi kepada masyarakat," ujarnya. Apalagi di sektor lingkungan hidup tambahnya, batik selain memiliki sisi positif juga memiliki masalah ketika limbah pewarnaan tidak diolah secara optimal dan malah dibuang ke sungai.

Para relawan muda berinovasi ini setidaknya bisa menjadi corong bagi pengrajin batik agar memanfaatkan tiga instalasi pengolahan limbah yang dibuat pemerintah. Sementara itu, terkait perekrutan relawan muda berinovasi lanjut Tatang, di sejumlah wilayah pun sudah dilakukan seperti di Universitas Diponegoro sebanyak 120 mahasiswa, Cimahi 40 orang, Pelalawan 80 orang, Gresik dan Pagar Alam 350 orang.



View the Original article