Friday, June 20, 2014

JENIS BARU KATAK POHON DITEMUKAN DI SUMATERA, PUNYA TANDUK!

Jenis Baru Katak Pohon Ditemukan di Sumatera, Punya Tanduk!
Kamis, 19 Juni 2014

KOMPAS.com Spesies baru katak unik ditemukan di hutan wilayah Sumatera. Masuk golongan katak pohon, spesies baru tersebut memiliki tonjolan di dekat telinga, menyerupai tanduk.

Katak yang kemudian dinamai Polypedates pseudotilophus itu ditemukan oleh peneliti amfibi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Amir Hamidy.

Awalnya, saat mengambil studi program doktoral di Jepang, Amir melakukan analisis genetik pada katak pohon bertanduk dari Kalimantan dan Sumatera.

Sebelumnya, katak pohon bertanduk dari Kalimantan (Polypedates otilophus) dan dari Sumatera (Polypedates pseudotilophus) dikategorikan sebagai spesies yang sama.

"Hasil analisis menunjukkan bahwa katak dari Borneo dan Sumatera berbeda sehingga bisa dinyatakan sebagai spesies yang berbeda juga," terang Amir.

Amir kemudian melakukan analisis morfologi pada spesimen katak pohon bertanduk yang ada di Museum Zoologi Bogor di Cibinong.

Dari analisis itu, Amir mengetahui bahwa katak pohon bertanduk dari Kalimantan dan Sumatera memang memiliki perbedaan yang signifikan.

Katak pohon bertanduk memiliki ciri khas berupa struktur serupa tanduk di dekat telinga. "Tanduk" itu merupakan tonjolan tulang.

"Katak dari Sumatera memiliki tanduk yang jauh lebih pendek daripada yang dari Borneo," ungkap Amir saat dihubungi Kompas.com, Kamis (12/6/2014).

Spesies P otilophus memiliki tonjolan tulang sepanjang 3 mm, sementara jenis P pseudotilophus punya "tanduk" sepanjang 1,5 mm.

Amir bersama rekan peneliti dari Jepang menyatakan kebaruan spesies P pseudotilophus dalam jurnal Species Diversity pada 25 Mei 2014.

Nama spesies pseudotilophus dipilih karena jenis tersebut sempat dianggap spesies yang sama dengan P otilophus.

Amir mengungkapkan, katak pohon bertanduk adalah spesies khas Indonesia. "Hanya ditemukan di Borneo, Sumatera, dan Jawa," katanya.

Untuk jenis yang hidup di Jawa, ilmuwan belum melakukan riset sehingga belum diketahui apakah merupakan jenis yang sama atau berbeda dengan di Sumatera dan Kalimantan.

P pseudotilophus dan P otilophus adalah jenis katak yang telah lama hidup di pohon dan mampu beradaptasi dengan baik.

Karakteristik katak yang menunjukkan adanya adaptasi antara lain jari kaki. "Jari-jari katak ini memiliki bantalan sehingga bisa merekat dengan pohon," ungkap Amir.

Ciri lain adalah "tanduk" itu sendiri. "Saya menduga ini berguna sebagai anti-predator," tutur Amir.

Menurut Amir, tonjolan tulang membuat ular pohon menjadi lebih sulit memangsa kedua jenis katak itu.

Kedua jenis katak itu bisa ditemukan, baik di hutan primer maupun sekunder, tetapi hampir tak pernah ditemukan di wilayah yang memungkinkan kontak langsung dengan manusia.

Dengan adanya perusakan hutan, katak spesies baru ini juga menghadapi ancaman. "kalau hutan Sumatera hilang, katak baru ini juga tidak bisa hidup," kata Amir.



View the Original article

PENELITIAN LP2LD TERHAMBAT PENGURANGAN ANGGARAN LIPI

Penelitian LP2LD Terhambat Pengurangan Anggaran LIPI
Jumat, 20 Juni 2014

Ambon, Tribun-Maluku.com : Sejumlah penelitian yang dilakukan Lembaga Pusat Penelitian Laut Dalam (LP2LD) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Ambon terhambat, pascapengurangan anggaran non-operasional LIPI sebesar 50 persen oleh Sekretaris Kabinet (1/6).

"Kemungkinan pengurangan anggaran ini karena kondisi keuangan, untuk menjaga kondisi keuangan tetap stabil selama pemilihan presiden dan wakil presiden (Plilpres), jadi negara bisa mempunyai banyak cadangan dana," kata Kepala LP2LD LIPI Augy Syahailatua di Ambon, Kamis (19/6).

Dikatakannya pengurangan anggaran non-operasional LIPI yang digunakan untuk mendanai penelitian, perbaikan infrastruktur, pengembangan dan pengadaan sarana prasarana penelitian dan sebagainya, sebesar 50 persen, itu jumlahnya melebihi Rp1 miliar.

Akibat pengurangan tersebut, sejumlah penelitian lapangan yang sedang dilakukan terpaksa dihentikan, beberapa tahap dari penelitian tersebut kemungkinan harus diulang kembali dari awal.

Augy mencontohkan percobaan pembudidayaan rumput laut jenis Eucheuma cottonii di Desa Jikumarasa, Pulau Buru. Masa panen rumput laut asli Filipina itu hanya 45 hari, akibat tidak adanya anggaran, para peneliti tidak bisa memantau hasil pembudidayaan tersebut.

"Kami belum tahu pengurangan anggaran ini akan berlangsung berapa lama, permanen ataukah sementara. Biasanya selama ini pemblokiran anggaran hanya sebesar 15 persen, tapi kali ini sangat luar biasa, yakni 50 persen dan jumlahnya itu lebih dari Rp1 miliar, mudah-mudahan kebijakan ini segera dicabut," katanya.

Lebih lanjut Augy mengatakan dampak dari pengurangan anggaran itu juga terjadi pada sejumlah penelitian lapangan yang telah direncanakan dan perjalanan dinas para peneliti, terpaksa ditunda selama waktu yang tidak bisa dipastikan.

"Dampaknya cukup besar bagi kami, karena tidak ada anggaran, saat ini para peneliti kami hanya dapat melakukan riset yang bisa dikerjakan di dalam laboratorium," ucapnya. (ant/tm)



» Arsip
» Diakses : 39 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

LIPI BERI PELATIHAN BIOGAS KEPADA PETERNAK MTN

LIPI Beri Pelatihan Biogas Kepada Peternak MTN
Jumat, 20 Juni 2014

SUBANG, (PRLM).- LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bekerja sama dengan MTN (Masyarakat Ternak Nusantara) beri pelatihan biogas kepada 15 peternak MTN. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan limbah dari kotoran hewan dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif ramah lingkungan pengganti minyak tanah, LPG, batu bara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil.

Yanta, Supervisor Masyarakat Ternak Nusantara menuturkan bahwa setelah kegiatan ini para peternak akan mengembangkan ilmu yang telah diajarkan di rumah masing-masing. Para peternak sangat antusias hingga mereka tertarik menerapkannya di rumah, tutur Yanta, Kamis (19/6/2014).

Peralatan dan bahan yang digunakan dalam pelatihan ini sangat sederhana yaitu dua ember, kotoran domba, air serta EM4. Dikutip dari Yose Rizal, perwakilan LIPI Subang saat mengisi pelatihan di kampung Cilangkap Desa Manyeti Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang mengatakan, Meski dengan peralatan sederhana serta masih skala kecil, jika masyarakat sungguh-sungguh memanfaatkannya, maka biogas ini kedepannya dapat membantu meringankan kebutuhan peternak akan sumber energi, ujarnya.

Sepanjang 2014, MTN telah menyalurkan 534 domba untuk 89 peternak di lima daerah binaan MTN, yaitu Subang, Lembang, Garut, Tasikmalaya dan Oraytapa. Domba tersebut terdiri dari 89 jantan dan 445 betina.

MTN bergerak dalam bidang agropreneur yang memberikan pendampingan dan pelatihan bagi para peternak lokal serta membuka akses pemasaran hewan ternak baik dalam maupun luar negeri. Bekerja sama dengan para mitra swasta dan pemerintah, MTN berupaya untuk menghasilkan hewan-hewan ternak kualitas terbaik. (A-147)***



» Arsip
» Diakses : 48 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

Wednesday, June 18, 2014

WURI WURYANI, KIBARKAN NAMA LIPI DI KANCAH INTERNASIONAL

Wuri Wuryani, Kibarkan Nama LIPI di Kancah Internasional
Rabu, 18 Juni 2014

(Jakarta Humas LIPI). Rasa bangga patut disematkan kepada peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang satu ini. Dia adalah Dr. Wuri Wuryani, peneliti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI. Wuri merupakan salah satu orang yang berkontribusi dalam raihan penghargaan Nobel Perdamaian yang diperoleh oleh Organisasi Pelarangan Senjata Kimia atau Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) belum lama ini.

Wuri pun merasa bangga atas kontribusinya dalam organisasi tersebut karena membawa nama LIPI di ranah internasional. Saya senang atas hadiah Nobel Perdamaian yang diberikan kepada OPCW. Itu artinya hasil kerja kami (saya yang juga terlibat dalam tim) selama ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa, ungkapnya, Selasa (10/6) lalu saat dihubungi via telepon oleh Humas LIPI.

Ia mengungkapkan, OPCW meraih Nobel itu setelah The Norwegian Nobel Committee memutuskan untuk menganugerahkan Hadiah Nobel Perdamaian 2013 kepada organisasi tersebut berkat upayanya yang konsisten dan terus menerus untuk memusnahkan senjata kimia.

Dikatakan Wuri, dirinya sendiri bekerja di organisasi pelarangan senjata kimia itu sejak 1999 hingga 2009. Saya menjadi salah seorang inspektur di OPCW, tambahnya.

Tugas Berat OPCW

Ibu dua putera itu menjelaskan, OPCW merupakan sebuah organisasi yang memiliki tugas berat, namun mulia yaitu bertindak sebagai pengawas pelarangan senjata kimia dalam lingkup global. Organisasi tersebut dibentuk oleh negara-negara yang telah meratifikasi trakat internasional atau dikenal dengan Konvensi Tentang Pelarangan Pengembangan, Produksi, Penimbunan, dan Penggunaan Senjata Kimia Serta Tentang Pemusnahannya yang disingkat menjadi Konvensi Senjata Kimia (KSK).

Tujuan dari pembentukan organisasi ini, antara lain agar mandat yang diemban KSK dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuannya. Sekretariat Teknis OPCW berkedudukan di den Haag, Belanda dan telah berfungsi penuh sejak KSK diberlakukan (entry into force) yaitu terhitung sejak 29 April 1997.

Semenjak diberlakukannya KSK tersebut, telah dilakukan lebih dari 5.000 inspeksi pada ratusan fasilitas yang aktivitasnya terkait dengan senjata kimia dan mencakup hampir 2.000 kawasan industri di 86 negara anggota yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

OPCW telah memverifikasi penghancuran lebih dari 80 persen senjata kimia yang dideklarasikan oleh negara pemiliknya. Selain itu, OPCW juga mengimplementasi berbagai cara agar senjata ini tidak dibuat kembali.

Pemerintah RI sendiri bersama dengan 129 negara lainnya menandatangani Konvensi ini pada 13 Januari 1993 di kota Paris. Selanjutnya dengan mengacu pada UU Nomor 6 Tahun 1998, Pemerintah RI menyerahkan perangkat ratifikasinya KSK ke Sekjen PBB pada 12 November 1998. Dengan kata lain semenjak lima belas tahun yang lalu, Indonesia telah menjadi anggota atau Negara Pihak pada OPCW. (pw)

» Sumber : Humas LIPI

» Kontak : Wuryani



» Arsip
» Diakses : 229 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

Tuesday, June 17, 2014

KETIMPANGAN EKONOMI DI INDONESIA TERUS MENINGKAT

Ketimpangan Ekonomi di Indonesia Terus Meningkat
Selasa, 17 Juni 2014

Jakarta - Pakar ekonomi dari University of London Prof Anna Booth mengatakan ketimpangan ekonomi di Tanah Air semakin meningkat.

"Ketimpangan ekonomi dari era pemerintahan Soeharto hingga Susilo Bambang Yudhoyono mengalami peningkatan," ujar Anna Booth dalam seminar ekonomi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta, Jumat (13/6).

Booth mengutip data Badan Pusat Statistik bahwa angka kemiskinan mengalami penurunan dari 40 persen pada 1976 menjadi 11,36 persen pada 1998.

Namun pasca pemerintahan Soeharto, BPS menyatakan persentase kemiskinan pada 1998 berubah dari 11,36 persen menjadi 17,5 persen.

Booth menambahkan dari beberapa data yang disajikan lembaga survei mengenai kemiskinan di Tanah Air ditemukan tren ketimpangan.

Pengukuran di Tanah Air berdasarkan pengeluaran perkapita, yang memberikan perkiraan yang lebih rendah dari pendapatan perkapita.

"Terjadi peningkatan pada koofisien Gini (ukuran kesenjangan pendapatan) dari jumlah pembelanjaan per kapita rumah tangga sejak 1980 hingga 1996." Ketidaksetaraan dan ketimpangan ekonomi di Tanah Air semakin meningkat karena perbedaan akses terhadap pendidikan dan perpindahan generasi muda dari desa ke kota.

"Keluarga kaya di perkotaan akan menyajikan pendidikan yang bagus dan terjamin dibandingkan keluarga miskin di kota maupun di desa. Begitu juga orang muda yang berasal dari pedesaan berpindah ke kota untuk mencari pekerjaan, namun berakhir dengan tingkat produktivitas yang rendah dan menjadi buruh di sektor informal," jelas dia.

Berbagai penyebab kemiskinan adalah miskin karena sakit, kecelakaan, usia tua, tidak memiliki aset, konflik dan kekerasan.

Beberapa upaya yang harus dilakukan adalah menambah lapangan pekerjaan di desa, konektivitas di wilayah timur, dan perhatian pada masyarakat miskin.

"Transmigrasi tidak menyelesaikan masalah, hanya memindahkan penduduk ke daerah lain," kata Booth.

Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI DR Siwage Dharma Negara, mengatakan tingkat kemiskinan Indonesia terlalu rendah jika dibandingkan negara tetangga pada 1990.

Penulis: /YUD



» Arsip
» Diakses : 22 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

Sunday, June 15, 2014

Indonesia potensial kembangkan teknologi robot

Jakarta (ANTARA News) - Indonesia merupakan negara yang potensial untuk mengembangkan teknologi robot, berdasarkan berbagai prestasi yang pernah diraih di luar negeri, demikian disampaikan Direktur Robotic Explorer Jully Tjindrawan.

"Indonesia sangat siap kembangkan teknologi robot, karena imajinasinya jalan. Padahal latihan hanya dua minggu dengan alat yang minim, tapi Indonesia menang terus," ujar Jully Tjindrawan di Jakarta, Jumat.

Jully mengatakan, 2015 adalah waktu yang tepat bagi Indonesia, terutama dunia pendidikan, untuk menerima teknologi robot sebagai bagian dari kurukulum di Indonesia.

"Sebetulnya sudah ada yang masuk kurikulum, namun perlu diperdalam lagi. Sehingga edukasi untuk anak-anak tentang robot bisa semakin dikembangkan," katanya.

Menurut Jully, terdapat sebuah lomba yang mengharuskan robot melalui labirin dengan cepat dan Indonesia meraih juara satu dalam hal tersebut.

"Karena di Indonesia banyak gang, jadi untuk melalui labirin itu sepertinya sudah biasa. Jadi, mereka bisa langsung tahu mana jalan pintas yang cepat untuk dilalui robotnya," katanya.

Bicara prestasi robot di dunia internasional, Indonesia pernah menyapu bersih delapan gelar sekaligus pada lomba robot di Amerika Serikat dengan tim dari tiga perguruan tinggi, yakni ITB, ITTelkom dan Unikom.

Kedelapan gelar tersebut meliputi juara satu dan dua robot pemadam api divisi beroda, juara satu, dua dan tiga robot api divisi berkaki, juara satu RoboWaiter divisi entry level, serta juara satu dan dua RoboWaiter divisi advanced.

Melihat prestasi tersebut, Jully merasa yakin bahwa siap tidak siap, perkembangan teknologi robot mulai dibutuhkan masyarakat Indonesia.

"Saya berdoa tahun depan Indonesia bisa mengakomodir robot ke sekolah-sekolah," kata Jully.(*)



View the Original article

Bakteri bisa dijadikan bahan baku sel surya

Surabaya (ANTARA News) - Bakteri fotosintesis bisa menggantikan silikon sebagai bahan baku sel surya (solar cell) yang dibutuhkan dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

"Bakteri ini menangkap energi dari matahari saat berfotosintesis yang lalu melalui proses tertentu menghasilkan listrik," kata peneliti dari Universitas Ma Chung Monika Prihastyanti di sela-sela pameran "Penguatan Kelembagaan Pusat Unggulan Iptek Se-Indonesia" di Universitas Airlangga Surabaya, Jumat.

Listrik yang dihasilkan tersebut melalui metode tertentu di mana pigmen dari bakteri yang sifatnya tak stabil lebih dulu diproses untuk dikuatkan strukturnya dengan menggunakan bahan polimer, ujarnya.

"Kami menyiapkan plat kaca yang diberi partikel nano Titanium Oksida (TiO2) agar mampu menyerap elektron. Lalu plat itu dicelupkan di cairan pigmen itu, ditambahkan bahan polimer dan karbon. Hasilnya adalah sejenis sel surya," katanya.

Menurut dia sudah banyak riset pengembangan solar cell di Indonesia, namun yang menggunakan bahan bakteri baru Universitas Ma Chung, Malang.

Di AS, ujarnya, telah dikembangkan solar cell berasal dari tanaman bayam dengan prinsip sama menggunakan kemampuan fotosintesisnya.

"Tapi bakteri memiliki kelebihan dibanding tanaman, yakni spektrum gelombang elektromagnetiknya lebih panjang sehingga bisa menyerap energi matahari lebih baik," katanya.

Menurut dia, solar cell yang berasal dari bakteri sangat mendukung program energi terbarukan karena bakteri mudah untuk ditumbuhkan dibanding bahan solar cell yang menggunakan silikon.

Ia mengatakan, peluang bisnis pigmen selain di sektor energi, juga sangat besar di sektor pangan dan obat-obatan, misalnya untuk pembuatan pro-Vitamin A, antioksidan, deteksi sel kanker, kosmetik, pewarna alami dan lain-lain. (D009)



View the Original article