Saturday, July 12, 2014

INDAHNYA KAWASAN KARST KUTIM

Indahnya Kawasan Karst Kutim
Sabtu, 12 Juli 2014

Beberapa tahun lalu, sejumlah peneliti dari LIPI dan Prancis melakukan penelitian di kawasan Karst Sangkulirang dan Bengalon sampai di Tanjung Mangkalihat, Kecamatan Sandaran yang berbatasan dengan Kabupaten Berau. Hasilnya banyak ditemukan benda-benda purbakala yang cukup mencengangkan, karena benda bersejarah yang usianya ribuan tahun itu jarang ditemukan di daerah lain.

SUMBER daya alam di Kutim memang cukup melimpah. Mulai dari tambang batu bara, kayu, emas sawit dan sebagainya. Bahkan bahan baku semen yang merupakan pegunungan kapur juga ada di kabupaten ini dan menjadi incaran dari banyak investor.

Dari sekian banyak potensi, salah satu yang membanggakan adalah pegunungan karst yang terhampar di kawasan Sangkulirang sampai Muara Wahau, hingga perbatasan Berau. Di kawasan itu terdapat berbagai macam kekayaan yang tak ternilai, seperti artefak, benda purbakala yang usianya puluhan ribu tahun.

Dari hasil penelitian sejumlah tim peneliti dari LIPI maupun Prancis, banyak ditemukan flora dan fauna yang hidup di kawasan itu, selain benda-benda bersejarah yang usianya mencapai puluhan ribu tahun. Sebagian sudah diambil dan disimpan di Galeri yang saat ini berada di Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kutim.

Sudah banyak orang asing yang datang ke kabupaten ini melihat galeri tersebut. Ketika melihat kekayaan yang dipajang itu, sejumlah orang asing berdecak kagum, karena Kutim yang berusia sekitar 15 tahun pada Oktober nanti memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa.

Sampai sekarang sudah banyak orang asing yang datang melihat karst di Kutim. Baik di galeri maupun datang langsung ke lokasi. Bahkan sejumlah wisatawan asing juga ada yang ingin melihat keindahan kawasan karst yang cukup mengagumkan, karena di sana cukup asri dan sejuk udaranya. Selain itu, banyak peninggalan benda purbakala yang usianya ribuan tahun, kata Kepala Dsiporapar Kutim Dwi Gamawan Susilanto.

Dari hasil penelitian yang dilakukan sejumlah tim peneliti dari LIPI dan Prancis, banyak hewan dan satwa yang menghuni di kawasan karst. Tak heran jika wisatawan asing dan peneliti senang dengan kawasan tersebut, khususnya wisatawan yang mencintai petualangan.

Ini membuktikan bahwa Kutim menjadi salah satu daerah penemuan sejarah zaman dulu. Bukan itu saja, kawasan itu juga ditemukan gambar-gambar tangan dan seni purbakala yang menempel di goa-goa kawasan pegunungan karst tersebut.

Meskipun secara fisik gerabah tersebut sudah retak dan sebagian pecah atau hilang, tapi memiliki arti penting sebagai bahan kajian perkembangan ilmu pengetahuan bidang arkeologi. Barang purbakala (gerabah, Red.) ini merupakan bukti sejarah yang mesti harus dijaga dilestarikan, kata Anto, panggilan akrab mantan Kadis Pendidikan Kutim ini.

Dikatakan, peninggalan bersejarah yang terdapat di wilayah Kutim ini, merupakan kekayaan alam yang memiliki nilai historis, dan juga mengandung nilai ekonomis karena jika dijual nilainya mencapai jutaan rupiah. Barang purbakala itu juga bisa sebagai sumber pendapatan karena bisa diletakkan di museum yang bisa dilihat wisatawan dari berbagai belahan dunia.

Sehingga Kutim memerlukan museum arkeologi untuk menaruh barang-barang benda bersejarah tersebut. Saat ini sudah ada galeri untuk menyimpan barang tersebut. Salah satu tujuannya, agar wisatawan bisa melihat benda-benda bersejarah tersebut dengan baik.

Keindahan kawasan karst memang cukup indah dan apik. Bahkan sejumlah stasiun televisi swasta nasional dan luar negeri pun beberapa kali menayangkan keindahan alam di kawasan karst serta hasil temuan peneliti tersebut. Sehingga kawasan karst ini bukan saja dikenal di Indonesia, namun juga di luar negeri. Sebuah stasiun televisi Prancis juga pernah menayangkan gambar kawasan karst di Kutim. (*/kmf/obi/k9)



» Arsip
» Diakses : 7 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

Wednesday, July 9, 2014

INI ALASAN DUNIA MEMANTAU PILPRES INDONESIA

Ini Alasan Dunia Memantau Pilpres Indonesia
Kamis, 10 Juli 2014

Jakarta - Dunia internasional tampaknya menunjukkan ketertarikannya terhadap pilpres Indonesia saat ini. Menurut pakar Hubungan Internasional LIPI, Ganewati Wuryandari, ada alasan yang membuat internasional tertarik dengan pesta demokrasi di Indonesia.

"Ini satu fenomena baru. Selama pemilu di Indonesia, baru kali ini ada dukungan dari kalangan artis internasional untuk salah satu capres," kata Ganewati kepada detikcom, Rabu (9/8/2014).

Artis internasional yang dimaksud adalah Sting, Arkarna dan sejumlah artis lainnya. Mereka memberi dukungan ke salah satu capres melalui akun media sosial.

"Dari perkembangan teknologi dan media sosial dimana informasi sangat cepat melewati batas negara dan berita mengenai pemilu Indonesia mudah juga diakses," ujar Ganewati.

Selain peran media sosial, Ganewati menduga pemilihan presiden baru setelah 10 tahun juga dinanti-nanti dunia. Dunia ingin melihat sejauh mana proses peralihan kekuasaan dan kedewasaan demokrasi di Indonesia.

"Ini pemilu yang menarik karena yang terpilih adalah presiden baru dan akan berdampak juga pada hubungan internasional. Demokrasi Indonesia menjadi perhatian mereka karena cukup dipandang berhasil setelah 32 tahun berada di bawah otoriter," ujar Ganewati.

"Saya pikir ini juga terkait dengan perbedaan sosok dan sifat dua pasangan capres-cawapres kita," tambahnya.

Menurut Ganewati, letak geografis Indonesia masih menjadi primadona untuk dunia internasional. Selain itu, kebijakan pemerintahan yang baru juga ditunggu-tunggu oleh negara sahabat seperti Australia.

"Tentu selain ASEAN itu ada Australia dan negara-negara besar yang memperhatikan pelaksanaan pilpres kita. Karena posisi geografis Indonesia sangat menguntungkan untuk bargaining dan kita juga memiliki penduduk yang juga besar. Mereka melihat latar belakang capres dan policy dari salah satu capres terpilih," tutup Ganewati.



» Arsip
» Diakses : 716 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

Saturday, July 5, 2014

LIPI TEGASKAN SIKAP NETRAL DALAM PILPRES 2014

LIPI Tegaskan Sikap Netral dalam Pilpres 2014
Sabtu, 5 Juli 2014

(Jakarta Humas LIPI). Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menegaskan untuk bersikap independen, netral atau tidak berafiliasi maupun mendukung salah satu Calon Presiden (Capres) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Hal itu ditegaskan oleh Deputi Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI Prof. Dr. Aswatini melalui siaran pers LIPI, Jumat (4/7).

Aswatini menandaskan, LIPI merupakan lembaga penelitian pemerintah dan tidak memiliki keberpihakkan pada kandidat tertentu dalam Pilpres 2014. LIPI bersikap netral terhadap hal ini dan tidak pernah menjadi bagian dari kepentingan-kepentingan politik praktis, tegasnya.

Pernyataan sikap tersebut dikeluarkan, lanjutnya, menanggapi sejumlah pemberitaan tentang posisi LIPI yang terkesan memihak salah satu Capres. Hal itu merujuk dari hasil survei yang telah dirilis oleh Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI belum lama ini.

Survei itu memaparkan salah satunya peta dukungan responden terhadap Capres-Cawapres pada Pemilu 9 Juli 2014 melalui teknik pengambilan sampel multistage random sampling. Hasil survei tersebut rupanya telah memunculkan berbagai pendapat yang beragam di masyarakat mengenai validitas ilmiahnya serta netralitas LIPI sebagai lembaga yang menaungi P2P.

Bukan Hanya Elektabilitas

Aswatini menjelaskan, studi Perilaku Memilih yang dilakukan Tim P2P tidak hanya mencakup survei elektabilitas Capres-Cawapres saja. Informasi tersebut hanya bagian kecil dari kajian menyeluruh mengenai Pemilu yang dilaksanakan oleh P2P dan telah dimulai sejak tahun 2012 silam, tukas wanita berkacamata itu.

Di luar kegiatan survei perilaku pemilih, katanya, P2P melakukan empat kegiatan penelitian Pemilu lainnya. Di antaranya, (1) Model Alternatif Pemilu dan Demokrasi dalam Skema Presidensial: Penyusunan naskah akademik desain Pemilu dan demokrasi dalam konteks ke-Indonesiaan; (2) Menuju Sistem Pemilu Campuran untuk DPR dan DPRD di Indonesia; (3) Evaluasi Sistem Pilkada Langsung di Tingkat Kabupaten/Kota dan Provinsi; (4) Perbandingan Demokrasi dan Sistem Pemilu: Studi Kasus Negara-negara Penganut Sistem Presidensial.

Kegiatan kajian Pemilu tersebut merupakan penugasan kepada P2P sebagai upaya akademik untuk mengembangkan studi sistem Pemilu dan Pilkada di Indonesia, jelas Aswatini.

Kepala P2P LIPI Prof. Dr. Syamsuddin Harris menambahkan, studi tersebut diperlukan oleh pemerintah, parlemen dan partai politik untuk membaca pola dan kecenderungan perilaku serta aspirasi masyarakat pada kurun waktu tertentu.

P2P berkewajiban untuk memberikan pandangan akademik mengenai kecenderungan perilaku masyarakat. Perlu kami garis bawahi keseluruhan materi survei ini fokus utamanya adalah pada perubahan dan atau pergeseran perilaku memilih masyarakat Indonesia. Perilaku pemilih merupakan suatu kajian ilmu politik yang mengalami perkembangan pesat dewasa ini, jelas Syamsuddin.

Ia mengharapkan agar hasil survei tersebut dapat menjadi bahan penulisan naskah akademik tentang urgensi perbaikan kebijakan Pemilu yang pada akhirnya diharapkan akan meningkatkan kualitas praktik demokrasi dan pemerintahan di Indonesia. Sama sekali tidak ada tendensi keberpihakkan pada salah satu kandidat, ungkap Syamsuddin.

Lebih lanjut, Aswatini menegaskan kembali komitmen bahwa hasil-hasil riset sivitas LIPI harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan independen. Hasil kajian Pemilu tersebut secara menyeluruh akan kami diseminasikan setelah semua studi tersebut selesai, sehingga masyarakat dapat mengetahui dengan lebih dalam dan komprehensif, pungkas Aswatini. (pw, ys)



» Arsip
» Diakses : 58 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

PENGEMBANGAN IPTEK TUNGGU IMPLEMENTASI JANJI CAPRES-CAWAPRES

Pengembangan Iptek Tunggu Implementasi Janji Capres-Cawapres
Sabtu, 5 Juli 2014

Jakarta - Janji calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dalam debat bertema pengembangan sumber daya manusia dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) diharapkan terimplementasi jika kelak terpilih. Dana riset yang masih minim serta iklim riset yang belum kondusif harus dipecahkan oleh presiden dan wakil presiden terpilih mendatang.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lukman Hakim berharap kedua cawapres ini dapat menjanjikan harapan bagi perkembangan Indonesia ke depan. Dua indikator penting dalam mengukur daya saing internasional menurutnya adalah: pertama, jumlah tenaga kerja iptek (MIPA dan teknik) per sejuta tenaga kerja. Kedua, belanja research and development per GDP. Dalam Dua indikator iptek tersebut tergambar kedudukan Indonesia yang amat rendah tidak selaras dengan tingkat status ekonomi dan pendapatan per kapita Indonesia.

"Kedua cawapres menyinggung masalah SDM dan iptek secara komprehensif. Misalnya, dalam masalah anggaran Hatta Rajasa mengatakan akan menambah Anggaran Riset Rp 10 triliun dalam lima tahun. Atau Cawapres JK mengemukakan anggaran pendidikan dalam APBN yang 20 persen, akan banyak meningkatkan kesiapan anggaran bagi riset-riset kita," katanya di Jakarta, Selasa (1/7).

Sesuai program mereka, lanjut Lukman, ada upaya kelembagaan yang menyatukan Kemristek ke dalam ranah pendidikan. Namun menurutnya, besar anggaran riset yang berbasis APBN dari kedua cawapres belum memadai. Penambahan Rp 10 triliun dalam lima tahun berarti baru dua kali lipat dari kondisi saat ini, artinya per total GDP Indonesia belum beranjak jauh.

Kemudian kedua cawapres ada yang menyinggung tentang upaya makro yang mencakup lingkup kegiatan di industri, perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Meningkatkan nilai tambah dengan mengendalikan ekspor bahan mentah yang menjadi titik betat industri nantinya.

"Menurut saya, bagaimana meningkatkan partisipasi swasta dalam investasi riset ini belum dielaborasi secara lebih konkret. Padahal hal ini sangat penting untuk meningkatkan total belanja iptek nasional yang dalam dokumen MP3I telah menyebutkan Indonesia harus membelanjakan 1 persen PDB per tahun mulai 2014 ini. Artinya harus 12 kali lipat lebih besar," jelasnya.

Terlepas dari kekurangan yang masih ada tersebut, Lukman mengapresiasi debat cawapres yang mengangkat tema SDM dan iptek. Karena, kedua cawapres telah menjanjikan peningkatan bidang iptek. "Perhatian pemimpin pemerintahan tertinggi kita dalam masalah peranan iptek dan SDM dalam pemerintahan yang akan dibentuk setelah pilpres nanti diharapkan terimplementasikan," ungkap Lukman.



» Arsip
» Diakses : 8 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

LIPI: ANGGARAN RISET RP 10 TRILIUN TAK CUKUP

LIPI: Anggaran Riset Rp 10 Triliun Tak Cukup
Sabtu, 5 Juli 2014

JAKARTA Janji calon wakil presiden Hatta Rajasa untuk mengalokasikan anggaran riset hingga Rp 10 triliun dinilai tak efektif. Pasalnya, anggaran itu sama dengan anggaran rutin dan penelitian tiga lembaga riset yang sudah ada saat ini, yakni Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Badan Tenaga Atom Nasional (Batan).

Semestinya Rp 100 triliun per tahun atau 1 persen dari APBN. Anggaran riset kita sekarang ini baru 0,08 persen dari APBN. Jauh dibandingkan negara-negara lain yang mengalokasikan 2 persen dari total anggaran negara untuk ristek, kata Kepala Pusat Penelitian Informatika LIPI Bogie Sudjatmiko Eko Tjahjono dalam keterangannya kemarin (30/6).

Dia mengakui sinyalemen calon wakil presiden Jusuf Kalla yang menyatakan banyak peneliti dan tenaga ahli Indonesia yang lebih suka bekerja di luar negeri karena lebih terjamin hidupnya. Selain itu, peneliti di negara asing juga lebih mudah mendapatkan anggaran riset dibandingkan bekerja di lembaga penelitian dalam negeri.

Akibat minimnya kesejahteraan dan kurangnya anggaran penelitian, jumlah peneliti di Indonesia hanya berkisar 30 ribu orang, itu pun sudah memasukkan 20 ribu dosen yang aktif melakukan penelitian. Tak heran, universitas di Indonesia selalu menduduki peringkat menengah dalam peringkat universitas dunia karena minimnya hasil publikasi riset di jurnal ilmiah internasional. Kita butuh 200 ribu peneliti atau 100 orang per jumlah penduduk, katanya.

Bogie menilai anggaran riset yang minim menyebabkan banyak masalah yang belum teratasi. Dia mencontohkan, subsidi energi selalu menjadi sumber kendala keuangan negara sejak puluhan tahun, namun hingga kini belum ada cara untuk mengatasinya. Padahal, dengan riset energi alternatif yang fokus untuk memberi subsidi pada produsen, masalah subsidi BBM dan listrik dapat diatasi. Sumber daya alam kita terbatas, tapi potensi iptek kita luar biasa besarnya, kata dia.

Meski dinilai tidak mengatasi masalah, Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Taufik Kurniawan menilai gagasan Hatta Rajasa lebih konkrit dibandingkan Jusuf Kalla. Hal ini terlihat dari paparan Hatta tentang peningkatan biaya riset yang terkait dengan penerapan teknologi yang ditujukan untuk penciptaan lapangan kerja.

Dia mencontohkan, riset tentang peningkatan produksi pertanian sehingga padi bisa panen 3-4 kali setahun dengan produktivitas 10 ton per hektare dapat menyelesaikan problem impor beras, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani, memperbaiki nilai tukar rupiah yang tergerus impor, dan menyerap lapangan kerja bidang pertanian sekaligus.

Peningkatan anggaran riset di bidang pendidikan dan peningkatan kualitas sekolah kejuruan juga diarahkan untuk mendorong penerapan teknologi dan menghasilkan siswa yang selaras dengan penyedia lapangan kerja, terangnya. (dod/jpnn/che)



» Arsip
» Diakses : 12 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

LIPI TEMUKAN SPESIES BARU TIKUS AIR PEMAKAN DAGING DI SULAWESI

LIPI Temukan Spesies Baru Tikus Air Pemakan Daging di Sulawesi
Sabtu, 5 Juli 2014

Jakarta - Kerja sama penelitian antara ilmuwan Australia, Indonesia, Amerika Serikat serta penduduk lokal Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, membuahkan hasil. Kini, ditemukan spesies baru tikus air pemakan daging atau karnivora.

Penemuan spesies baru yang diberi nama Waiomys mamasae telah dipublikasikan dalam jurnal Zootaxa 3815(4)2014. Spesies ini merupakan tikus air yang pertama ditemukan di Sulawesi dan kawasan Asia Tenggara dan tidak memiliki hubungan kerabat dengan tikus New Guinea dan Australia serta merupakan hasil evolusi konvergen.

Tim penemu tikus jenis baru ini yaitu Dr. Kevin Rowe, Dr. Jacob Esselstyn dan Anang S. Achmadi, S. KH. Mereka menyatakan bahwa sebelumnya tikus semi akuatik lainnya hanya dikenal dari New Guinea, Australia, Afrika, dan Amerika Selatan. Spesies ini sebelumnya hanya diketahui oleh orang-orang lokal di dataran tinggi barat Pulau Sulawesi, dan telah digunakan sebagai jimat oleh penduduk setempat untuk melindungi rumah mereka dari kebakaran. Seperti halnya tikus semi-akuatik lainnya, spesies ini memakan serangga air yang menempel di dasar aliran.

Penulis utama Dr. Kevin Rowe, Senior Kurator Mamalia dari Museum Victoria mengatakan bahw keanekaragaman hayati kepulauan Indo-Australia menginspirasi lahirnya teori seleksi alam. Para ilmuwanmenggunakan urutan DNA untuk menunjukkan bahwa spesies baru itu bukan kerabat dekat dari spesies tikus air lainnya, termasuk dari New Guinea dan Australia. Hal ini menunjukkan bahwa morfologi tikus air Sulawesi dengan spesies tikus air lainnya merupakan hasil dari evolusi konvergen yang berarti bahwa hewan ini mengalami evolusi ciri yang mirip sebagai hasil adaptasi dengan lingkungan.

"Tikus air Sulawesi dan tikus air dari New Guinea tidak memiliki hubungan yang erat satu sama lain, begitu pula dengan tikus rumah dan tikus laboratorium. Tetapi mereka hidup di lingkungan yang sama yang dapat menjelaskan morfologi konvergen mereka," ungkap Dr. Esselstyn, Kurator Mamalia di Louisiana State University dan co-penulis penelitian.

Anang S. Achmadi, peneliti dari Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI selaku co-penulis penelitian mengatakan, penemuan tersebut secara signifikan memperluas pemahaman tentang keanekaragaman mamalia di Indonesia. "Dengan ini kita juga bisa menyoroti kebutuhan untuk inventarisasi keanekaragaman hayati," jelasnya.

Masyarakat mengetahui hewan ini sebagai "balau wai," atau tikus air dalam bahasa mereka, Mamasa Toraja. Nama ilmiah "Waiomys mamasae" yang berarti "tikus air Mamasa," mengakui pengetahuan mereka sebelumnya serta kontribusi mereka terhadap penemuan ilmiah spesies ini.

"Hutan di Mamasa merupakan hutan yang paling utuh di Sulawesi. Kondisi hutan yang baik adalah bukti orang-orang Mamasa sangat membatasi pembukaan hutan ke dasar gunung," kata Achmadi.

Pulau Sulawesi, terletak di persimpangan kepulauan Indo-Australia dan tetap terisolasi dari landas kontinen Asia dan Australia selama 10 juta tahun terakhir. "Sejarah Sulawesi menjelaskan bahwa pulau adalah rumah bagi banyak hewan aneh," Esselstyn mengakhiri.



» Arsip
» Diakses : 8 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

INI PENAMPAKAN UNIKNYA TIKUS AIR KARNIVORA BARU TEMUAN LIPI

Ini Penampakan Uniknya Tikus Air Karnivora Baru Temuan LIPI
Sabtu, 5 Juli 2014

Jakarta - Ilmuwan Indonesia bersama ilmuwan dari Australia dan Amerika menemukan tikus Air karnivora yang masuk pada genus baru. Penemuan ini berarti tikus air itu tidak termasuk pada spesies tikus pada umumnya.

Berdasarkan foto yang diterima detikcom dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Jumat (4/7/2014), tikus air yang secara genetik tak bersaudara dengan tikus air dari Papua dan Australia itu memiliki ukuran panjang badan, termasuk ekor, mencapai 25 cm. Pada empat kakinya terdapat selaput agar tikus itu bisa berenang.

Untuk bermanuver di dalam air, tikus ini memiliki rambut-rambut halus sepanjang ekornya. Tikus dengan nama ilmiah Waiomys mamasae ini aktif saat malam hari.

"Kita masih belum tahu bagaimana dia mencari makan atau siklus sexualnya," kata peneliti LIPI bernama Anang Achmadi saat ditemui di kantornya, Jl Raya Bogor KM 46 Cibinong, Jawa Barat.

Tikus genus baru yang ditemukan di Mamasa, Sulawesi Barat, ini memiliki bulu berwarna abu-abu gelap untuk berkamuflase saat mencari makan di malam hari. Predatornya tetap sama seperti predator tikus pada umumnya, yakni ular, elang dan burung hantu.

Para peneliti menemukan tikus dengan struktur tengkorak yang hampir menyerupai tikus air di Papua dan Australia ini di pinggiran sungai. Sarang tikus ini pun adalah lubang yang berada di bibir sungai.

"Informasi dari warga sekitar hutan, tikus ini menyelam selama 5-10 menit. Lalu ia akan naik ke permukaan untuk bernafas. Tapi ini perlu dikonfirmasi penelitian lebih lanjut," kata Anang.

Spesimen tikus ini tengah berada di Australia untuk penelitian mendalam. Salah satunya adalah memeriksa lambung tikus itu untuk mengetahui makanan yang dikonsumsinya.

"Dia karnivora, secara umum tikus itu omnivora. Kita temukan dari lambungnya mayoritas larva serangga air, tapi kita juga menemukan udang-udang kecil," kata Anang.

Masih banyak misteri yang meliputi tikus air genus baru ini. Seperti berapa jumlahnya, karakternya dan sifat mereka. Termasuk berapa banyak spesies dari tikus air dengan genus baru ini.



» Arsip
» Diakses : 306 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article