Friday, June 13, 2014

Pakar: air yang dimasak hilangkan oksigen

Bekasi, Jawa Barat (ANTARA News) - Pakar teknologi membran dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Dr I Gede Wenten, mengatakan air minum yang dimasak kurang bagus karena oksigen di air tersebut hilang.

"Tidak baik mensosialisasikan air yang dimasak, karena tidak sehat. Oksigennya hilang ketika dimasak," ujar Wenten disela-sela peresmian produksi massal mesin penjernih air yang menggunakan teknologi membran atau Integrated Home Drinking Water Purifier Technology-Antibacterial Nano Particle Hollow-Fiber Membrane, di PT Yasunli Abadi Utama Plastik di Kawasan Industri MM2100 Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, Kamis.

Pengolahan air yang baik, sambung dia, seharusnya hanya menghilangkan bakteri yang terkandung dalam air tersebut.

"Lebih baik menggunakan teknologi membran sebagai penjernih air," imbuh dia.

Selain itu, tambah Wenten, air yang dimasak secara ekonomi berbiaya tinggi karena harga gas yang mahal. Jika menggunakan gas, satu liter air Rp800, maka menggunakan teknologi membran hanya Rp100.

Berdasarkan peraturan dari Badan Kesehatan PBB atau WHO, menyebutkan bahwa alat komersial air tidak boleh mengurangi kandungan magnesium dan kalsium dalam air. Namun sayangnya, saat ini banyak penjernih air yang menghilangkan kandungan tersebut.

Penjernih air tersebut menggunakan teknologi terintegrasi Antibacterial Nano Particle Hollow-Fiber Membrane.

Ia menjelaskan teknologi pada penjernih air tersebut memiliki keunggulan karena mengintegrasikan lima teknologi, sehingga air minum yang dihasilkan dipastikan sehat dan layak konsumsi.

Air yang disaring melalui penjernih air tersebut, bebas dari bakteri-bakteri karena ukuran membran lebih kecil dari bakteri. (*)



View the Original article

Ilmuwan buat virus serupa virus Flu Spanyol

Washington (ANTARA News) - Para ilmuwan menggunakan fragmen dari virus flu unggas untuk membuat virus yang serupa
dengan virus Flu Spanyol, penyebab pandemi influenza tahun 1918,
wabah paling parah yang tercatat pernah terjadi.

Hasil studi para peneliti Amerika Serikat menunjukkan bahwa pandemi parah seperti tahun 1918, yang membunuh sekitar 40 juta orang di seluruh dunia, kemungkinan bisa muncul lagi di masa depan, demikian menurut para peneliti yang dipimpin oleh Yoshihiro Kawaoka dari University of Wisconsin-Madison.

Para ilmuwan meneliti data induk publik, mereka mengidentifikasi delapan gen dari virus flu unggas yang diisolasi dari bebek liar yang memiliki kesamaan genetik luar biasa dengan penyusun virus 1918.

Mereka menggunakan teknik yang disebut rekayasa balik genetik untuk membangkitkan virus yang asam amino penyusun proteinnya hanya berbeda tiga persen dari virus penyebab wabah tahun 1918.

Pengujian menunjukkan bahwa virus itu lebih patogen pada tikus dan musang dibandingkan dengan virus flu unggas biasa tapi tidak lebih patogen dari virus flu tahun 1918 dan tidak menular ke musang melalui udara seperti umumnya virus influenza.

Namun, virus serupa virus flu tahun 1918 itu mengalami mutasi pada tujuh asam amino dalam sejumlah kecil protein kunci dan menyebar secara efisien dari binatang ke binatang, menunjukkan bahwa itu berpotensi menyebabkan pandemi, kata para peneliti.

Virus yang dihasikan menunjukkan bahwa "bahan genetik untuk patogen mematikan dan kemungkinan mematikan ada di alam dan bisa bergabung menjadi virus semacam itu", demikian laporan para peneliti di jurnal Amerika Serikat, Cell Host & Microbe.

"Karena virus-virus flu unggas di alam hanya butuh sedikit perubahan untuk beradaptasi ke manusia dan menyebabkan pandemi, penting untuk memahami mekanisme yang terlibat dalam adaptasi dan mengidentidikasi kunci mutasi supaya kita bisa mempersiapkan diri lebih baik," kata Kawaoka dalam satu pernyataan.

"Temuan riset seperti ini membantu kita menilai risiko wabah dan bisa memberikan kontribusi untuk surveilans rutin virus influenza," katanya seperti dilansir kantor berita Xinhua pada Rabu (11/6).

Studi penularan dilakukan di bawah kondisi yang dirancang khusus dengan pengamanan tinggi, menggunakan pengamanan biologi sepadan di University of Wisconsin-Madison dengan persetujuan Komite Biosafety universitas. 

Sebelumnya Kawaoka telah dikritik karena kreasinya mengubah virus flu burung H5N1, yang mengakibatkan moratorium penelitian selama setahun dua tahun lalu.

Dalam artikel yang diterbitkan di PLOS Medicine bulan lalu, Marc Lipsitch dari Harvard University dan Alison Galvani dari Yale University menyatakan percobaan seperti yang dilakukan Kawaoka bisa menyebabkan pandemi buatan manusia jika virus itu secara sengaja atau tidak sengaja keluar dari laboratorium.

Percobaan semacam itu menimbulkan "risiko signifikan terhadap kesehatan masyarakat, mungkin menimbulkan risiko tertinggi dari riset biomedis apapun," tulis mereka.

Mereka juga menyatakan bahwa virus influenza strain H1N1 yang bertanggung jawab atas tingkat kesakitan dan kematian di seluruh dunia dari tahun 1977 ke 2009 diduga berasal dari kecelakaan laboratorium.



View the Original article

Fosil dinosaurus baru ditemukan di Tiongkok

Beijing (ANTARA News) - Satu tim ilmuwan internasional menemukan fosil spesies baru pterosaurus dan telurnya di Tiongkok, demikian menurut Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (Chinese Academy of Sciences/CAS) pada Jumat.

Fosil-fosil itu ditemukan di kota Hami di barat laut Xinjiang, Daerah Otonomi Uygur, dan berasal dari periode Cretaceous Awal, kata Wang Xiaolin, peneliti CAS yang bertanggung jawab dalam penggalian tersebut.

Fosil pterosaurus itu ditemukan bersama lima telur mereka yang terjaga, masih dalam bentuk tiga dimensi.

Sebelum penemuan mereka, hanya ada empat telur pterosaurus dalam keadaan rata, dua dimensi.

Tim itu memberi nama fosil itu Hamipterus tianshanensis sesuai tempat mereka ditemukan.

"Kebanyakan fosil relatif utuh, dan ini menguntungkan untuk menyusun kerangka lengkap pterosaurus," kata Wang seperti dilansir kantor berita Xinhua, Kamis.

Wang mengatakan temuan fosil-fosil ini akan memberikan sinar terang dalam penelitian mengenai reproduksi, perkembangan, dan perilaku pterosaurus.

Temuan baru itu dipublikasikan dalam jurnal Current Biology bekerja sama dengan ahli paleontologi Brasil, Alexander Kellner dan ilmuwan lainnya pada Kamis.



View the Original article

LIPI : KETIMPANGAN KAYA-MISKIN DI INDONESIA SEMAKIN LEBAR

LIPI : Ketimpangan Kaya-Miskin Di Indonesia Semakin Lebar
Jumat, 13 Juni 2014

Bisnis.com, JAKARTA - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan ketimpangan ekonomi di Indonesia semakin lebar sejak era Soeharto.

Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Siwage Dharma Negara menuturkan banyak yang mengkritisi data-data survei sepanjang 1970-1990 yang menunjukkan keberhasilan Indonesia menurunkan angka kemiskinan secara signifikan.

Tingkat kemiskinan di Indonesia, katanya, terlalu rendah bahkan jika dibandingkan dengan negara tetangga, Filipina. Padahal fakta di lapangan kemiskinan dan ketidaksetaraan semakin meluas.

"Pada 2010, Bank Dunia menemukan bahwa 18,1 persen populasi berada di bawah garis kemiskinan," ujarnya, Jumat (13/6/2014).

Pada masa pemerintahan Soeharto, Badan Pusat Statistik merilis bahwa terjadi penurunan kemiskinan yang tajam, yakni dari 40 persen pada 1976 menjadi 11,3 persen pada 1996.

Pasca pemerintahan Soeharto, BPS menyatakan kembali bahwa persentase kemiskinan 1996 berubah dari 11,3 persen menjadi 17,5 persen. Bahkan Dunia memperkirakan tingkat kemiskinan pada 2008-2010 lebih tinggi dari perkiraan BPS.

Anna Booth, Peneliti dari School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London menuturkan penyebab kemiskinan adalah karena ketimpangan fasilitas. Akibatnya banyak masyarakat yang miskin karena sakit, kecelakaan dan kepastian usia tua.

Dia juga menyebutkan faktor lain penyebab meningkatnya kemiskinan adalah konflik dan kekerasan yang terjadi di berbagai wilayah seperti yang terjadi di Aceh dan Maluku.

Untuk membahas ketimpangan itu, LIPI menggelar seminar ekonomi bertema 'Poverty and Inequelity in Indonesia since Soeharto' pagi ini.



» Arsip
» Diakses : 28 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

LIPI NILAI KEMISKINAN DI INDONESIA TERUS MENINGKAT

LIPI nilai kemiskinan di Indonesia terus meningkat
Jumat, 13 Juni 2014

Merdeka.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menilai tingkat kemiskinan di Indonesia terus meningkat sejak era Presiden Soeharto.Meskipunproduk domestik bruto (PDB) Indonesia terus tumbuh.

"Masalah kemiskinan berupa ketidaksetaraandan ketimpangan justru semakin meningkatsaat ini," kata Peneliti LIPI Siwage Dharma Negara saat Seminar Ekonomi "Poverty and Inequality in Indonesia From Soeharto to SBY" Jakarta, Jumat (13/6).

Menurutnya perdebatan mengenai manfaat dari pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan di Asia telah dimulai sejak 1970. Data kemiskinan di Indonesia selalu dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan agensi internasional lainnya.

"BPS memperlihatkan bahwa terjadi penurunan tajam pada garis kemiskinan, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan yaitu 40 persen di 1976 menjadi 11,3 persen di 1996," jelas dia.

Menurut Siwage, data kemiskinan tersebut banyak mendapat kritik. Para kritikus tak percaya bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia rendah ketimbang negara tetangganya.

"Pascapemerintah Soeharto, BPS menyatakan kembali bahwa persentase kemiskinan tahun 1996 berubah dari 11,3 persen menjadi 17,5 persen," ungkapnya.

Di sisi lain, Bank Dunia memerkirakan 18,1 persen penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan sepanjang 2008-2010. (mdk/yud)



» Arsip
» Diakses : 8 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

PENELITI TIDAK HARUS PNS

Peneliti Tidak Harus PNS
Jumat, 13 Juni 2014

JAKARTA--Rancangan Perpres tentang Peneliti kembali dibahas, setelah melewati 12 pertemuan sebelumnya.

Pembahasan finalisasiini melibatkan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Kepegawaian Negara (BKN), Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), dan Kementerian Keuangan).

"Setelah finalisasi ini, tahap selanjutnya akan dilakukan harmonisasi di Kemenkumham," kata Deputi SDM Aparatur KemenPAN-RB Setiawan Wangsaatmadja dalam keterangan persnya, Kamis (12/6).

Dalam rancangan ini, menurut Setiawan, ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki dan diperjelas lagi, diselaraskan dengan Undang-Undang No 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN).

Peneliti ASN merupakan PNS dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), ujarnya.

Jika LIPI membutuhkan peneliti non-PNS untuk menggarap proyek pemerintah, dapat mengangkat peneliti luar untuk menjadi PPPK. Bahkan, PPPK dalam konteks penelitian akan lebih banyak gunanya untuk mengakselerasi capaian-capaian proyek riset.

Sementara itu, Sekretaris Utama LIPI Akhmadi Abbas mengatakan, dengan adanya payung hukum ini, diharapkan para peneliti mendapat perlindungan yang jelas. Mengingat pelaku riset mempunyai fungsi, peran dan kedudukan strategis dalam kemajuan iptek untuk kesejahteraan masyarakat.

Kalau menunggu RPP sangat lambat. Karena itu payung hukum ini harus segera diselesaikan, ucapnya. (esy/jpnn)



» Arsip
» Diakses : 44 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

Wednesday, June 11, 2014

Mahasiswa IPB ciptakan "Capres" pencegah obesitas dini

Bogor (ANTARA News) - Tim peneliti mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) menggagas centong digital yang diberi nama "Capres" yakni sebuah centong yang berfungsi sebagai timbangan untuk memastikan jumlah takaran makanan yang pas bagi penderita obesitas atau yang sedang menjalani program diet.

"Capres ini memudahkan penggunanya menyendok sekaligus menimbang 100 gram nasi dalam waktu singkat," ujar Lely Trijayanti, perwakilan tim peneliti mahasiswa penggagas Capres, dalam siaran persnya kepada Antara di Bogor, Kamis.

Menurut Lely, centong Capres ini multifungsi, selain bisa digunakan untuk menimbang nasi, juga bisa menimbang misalnya tahu, tempe, sayur dan lain-lain.

Lely menjelaskan, gagasan menemukan Capres atau Centong digital tersebut, dalam menjawab kesulitan sejumlah orang dalam menentukan takaran jumlah makanan yang pas agar tidak melebihi kadar kesehatan yang menyebabkan obesitas.

Sementara itu, trend yang sedang berkembang di masyarakat saat ini adalah gizi berlebih atau obesitas pada anak, bukan lagi gizi buruk. Padahal, obesitas pada anak memiliki resiko yang tinggi terhadap penyakit degeneratif.

Secara umum obesitas disebabkan oleh tidak seimbangnya konsumsi yakni karbohidrat yang terlalu berlebihan dan pengaturan pola makan yang tidak baik.

Hasil penelitian International Task Force (ITF), sebuah badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa 80 persen anak obesitas dipengaruhi oleh faktor lingkungan, sedangkan 30 persennya di pengaruhi oleh faktor genetik.

Disebutkan, sama halnya dengan masalah gizi lainnya, obesitas tentu dapat di cegah. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah penyesuaian porsi makan dengan total kalori yang dibutuhkan tubuh menurut jenjang usia. Misalnya jumlah konsumsi nasi yang dianjurkan per satu kali makan adalah 100 gram.

"Tentu sulit bagi kita untuk memastikan jumlah takaran yang pas (100 gram nasi). Selain itu jarang pula orang yang mau menimbang 100 gram nasi menggunakan timbangan biasa," ujar Lely.

Atas dasar tersebut, lanjut Lely, ia beserta teman-teman seangkatannya dari berbagai departemen melakukan penelitian bersama.

Tim peneliti Capres ini adalah Ida Mursyidah, Lely Trijayanti dan Fatma Putri ST, mahasiswa dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) dan Alvin Fatikhunnada dari Departemen Teknik Mesin dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) serta Hasan Nasrullah dari Departemen Fisika Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) yang mendesain "Capres", Centong digital untuk mencegah obesitas dini.

Tim peneliti mahasiswa IPB ini mendapat bimbingan dari Prof.Dr.Ir. Ahmad Sulaeman. Mereka menciptakan "centong ajaib" yang bisa mengontrol asupan makanan sehari-hari.

Mahasiswa IPB dari berbagai jurusan ini, tidak hanya merancang bentuk fisik melainkan juga telah memperhitungkan dari segi ekonominya seperti strategi pemasaran, target pasar, hingga harga yang paling tepat saat bisa dijual bebas nanti.

"Capres ini berguna untuk mengefektifkan waktu konsumen dalam menentukan jumlah takaran saji suatu jenis pangan secara akurat sesuai anjuran. Selain itu produk ini juga bisa digunakan oleh konsumen yang sedang menjalankan program diet," ujar Lely.

Menurut Lely, produk tersebut terbilang sederhana, yang dibutuhkan hanya centong nasi yang dipasangi timbangan dengan flex sensor, baterai dan LCD. Inovasi dari sebuah centong dan timbangan untuk mempermudah dalam penimbangan ini dibanderol seharga Rp 400.000 per unit.

Jika dibandingkan dengan harga timbangan digital lain, lanjut Lely, yang berkisar Rp 150.000 Rp 200.000 per unit, harga "Capres" masih terbilang wajar.

"Karena yang kami tawarkan adalah kepraktisan dalam penggunaan produk kami," ujarnya.

Lely menambahkan, untuk mengefektifkan program pencegahan obesitas sejak dini, pemakaian "Capres" bisa diterapkan di rumah sakit, dinas kesehatan dan penyedia jasa catering sehat.

"Ke depan, tim akan mengembangkan "Capres" agar bisa mengukur kadar gula, kadar garam pada makanan," ujarnya.

Sementara itu, berkat inovasinya ini, Lely dan kawan-kawan berhasil menjadi Juara I dalam Innovation Contest 2014 di Yogyakarta pada Mei 2014. Tim IPB ini berhasil mengalahkan kontestan lain yang berasal dari 28 universitas se-tanah air.

"Kini "Capres" sedang dalam tahap pengurusan pengajuan Hak Paten dan segera dipasarkan," ujar Lely.



View the Original article