Wednesday, June 11, 2014

MENGUNGKAP KONSEP KEBANGSAAN INDONESIA ALA BUNG KARNO

Mengungkap Konsep Kebangsaan Indonesia Ala Bung Karno
Rabu, 11 Juni 2014

(Jakarta Humas LIPI). Sebagai Bapak pendiri (founding father) Republik Indonesia (RI), Ide-ide Soekarno mengemuka dalam sejarah kebangsaan Indonesia seiring dengan transformasi sosoknya sebagai seorang aktivis pergerakan nasional menuju Presiden RI.

Peneliti sekaligus Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Dr. Syamsuddin Haris mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu tersebut, Soekarno mengajukan lima ideological concepts yang dirancang pada bulan Juni 1965 sebagai Pantja Azimat Revolusi, yaitu Nasakom, Pantjasila, Manipol(-Usdek), Trisakti, dan Berdikari.

Dalam situasi politik nasional dan global kontemporer, pemikiran Bung Karno (Soekarno) sangat perlu untuk dielaborasi lebih lanjut dan dikontekstualisasikan pada perkembangan zaman yang selalu dinamis, ujar Syamsuddin pada Seminar Menyongsong Harlah Pancasila bertajuk Melihat Kekinian Lima Konsep Kebangsaan dan Ke Indonesiaan Bung Karno, Senin (9/6) lalu, di Widya Graha LIPI Jakarta.

Dikatakannya, konsep Trisakti yang dirumuskan secara singkat sebagai berdikari di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik, dan berkepribadian dalam budaya perlu dicermati lebih mendalam.

Menurut Syamsuddin, hal ini berkaitan dengan dua hal. Pertama, mencerminkan orisinalitas intelektual dari pemikir politik Indonesia. Dan kedua, mengandung relevansi dengan situasi dan kondisi politik serta ekonomi Indonesia yang terlanjur di-gempur oleh kebijakan-kebijakan ekonomi dan politik yang bertendensi neo-liberal. Selain itu, juga cenderung memperbesar ketimpangan sosial ekonomi serta meminggirkan kekuatan dan kemandirian bangsa.

Oleh karena itu, lanjutnya, konteks kepemimpinan masa kini menjadi penting untuk mengamalkan Trisakti kembali. Hal itu bisa dijalankan dan diaksentuasikan sebagai model pengelolaan negara. Inilah yang mesti dilihat, diawasi, dan diteropong terkait suksesi kepemimpinan ke depannya, siapakah pemimpin yang mengamalkan Pancasila dan Trisakti itulah yang mesti dipilih, tutupnya. (dn)



» Arsip
» Diakses : 49 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

Monday, June 9, 2014

LIPI BAKAL TERAPKAN SISTEM PENILAIAN ONLINE

LIPI Bakal Terapkan Sistem Penilaian Online
Senin, 9 Juni 2014

JAKARTA--Proses pengajuan, administrasi, dan penetapan angka kredit bagi peneliti yang masih dilakukan secara manual, dirasakan cukup merepotkan.

Peneliti juga mengalami kendala dalam pencarian database kepakaran karena masih manual sehingga proses penilaian memakan waktu lama.

Atas kondisi itulah menurut Kepala Bidang Penilaian dan Akreditasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ely Eliah, membuat LIPI menggagas sistem penilaian angka kredit bagi peneliti secara online.

"Para peneliti itu mengalami kesulitan dengan sistem manual. Bahkan sarana data peneliti dan publikasi karya tulis ilmiah (KTI) peneliti masih manual," kata Ely dalam keterangan persnya di laman LAN, Sabtu (7/6).

Saat ini, lanjutnya, LIPI terus menyosialisasikan Daftar Usulan Penilaian Angka Kredit (DUPAK) bagi peneliti secara on line. Penerapan sistem on line ini dilakukan untuk mempermudah para peneliti yang selama ini sering mengalami kendala dalam pengajuan DUPAK.

"Kondisi saat ini semua proses pengajuan dan administrasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan cara manual dan memakan waktu lama. Dengan sistem on line, waktunya lebih cepat," ujar Ely. (esy/jpnn)



» Arsip
» Diakses : 171 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

PERANCIS DORONG PENINGKATAN KOLABORASI RISET DI INDONESIA DAN ASIA

Perancis Dorong Peningkatan Kolaborasi Riset di Indonesia dan Asia
Senin, 9 Juni 2014

(Jakarta Humas LIPI). Perancis berupaya lebih getol dalam mengembangkan jejaring riset di kawasan ASEAN dan lebih luas Asia. Hal tersebut ditunjukkan dengan kolaborasi penelitian antara Perancis dengan negara-negara di Asia, tak terkecuali Indonesia.

Salah satu perwujudannya adalah digelarnya BIO-ASIA & ICT-ASIA Regional Workshop, Rabu (4/6) pekan lalu, di Widya Graha Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta. Workshop tersebut mengambil tema ICT- Asia, BIO-Asia and post-2015 Challenges in Asia: Scientific research and policy making.

Corinne Breuze, Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Timor Leste dan ASEAN mengungkapkan, pihaknya berharap terjadi kolaborasi riset yang baik antara para peneliti khususnya Perancis dan Asia. Kami berharap ada satu kelompok riset yang terdiri dari perwakilan Perancis, ASEAN, dan negara Asia lainnya, ungkapnya saat berbicara dalam pembukaan workshop tersebut.

Ia juga mengharapkan keterlibatan peneliti LIPI dalam kolaborasi riset tersebut. Riset kolaborasi itu akan difokuskan pada Information and Communication Technologies (ICT) dan studi tentang alam (biodiversitas terhadap aplikasi berkelanjutan dalam bidang agronomi, kosmetik, kesehatan, bioteknologi dan sebagainya).

Charaf Ahmimed, Senior Specialist for Science UNESCO menambahkan, pihaknya selalu mendukung peningkatan kemajuan riset global termasuk di kawasan ASEAN dan Asia. Kolaborasi riset ini merupakan langkah positif untuk mengimplementasikan kemajuan riset dunia.

Sementara itu, Sekretaris Utama LIPI Dr. Akmadi Abbas mengungkapkan, Bio-Asia and ICT-Asia Regional Workshop merupakan agenda tahunan yang diikuti oleh perwakilan Perancis dan organisasi partner di Asia. Kegiatan ini bertujuan untuk menginternasionalisasi penelitian, memperkuat kerja sama ilmiah serta berkontribusi terhadap integrasi regional yang didukung oleh komunitas ilmiah di Asia, jelasnya.

Workshop itu sendiri merupakan kerja sama antara LIPI, the International Center for Interdisciplinary and Advanced Reseach (LIPI-ICIAR), Delegasi Regional Perancis Untuk Kerjasama ASEAN, dan UNESCO Regional Bureau for Sciences in Asia and the Pacific kantor perwakilan untuk Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina dan Timor Leste. (pw)



» Arsip
» Diakses : 26 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

Saturday, June 7, 2014

Mahasiswa Ubaya rancang robot bergaya penari Bali

Surabaya (ANTARA News) - Tiga mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Universitas Surabaya (Ubaya) merancang robot yang bergaya bak Penari Bali yang mampu membawakan Tari Anoman, Tari Legong Keraton, dan sebagainya.

"Dua robot penari itu kami beri nama Niniteus. Niniteus adalah kepanjangan dari Nini yang merupakan panggilan wanita dewasa di Bali, sedangkan Teus berarti Teknik Elektro Universitas Surabaya," kata perakit NiniTeus, Okky Andriansyah, di kampus setempat, Rabu.

Didampingi perakit lainnya Hamdi Fawazal dan Bagus Olifianto, mahasiswa semester enam itu menjelaskan kepandaian robot "Niniteus" menarikan tarian apa saja itu bergantung pada program yang dimodifikasi untuknya.

"Saat ini, robot Niniteus sudah pernah membawakan Tari Anoman dan Tari Legong Keraton. Dengan dilengkapi kostum adat Bali, Niniteus menggunakan sensor suara (lagu) untuk menghasilkan gerakan yang menggemaskan," katanya.

Niniteus mampu melakukan berbagai gerakan, seperti tengok ke kanan, ke kiri, mengangguk, berjalan maju dan mundur, serta jongkok setengah badan seperti layaknya penari Bali mengikuti irama lagu, itulah gerakan robot Niniteus.

Dalam kurun waktu empat bulan, Niniterus berhasil dirakit dan dimodifikasi sampai menghasilkan lenggokan saat menari. "Robot ini bisa menari tarian apapun. Tergantung, mau disuruh menari apa. Kami tinggal buat programnya saja," ujarnya.

Saat lagu diputar, Niniteus akan langsung menari sesuai programnya. "Karena selama ini masih mampu menari dua judul lagu, maka Niniteus juga masih memiliki dua buah kostum," katanya.

Namun, "manusia mesin" ini menari di atas lintasan. Untuk lintasan, sebenarnya dapat menggunakan lintasan apapun, asal datar dan tidak bergelombang.

"Kami juga sudah menyiapkan alas kaki robot agar dapat menghasilkan gaya gesek yang sesuai dan mendukung keseimbangan jalannya," katanya.

Niniteus dapat bertahan sekitar empat menit selama difungsikan untuk terus menari. Selebihnya, robot ini harus istirahat dulu dan baterainya di-charge lagi agar kembali maksimal.

"Niniteus ini perlu penyempurnaan, misalnya di bagian gerak jalan robotnya, sehingga pergerakan jalan robot lebih stabil dan tidak gampang jatuh," katanya.

Ke depan, mahasiswa elektro Ubaya yang lain lebih bisa mengeksploitasi bentuk robot serta fungsinya tanpa meninggalkan unsur pelestarian budaya Indonesia.

Di tingkat nasional, robot yang bisa menari sudah memiliki ajang kontes yakni Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI) yang sudah menjadi bagian dari Kontes Robot Indonesia (KRI). Di dalam KRI itu juga ada Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) dan Robot Humanoid.

(E011/I007)



View the Original article

Hadiah Nobel penemu neutron terjual 329.000 dolar AS

Jakarta (ANTARA News) - Hadiah Nobel Fisika tahun 1935 yang diberikan kepada ilmuwan Inggris penemu neutron, James Chadwick, terjual dengan harga 329.000 dolar AS atau sekitar Rp3,9 miliar (1 dolar AS=Rp11.864) dalam lelang pekan ini.

Rumah lelang Sotheby's, yang menangani penjualan tersebut di New York pada Selasa (3/6), sebelumnya memperkirakan medali emas Nobel dan dokumen yang menyertainya terjual antara 200.000 dolar AS dan 400.000 dolar AS.

Sotheby's tidak mengeluarkan informasi tentang pembeli Hadiah Nobel tersebut namun mengungkapkan bahwa penjualnya adalah seorang kolektor medali dan koin yang membeli medali emas dan dokumen Hadiah Nobel milik Chadwick dari fisikawan terkenal itu sekitar 20 tahun lalu.

Chadwick belajar di bawah bimbingan ilmuwan Inggris, Ernest Rutherford, yang dianggap sebagai Bapak Fisika Nuklir dan model atomnya membuat dia mendapat Hadiah Nobel Kimia tahun 1908.

Satu dekade kemudian Chadwick membuktikan keberadaan neutron - partikel netral dalam nukleus atom.

Para ilmuwan kemudian memahami bahwa neutron-neutron bisa digunakan dalam rantai reaksi nuklir untuk melepaskan energi dalam jumlah sangat besar.

Chadwick, yang mendapat gelar kebangsawanan tahun 1945, terlibat dalam pengembangan bom atom pertama selama Perang Dunia II, sebagai kepala kontingen Inggris dalam Manhattan Project.

Dia bahkan menyaksikan Trinitas pengujian bom--ledakan bom nuklir pertama di dunia, pada 16 Juli 1945 di Alamogordo Air Base, New Mexico, demikian seperti dilansir laman LiveScience, Rabu (4/6).



View the Original article

Menghisap ganja sebelum usia 15 sebabkan insomnia

Jakarta (ANTARA News) - Penelitian terbaru yang dilakukan Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa orang-orang yang menggunakan ganja (cannabis) sebelum mencapai usia 15 tahun, dua kali lipat berisiko menderita insomnia di kemudian hari.

Para peneliti di Amerika Serikat menemukan bahwa riwayat penggunaan obat-obatan dan ganja terkait dengan peningkatan risiko kesulitan tidur.

Para peserta dalam penelitian ini, yang saat kanak-kanak sudah memakai ganja, melaporkan memiliki masalah tidur, di mana mereka harus berjuang untuk tertidur, kesulitan mempertahankan tidur, mengalami tidur yang tidak nyenyak, dan merasa mengantuk pada siang hari.

Para ilmuwan Universitas Pennsylvania di Philadelphia menemukan adanya kesamaan pada orang dewasa yang menggunakan ganja sebelum usia 15.

"Para pengguna dan mantan pengguna ganja  lebih mungkin mengalami kesulitan tidur," kata Jilesh Chheda, asisten peneliti di Universitas Pennsylvania.

"Temuan yang paling mengejutkan adalah ada hubungan yang kuat antara usia penggunaan pertama dengan masalah tidur yang dialami di kemudian hari, tidak peduli seberapa sering mereka menggunakan ganja. Orang-orang yang mulai menggunakan ganja sejak dini lebih cenderung memiliki masalah tidur ketika mereka dewasa," ujarnya.

Untuk mencapai hasil studi tersebut, para peneliti menganalisa sekelompok orang dewasa, berusia 20--59 tahun, yang terdata dalam Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional 2007--2008.
Sebanyak 1.811 peserta melaporkan riwayat penggunaan narkoba atau ganja.

Riwayat penggunaan ganja dianalisa, seperti usia seseorang pertama kali mencoba ganja dan berapa kali seseorang menggunakan ganja pada bulan terakhir.

Kesulitan tidur dianggap masalah berat jika hal itu terjadi setidaknya 15 hari dalam sebulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mulai menggunakan ganja pada masa remaja dapat mempunyai risiko lebih tinggi menderita sulit tidur di kemudian hari.

Para peneliti menyimpulkan orang-orang yang mulai menggunakan obat-obat terlarang sebelumnya lebih mungkin mengalami kesulitan tidur karena alasan lain, termasuk stres.

Peneliti juga mengatakan insomnia pun dapat menjadi salah satu alasan orang memulai atau
melanjutkan  penggunaan ganja.

Namun, peneliti menyarankan penggunaan obat untuk memerangi masalah tidur cenderung tidak efektif, jika orang masih mengalami insomnia.

"Semenjak penggunaan ganja dilegalkan di beberapa negara dan negara bagian di AS, maka penting untuk memahami dampak dari penggunaan ganja pada kesehatan masyarakat," kata Chheda.

Menurut National Institute on Drug Abuse, penggunaan ganja di kalangan anak muda telah meningkat sejak 2007.

Beberapa ahli telah mengaitkan kenaikan pemakaian ganja dengan meningkatnya perdebatan publik mengenai status legalitas daun candu itu. Demikian diberitakan Dailymail.
(*)



View the Original article

Tidur bisa memperkuat ingatan

Washington (ANTARA News) - Para peneliti Amerika Serikat menemukan bukti fisik penting bahwa tidur bisa memperkuat ingatan.

Dalam hasil studi yang dipublikasikan di jurnal Science, para peneliti di New York University untuk pertama kalinya menunjukkan bahwa tidur setelah belajar mendorong pertumbuhan dendritic spine, tonjolan membran yang menjadi penerima utama masukan rangsangan sinaptik dalam sistem syaraf pusat.

Aktivitas sel-sel otak saat tidur nyenyak setelah belajar sangat kritis untuk pertumbuhan dendritic spine.

"Kita sudah lama tahu bahwa tidur punya peranan penting dalam proses pelajar dan mengingat. Kalau kau tidak tidur dengan baik kau tidak akan belajar dengan baik," kata peneliti senior Wen-Biao Gan, profesor ilmu syaraf dan fisiologi di New York University.

"Tapi apa yang mendasari mekanisme fisik yang bertanggung jawab untuk fenomena ini? Kami menunjukkan bagaimana tidur membantu neuron-neuron membentuk hubungan yang sangat spesifik pada cabang-cabang dendrit yang memudahkan memori jangka panjang," jelasnya.

Gan dan koleganya menggunakan tikus yang secara genetik sudah direkayasan untuk mengekspresikan protein berpendar dalam sel-sel syaraf atau neuron.

Menggunakan mikroskop dengan pemindai laser khusus yang menerangi kilau protein berpendar di bagian otak yang disebut motor cortex, mereka mampu melacak pertumbuhan dendritic spine sepanjang cabang dendrit sebelum dan sesudah tikus belajar menjaga keseimbangan dalam putaran.

Mereka melatih dua kelompok tikus: satu kelompok tikus di putaran selama satu jam dan kemudian tidur selama tujuh jam dan kelompok tikus kedua latihan satu jam di putaran lalu terjaga selama tujuh jam.

Para peneliti menemukan bahwa tikus-tikus yang kurang tidur menunjukkan petumbuhan dendritic spine lebih rendah dibanding tikus-tikus yang beristirakat cukup.

Selanjutnya mereka menemukan bahwa jenis tugas yang diberikan juga menentukan bagian cabang dendrit yang akan tumbuh.

Berlari ke depan dalam putaran misalnya, menghasilkan pertumbuhan dendritic spine yang berbeda dengan berlari ke belakang, menunjukkan tugas belajar spesifik menyebabkan perubahan struktur yang spesifik pula pada otak.

"Sekarang kita tahu bahwa ketika mempelajari sesuatu yang baru, satu neuron akan menumbuhkan koneksi baru pada cabang spesifik," kata Gan seperti dilansir kantor berita Xinhua.

"Bayangkan sebuah pohon yang menumbuhkan daun pada satu batang tapi tidak pada batang lain. Ketika kita mempelajari sesuatu yang baru, itu seperti kita menumbuhkan daun pada cabang tertentu."

Menurut Gan, hasil penelitian menunjukkan reaktivasi sel-sel syaraf selama tidur cukup penting untuk pertumbuhan koneksi spesifik di motor cortex.

"Temuan ini khususnya penting untuk anak-anak. Mengorbankan tidur untuk belajar hanya menyebabkan lebih sedikit dendritic spine, dengan demikian kau tidak akan bisa mengingat apa yang kau pelajari," katanya.



View the Original article