Tuesday, May 27, 2014

Pola aktivitas otak ayah gay sama dengan para orangtua

New York (ANTARA News) - Punya anak menyebabkan perubahan aktivitas otak pada para ibu dan ayah baru dan hasil studi terkini menambahkan bukti perubahan pola aktivitas otak serupa pada pria gay yang mengasuh anak-anak yang mereka dapat dari ibu pengganti.

Hasil studi terkini yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan, pola aktivitas otak para pria gay menyerupai aktivitas otak dari para ibu dan ayah baru.

Studi yang dilaporkan pada Senin (26/5) itu dilakukan di Israel dan dibangun berdasarkan hasil kerja ahli neuropsikologi Ruth Feldman dari Bar-Ilan University dan lainnya.

Menurut studi itu, otak para ibu baru menjadi hiper-reaktif ketika anak mereka menangis atau memberikan isyarat emosional yang lain.

Tidak jelas apakah pola itu merupakan hasil dari perubahan hormonal dan perubahan lain yang menyertai kehamilan atau respons terhadap pengalaman keibuan.

Untuk mencari tahu, Feldman dan koleganya merekam 89 ibu dan ayah baru berinteraksi dengan bayi mereka di rumah.

Mereka kemudian mengukur aktivitas otak para orangtua saat menyaksikan rekaman video itu di tabung MRI, dan melakukannya lagi (untuk membangun data dasar) saat menyaksikan video tanpa anak-anak mereka di dalamnya.

Pada 20 ibu dalam studi itu, semua pengasuh utama, melihat bayi-bayi mereka memicu peningkatan aktivitas bagian otak yang memproses emosi, khususnya dalam struktur yang disebut amygdala, yang lima kali lebih aktif dari normal.

"Ini adalah daerah yang secara tidak sadar merespons tanda-tanda kebutuhan bayi, dan itu berasal dari emosi mendalam saat melihat bayi mereka," kata Feldman.

Pada 21 ayah heteroseksual - yang sangat terlibat dalam pengasuhan bayi dengan istri sebagai pengasuh utama - melihat bayi meningkatkan aktivitas sirkuit kognitif, khususnya pada struktur yang menafsirkan tangisan bayi dan isyarat non-verbal lain.

Bagian otak inilah yang menggeliatkan makna "saya akan menjerit" dan yang berarti "salini aku."

Aktivitas otak 48 ayah gay yang mengasuh anak bersama pasangan mereka terlihat seperti ibu sekaligus ayah.

Sirkuit emosional mereka sama aktifnya dengan para ibu dan sirkuit penafsiran mereka menunjukkan kesamaan aktivitas dengan para ayah heteroseksual.

Idealnya para ilmuwan akan melakukan pencitraan syaraf pada pria dan perempuan sebelum dan sesudah mereka menjadi orangtua untuk menunjukkan secara pasti bahwa peningkatan aktivitas terjadi mengikuti kedatangan bayi dan tidak ada sebelumnya.

Namun sampai mereka bisa melakukan itu, Feldman meyakini adanya tanda-tanda kegiatan pengasuhan pada otak.

Satu petunjuk: pada ayah gay ada jalur komunikasi ekstra antara struktur emosi dan kognitif otak dan hal ini tidak terjadi pada ayah heteroseksual.

Semakin lama seorang pria menghabiskan waktu menjadi pengasuh utama, semakin besar keterhubungannya. Ini tampak seperti melakukan dua peran pengasuhan sekaligus membuat otak memadukan struktur yang diperlukan untuk melakukan keduanya.

"Otak ayah sangat plastis. Ketika ada dua ayah, otak mereka harus merekrut kedua jaringan, emosional dan kognitif, untuk pengasuhan yang optimal," katanya seperti dilansir kantor berita Reuters.

Hasil penelitian tersebut bisa memunculkan perdebatan tentang apakah pria gay diperbolehkan mengadopsi anak.

Saat ini banyak lembaga adopsi Amerika Serikat tidak mau bekerja dengan pasangan sejenis dan beberapa negara bagian melarang mereka mengadopsi.



View the Original article

Arkenas temukan kerangka ibu dan anak purba di Sumsel

Baturaja (ANTARA News) - Tim Arkeologi Nasional (Arkenas) Jakarta dalam penelitian di Goa Harimau Desa Padang Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan (Sumsel), menemukan kerangka manusia purba diduga ibu dan anak terkubur dalam satu lubang yang sama.

"Ini sangat menarik dan mempunyai cerita yang sangat mengharukan karena posisi kerangka sang ibu memeluk anaknya di atas perut," kata Prof Trauman Simanjuntak di dampingi Kepala Dinas Pariwisata Ogan Komering Ulu (OKU) Aufa Sarkomi di Goa Harimau Baturaja, Selasa.

Dikatakannya, hasil temuan kerangka diduga ibu dan anak tersebut merupakan salah satu penemuan dari 78 kerangka yang ditemukan di Goa Harimau.

Menurut dia, ada 78 kerangka manusia purba yang ditemukan diperkirakan hidup di zaman antara 3.000 hingga 14.000 tahun silam berasal dari dua ras berbeda, yaitu Ras Austronesia dan Austromelanesid.

"Bahkan, kemungkinan kerangka manusia purba itu hidup di zaman 20.000 tahun silam, sebab galian dua meter saja diperkirakan berusia 14.000 tahun. Sekarang kami sudah menggali kedalaman lebih dari empat meter," ungkapnya.

Sementara itu, Aufa mengemukakan, saat Tim Pusat Penelitian Arkenas akan melakukan tes deoxyribonucleic acid (DNA) beberapa kerangka manusia purba ditemukan guna mengidentifikasi status keterkaitan kerangka manusia yang telah ditemukan dengan kehidupan masyarakat modern saat ini.

"Tes DNA yang dilakukan untuk mengetahui apakah individu kerangka dua ras tersebut memiliki hubungan keterkaitan, bahkan bukan tidak mungkin kerangka mempunyai hubungan suku asli Kabupaten OKU," ujarnya.

Ia menjelaskan, tes DNA yang akan dilakukan tersebut, antara lain dengan meneliti tulang kaki pada kerangka dan mengambil sampel gigi.

"Diharapkan tes DNA dapat mengetahui kemungkinan ada hubungan dengan kerangka jaman dahulu dengan manusia yang hidup di jaman modern," demikian Trauman Simanjuntak.
(T.EP*M033)



View the Original article

Monday, May 26, 2014

Pencucian batu bara dengan 'Chance Cone' kurangi abu

Bandung (ANTARA News) - Metode pencucian batu bara menggunakan Chance Cone dengan media hematit, dapat mengurangi kadar abu batu bara dari tambang, yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, kata Peneliti Pusdiklat Minerba Pusat Teknologi Mineral Batu bara, Wanda Adinugraha.

"Kadar abu batu bara dari tambang yang relatif tinggi jika dibiarkan dapat merusak lingkungan," kata Wanda di Bandung, Minggu.

Menurut Wanda, pencucian batu bara menggunakan Chance Cone relatif murah sehingga sangat mungkin untuk dilakukan. Selain murah penggunaan hematit sebagai media juga sangat efektif karena dapat digunakan dalam jumlah kecil dengan hasil yang baik.

"Hematit dipilih karena memiliki derilitas tinggi sehingga bisa digunakan dalam jumlah kecil dengan hasil yang cukup baik," katanya.

Ia menjelaskan proses pencucian batu bara dengan menggunakan Chance Cone cukup mudah untuk dilakukan. Hematit sebagai media pencucian diremukkan dan digerus terlebih dahulu kemudian dilakukan analisis ayak. Selanjutnya hematit dicuci untuk kemudian dianalisis kembali.

"Persiapan media ini merupakan salah satu proses penting sebelum pencucian batu bara dilakukan," kata Wanda.

Lebih lanjut ia menjelaskan setelah persiapan media hematit selesai proses pencucian kemudian dilanjutkan dengan pemrosesan batu bara. Batu bara dimasukkan ke dalam mesin penghancur untuk kemudian diayak dan dimasukkan kembali ke dalam mesin penghancur.

Setelah itu dilakukan pengayakan kembali dan dilakukan uji endap-apung dan kemudian disimpan.

Chance Cone terdapat sebuah pengaduk yang berfungsi menjaga stabilitas media. Di dalam Chance Cone juga ditambahkan sebuah pengumpan sehingga kecepatan adukan menjadi konstan.

"Semakin tinggi kesepatan aduk dan semakin halus umpan maka akan semakin tinggi kadar abu yang dihasilkan," kata Wanda menambahkan.

(S033)



View the Original article

SmartRunway/SmartLanding, penuntun cerdas pesawat terbang

Phoenix, Arizona (ANTARA News) - Pada 22 Desember 2009, satu pesawat
terbang Boeing B-737-800 lepas landas dari Miami, Florida, menuju
Kingston, Jamaika, dengan 148 pemakai jasa penerbangan di dalam kabinnya
dan enam awak pesawat terbang.

Setelah melaporkan cuaca yang penuh
turbulensi dan pesawat terbang "terbanting-banting" di udara, B-737-800
itu mendarat overshoot, menabrak pagar bandara, dan meluruk ke jalan raya hingga ke tepi Laut Karibia!

Boeing
B-737-800 itu pecah menjadi tiga bagian, melukai banyak orang di
dalamnya, dan menjadi salah satu kecelakaan buruk di tepi Laut Karibia
itu.

Informasi dari flight data recorder, pilot tidak touch down untuk
mendarat hingga 4.000 kaki dari panjang keseluruhan 8.900 kaki landas
pacu Kingston itu. Pilot-pilot dilatih untuk mendaratkan pesawat
terbangnya 1.000 kaki dari pangkal landas pacu, di wilayah touch down -- awam mengenalnya sebagai bagian ujung landasan yang banyak bekas-bekas jejak rodanya.

Secara umum, teknologi pembantu pendaratan itu adalah Instrumental Landing System,
berupa pemancar yang memberi sinyal-sinyal peringatan bagi pilot,
apakah dia sudah ada di jalur dan ketinggian serta arah dan sikap
pendaratan yang benar pada landasan dimaksud.

Sistem ini sangat luas
diterapkan di seluruh dunia dan paling umum dijumpai; di dalam pesawat
terbang, sudah jamak dipasangi transponder pemancar dan penerima sinyal
itu.

Berdasarkan studi panjang tentang data insiden dan aksiden
serta kecenderungan yang terjadi, maka dikembangkanlah sejumlah
teknologi penolong navigasi dan perilaku penerbangan pesawat terbang
yang membantu pilot menerbangkan wahana udaranya secara lebih aman dan
meninggikan keselamatan penerbangan itu.

Honeywell Aerospace,
sebagai bagian dari Honeywell International yang khusus bergelut di
teknologi dan instrumen penerbangan sipil dan militer, telah melakukan
hal serupa. Teknologi itu dinamakan SmartRunway/SmartLanding System.

Teknologi ini lebih canggih ketimbang dua jenis teknologi yang selama ini diterapkan, katakanlah Enhanced Ground Proximity Warning System (EGPWS - memperingatkan pilot kemungkinan menabrak ketinggian darat selama mengudara, semisal gunung dan bukit) dan Traffic Collition Avoidance System
(TCAS - memperingatkan pilot akan kemungkinan dia menabrak atau
ditabrak atau salah jalur pada proses pendaratan hingga parkir dan
sebaliknya; hanya di darat).

Dalam kunjungan ke Honeywell's Flight Test Department di Phoenix Sky Harbour Airport (PHX), Arizona, Amerika Serikat, pada pekan ketiga Mei ini, antaranews.com
merasakan langsung uji coba instrumen EGWPS dan TCAS dalam keadaan sebenarnya di
udara Arizona dan Colorado yang kering dan panas.

Bagian Pegunungan
Rocky menjadi sebagian dari arena pengujian di ketinggian cukup rendah,
hanya sekitar 4.500 kaki dari permukaan laut saja.

Pesawat uji
yang dipergunakan juga bukan pesawat uji berusia muda seperti diduga,
melainkan Convair 580 bernomor registrasi N580HW keluaran Januari 1952
yang dibeli Honeywell Aerospace pada 1999 dari AlliedSignal, sesudah
sebelumnya dimiliki United Airlines. Mesinnya kemudian diganti dengan
jenis dan tipe mesin yang sama dengan yang menggerakkan P-3C Orion dan
C-130H Hercules.

Penguatan kerangka dan perubahan
interior dilakukan di sana-sini untuk menempatkan sejumlah pilot uji dan
ilmuwan yang akan menguji performansi berbagai intrumen penerbangan
produksi Honeywell Aerospace itu. Ada "meja" dan kompartemen khusus
untuk menguji TCAS atau EGWPS, juga sistem navigasi dan avionika untuk
Airbus A-380, dan lain-lain. Semuanya bisa diubah sesuai konfigurasi
diperlukan.

Pada terbang uji TCAS dan EGWPS itu, Kepala Pilot
Uji Honeywell Aerospace, Markus Johnson, memimpin penerbangan selama 45
menit dimulai pada pukul 09.43 waktu setempat. Mesin yang sangat kuat
dengan didorong bilah baling-baling serupa yang dipakai di C-130H Hercules, memudahkan semuanya, Convair 580 bisa segera meraih ketinggian jelajah pada penerbangan uji, 21 Mei lalu itu.

Peringatan berupa kata-kata lisan dan tertulis "terrain.. terrain… terrain… pull up… pull up…
" kerap terdengar begitu bagian pesawat terbang uji berkelir putih dan
semburat strip merah berada pada posisi ketinggian sekitar 1.000 kaki
dari obyek berupa bukit-bukit batu yang tajam dan menjulang begitu saja.

Johnson masih beberapa kali lagi mencoba lebih dekat pada "obyek" itu untuk lebih meyakinkan perangkat Terrain Avoidance System
sebagai bagian dari TCAS yang diuji pada kondisi nyata itu bisa bekerja
baik. Begitu dia lakukan berulang kali dalam berbagai skenario
penerbangan.

Begitu juga saat EGWPS dicoba pada proses lepas
landas dan mendarat serta taxi di bandar udara yang cukup padat
penerbangan domestiknya itu. Berulang kali indikator di kokpit pesawat
terbang dan pada instrumen kalibrasi menunjukkan peringatan kepada pilot
untuk menghindarkan kecelakaan penerbangan di darat itu.

"Pada
prinsipnya, visi dan misi kami di departeman ini adalah meningkatkan
performansi manusia pengawak, daya terima awak atas teknologi baru,
memperbaiki prosedur dan proses pendidikan pengawak penerbangan, dan
terus berinovasi mengembangkan rancangan instrumen dan prosedur ke arah
sana," kata Johnson, setelah Convair 580 mendarat di landas pacu 090-270
Phoenix Sky Harbour (PHX) itu.

Penerbangan tadi, kata dia,
membuktikan segala sesuatu tentang instrumen penerbangan harus berfungsi
sempurna sebelum dioperasikan operator penerbangan. "Lebih jauh lagi
kami terus mengujikan berbagai sistem yang kami kembangkan, di antaranya
SmartRunway, sebagai generasi berikut dari Honeywell Runway Awareness and Advisory System alias RAAS, yang memberi peringatan aktual dari detik ke detik kepada pilot secara grafis tiga dimensi dan suara," katanya.

Sejak
1990, operator dan regulator penerbangan semakin menuntut pengoperasian
penerbangan yang lebih tinggi kualitas keselamatannya. Dari semua jenis
kecelakaan penerbangan, data dari NTSB dan studi internal Honeywell
Aerospace menunjukkan, hal itu paling banyak terjadi di seputaran proses
pendaratan/lepas landas, dan juga pada proses taxi dan sesudahnya.

SmarRunway/SmartLanding System
merupakan satu perangkat lunak yang bisa meningkatkan EGWPS (terakhir
ini menjadi standar instrumen pada semua produk Boeing seri terkini).
Jika pilot mengarahkan matanya ke layar monitor utama di atas tuas
kendali, maka dia akan mendapat data visual titik penerbangan dan
peringatan posisinya secara grafis dari detik.

Komputer akan
memberi peringatan "jatah" dia melakukan touch down pada landasan
dimaksud secara akurat disesuaikan dengan spesifikasi dan performansi
serta tipe pesawat terbang yang dia kendalikan.

"Proses akhir pendaratan menentukan sekali. Peringatan apakah flaps
sayap utama telah dikeluarkan pada besaran sudut yang pas atau belum
pas, sudut pendaratan, ketinggian disesuaikan arah angin, kecepatan
pesawat terbang, hingga stabilitas dan lain sebagainya disampaikan dari
detik ke detik secara akurat," kata Johnson.

Misalnya, kata-kata "too high" atau "too low" dan "flaps" atau "unstable"
akan terpampang di layar monitor head up display utama kokpit jika pesawat terbang ada dalam keadaan itu sehingga
pilot bisa mengantisipasi dan mengoreksi sejak beberapa waktu
sebelumnya.

Dia memberi contoh subsistem SmartRunway/SmartLanding yang sebelumnya diujikan pada Boeing B-747-8 yang dilengkapi RAAS Stroked Caution Message dan RAAS Raster Caution Message.

Pilot
diberikan data secara grafis yang sangat mudah dipahami pesannya,
tentang berbagai data penerbangan yang diperlukan saat dia final
approaching
ke landas pacu serta lingkungan sekitarnya. "Arah dia
'masuk' akan dikoreksi dari detik ke detik sesuai perkembangan terakhir.
Ini sangat kritikal dalam proses pendaratan," kata Johnson.

Pilot bisa juga menentukan modifikasi arah dan sikap penerbangan pesawat terbangnya setelah mendapat data akurat dari SmartRunway/SmartLanding ini. Misalnya, pada flight plan disebutkan rute yang diambil pilot adalah mendarat pada ketinggian dan arah tertentu untuk mencapai area touch down di landas pacu suatu bandar udara.

Ternyata
dalam perkembangan penerbangan itu, terdapat perubahan cuaca dan arah
angin serta ada pasokan data lain. Maka kemudian pilot bisa segera
mengambil keputusan "memodifikasi" sikap penerbangannya setelah
berkomunikasi dengan instrumen EGWPS-SmartRunway/SmartLanding, TCAS, dan menara kendali bandar udara.

Indonesia
yang semakin tumbuh industri penerbangannya memerlukan standar
keselamatan dan keamanan penerbangan yang makin tinggi. Apalagi industri
penerbangan adalah bisnis yang paling sarat regulasi dan standar
internasional di Bumi yang makin tidak mengenal batas.



View the Original article

Batan nantikan presiden baru lanjutkan PLTN

Kuta (ANTARA News) - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menantikan presiden Indonesia yang baru untuk melanjutkan proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Serpong, Tangerang Selatan, Jawa Barat.

"Proposal dan blue print sudah kami bikin. Teknologi itu aman. Tinggal pemerintah yang baru nanti mau melanjutkan atau tidak?" kata Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto seusai membuka Regional Cooperation Agreement Review Meeting International Atomic Energy Agency (IAEA) di Kuta, Bali, Senin.

Batan telah menetapkan pembangunan reaktor daya eksperimen atau PLTN berskala kecil yang berkapasitas 10 megawatt di Serpong. "Namun kalau ternyata presiden baru punya pilihan tempat lain, silakan," ujarnya.

Dalam cetak biru yang diajukan kepada pemerintah itu, Batan juga menjelaskan bahwa reaktor nuklir tidak hanya untuk energi listrik, melainkan juga untuk kegiatan industri lain, seperti pemeriksaan kilang minyak dan kegiatan desalinasi atau mengubah air laut menjadi air tawar sehingga aman untuk dikonsumsi.

Oleh sebab itu, Batan sangat berharap presiden mendatang harus memiliki pemahaman bahwa energi menjadi tulang punggung kemajuan kesejahteraan bangsa.

"Pemerintah yang akan datang harus punya visi itu. Minyak dan gas serta batu bara ada batasnya, sedangkan energi nuklir belum termanfaatkan secara maksimal," kata Djarot.

Ia menyebutkan bahwa Indonesia menyimpan potensi produksi uranium sebanyak 60 ribu hingga 70 ribu ton yang tersebar di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, dan Papua.

"Namun untuk sementara ini kita beli uranium karena lebih murah. Kita mencoba meniru China yang membeli batu bara ke kita, padahal mereka punya banyak batu bara," katanya.

Uranium yang didatangkan Indonesia itu berasal dari Rusia, Prancis, Kazakhstan, dan Afrika Selatan. "Tantangan kita selama ini ada di lapangan. Masyarakat masih takut (terkena radiasi)," kata Djarot.

Dari segi sumber daya alam dan sumber daya manusia bidang energi nuklir di Indonesia tidak kalah dengan negara-negara lainnya. "Kita punya Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir. Sekitar 90 persen lulusannya terserap di industri," ujarnya.

Demikian pula dari segi infrastruktur, Indonesia jauh lebih siap mengembangkan energi nuklir dibandingkan dengan negara lain. Selain Batan yang sudah berusia 55 tahun dan Undang-Undang Nuklir, Indonesia juga memiliki Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).

"Kalau tidak segera mengembangkannya, kita bisa menyesal. Apalagi negara-negara tetangga sudah memulainya," kata peneliti Batan, Sugiarto, menimpali.



View the Original article

Saturday, May 24, 2014

LIPI AKAN BANGUN KEBUN RAYA DI WAKATOBI

LIPI Akan Bangun Kebun Raya di Wakatobi
Minggu, 25 Mei 2014

Bisnis.com, WAKATOBI - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berencana membangun kebun raya di Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), kata Bupati Wakatobi Hugua di Wangiwangi, Sabtu (24/5/2014).

"LIPI berencana membangun kebun raya di Wakatobi itu telah kami terima saat penandatanganan kerja sama LIPI - Pemkab Wakatobi di bidang penelitian di Bogor pada 19 Mei," katanya.

Sebagai Bupati Wakatobi, Hugua sangat mengapresiasi rencana LIPI tersebut. Menurutnya, kehadiran kebun raya akan semakin memperkuat posisi Wakatobi sebagai Pusat Biodiversity Bumi di kawasan segitiga terumbu karang dunia.

"Pemkab sudah menetapkan visi membangun Wakatobi sebagai Pusat Biodiversity Bumi pada 2025," katanya.

Diharapkan, ujarnya, kehadiran kebun raya yang akan ditanami berbagai jenis pohon seperti yang ada di Kebun Raya Bogor, visi membangun Wakatobi menuju terwujudnya pusat biodiversity bumi pada tahun 2025 dapat tercapai dengan mudah.

"Kami sudah menyiapkan lahan seluas satu hektare untuk pembukaan awal dari kebun raya itu," katanya.



» Arsip
» Diakses : 6 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

LIPI SEMARAKKAN PEKAN INOVASI SUMUT 2014 DI GSG

LIPI Semarakkan Pekan Inovasi Sumut 2014 di GSG
Sabtu, 24 Mei 2014

MedanBisnis-Medan. Pekan Inovasi Sumatera Utara kembali digelar di tahun 2014 yang digelar PT Chamiko Loyalindo bekerja sama dengan Badan Penanaman Modal dan Promosi (BPMP) Sumut, tepatnya di Gedung Serbaguna (GSG), Jalan Willem Iskandar Medan, 21-25 Mei 2014.

Pusat Inovasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), salah satu lembaga inovasi terkemuka di Indonesia, ikut menyemarakkan even yang menjadi sarana promosi keunggulan Sumut itu.

LIPI sendiri mengisi kegiatan itu, Sabtu (24/5), dengan mempertemukan antara peneliti, pihak industri dan pemerintah daerah atau institusi lainnya dalam menjajaki potensi kerja sama pemanfaatan hasil penelitian LIPI.

"Rencananya dibuka Pak Gubsu besok (hari ini-red) dan dihadiri Deputi Pengendalian dan Pelaksanaan BKPM RI, M Azhar Lubis," kata Kepala BPMP Sumut Purnama Dewi didampingi Direktur Utama PT Chamico Loyalindo, Beta Dennis, kepada wartawan di Medan, Selasa (20/5).

Hampir 100 pesera selain LIPI, ikut di ajang tahunan itu, diantaranya 19 SKPD Pemprovsu, sejumlah SKPD kabupaten/kota di Sumut dan Sumbar, Jateng, NTB dan Denpasar, sejumlah kementerian dan institusi BUMN seperti PGN, SKK Migas, perguruan tinggi seperti USU, Unimed, Politeknik Del Tobasa, UMA, IT&B, STIPAP.

"Pekan inovasi ini tujuan intinya dalam rengka mempromosiklan potensi-potensi investasi dari berbagai sektor, di samping mengembangkan inovasi-inovasi yang ada di berbagai sektor," kata Purnama Dewi.

Ada juga kuliner, pariwisata, pertanian, pendidikan, kesehatan dan ragam sektor lainnya, yang diharapkan akan semakin bertumbuh lagi dunia usaha di Sumut, yang pada akhirnya dapat mendorong terwujudnya Sumut sejahtera dan berdaya saing.

Dirut PT Chamico Loyalindo Beta Dennis menambahkan, disiapkan juga kegiatan pendukung, yakni talkshow investasi, perbankan dan pendidikan. Selain itu, digelar juga acara indie school festival band dan kesenian daerah.

"Para pelaku bisnis diharapkan ada kontak bisnis. Dan kalau untuk pelajar dan mahasiswa, kita berharap ada niat mereka berwira usaha. Dan bagi masyarakat umum, minimal mereka tau potensi-potensi unggulan," kata Beta Dennis.

Untuk itu, lanjutnya, dia mengarapkan kehadiran masyarakat Sumut menyaksikan Pekan Inovasi Sumut 2014 itu tanpa dipungut biaya masuk alias gratis. (benny pasaribu)



» Arsip
» Diakses : 15 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article