Saturday, May 3, 2014

Ilmuwan ciptakan celana dalam pria dengan anti-radiasi

Jakarta (ANTARA News) - Joseph Perkins ilmuwan asal Inggris, menghadirkan celana dalam yang dapat melindungi pria 99,9 persen dari bahaya radiasi.

Ia menyatakan bahwa perangkat sehari-hari, seperti komputer dan ponsel, adalah biang keladi atas menurunnya jumlah sperma pria di seluruh dunia.

Pendanaan untuk celana bernama Wireless Armour ini mencapai 30 ribu poundsterling, dan bahkan investor harus membayar antara 14 hingga 24 poundsterling untuk satu helai celana.

"Sekarang Anda dapat melindungi aset yang paling berharga dengan Wireless Armour," kata Perkins seperti dilansir laman Mirror.

"Benda ini mencakup seluruh rentang radiasi yang dipancarkan oleh perangkat nirkabel, dari suara dan teks melalui 4G dan Wi-Fi," tambahnya.

Perkins mengatakan bahwa celana ini dapat bekerja berkat sangkar yang dapat mendistribusikan setiap radiasi elektromagnetik merata di sekitarnya.

Dia mengatakan ide itu datang kepadanya saat mengajar fisika di Swiss ketika ia menyadari gadget mengeksposnya dengan "radiasi dalam jumlah besar."

Ilmuwan tersebut mengatakan dirinya juga berencana untuk mengembangkan bra yang dapat melindungi dari bahaya radiasi.



View the Original article

Kapal bertenaga surya "Jalapatih" siap ke Belanda

Surabaya (ANTARA News) - Kapal cepat bertenaga solar (sinar surya) yang dinamai "Jalapatih" buatan mahasiswa Sistem Perkapalan ITS Surabaya siap berlaga dalam ajang "Dong Energy Challenge 2014" di Belanda, 27 Juni hingga 5 Juli mendatang.

"Tim ITS merupakan satu-satunya peserta dari ASEAN dan peserta kedua dari Asia bersama China. Tim ITS berangkat ke Belanda pada 20 Juni mendatang, tapi kapalnya dikirim pada minggu depan," kata Ketua Marine Solar Boat Team ITS, Candra Prasetyo Endro, Jumat.

Di sela-sela peluncuran kapal cepat bertenaga surya yang dilakukan Gubernur Jatim Soekarwo bersama Pembantu Rektor I ITS Prof Herman Sasongko itu, salah seorang "driver" Jalapatih itu menjelaskan kapal "Jalapatih" itu sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 2012.

"Pembuatan kapal sebenarnya hanya setahun, tapi kami cari sponsor untuk bisa ke Belanda, termasuk solar cell yang kami pakai latihan pun merupakan bantuan dari LEN (BUMN). Kami tidak merancang solar cell, karena nanti akan diberi panitia, tapi desain kapal dan motor penggerak merupakan buatan sendiri," katanya.

Ia menjelaskan lomba yang pertama kali diikuti ITS itu merupakan adu kecepatan kapal bertenaga surya dengan jarak tempuh sejauh 200 kilometer melintasi tujuh provinsi di Belanda. "Kami akan menjajah bekas penjajah," katanya, disambut tawa Gubernur Jatim dan hadirin.

Sementara itu, driver lainnya, Viky Suryanto, menjelaskan kapal yang panjang 5 meter dan lebar 1,5 meter itu memiliki kecepatan 6,5 hingga 8 knot (setara 12 km/jam) dengan daya 1 kwh, namun kapal itu memiliki batere litium berdaya 1,5 kwh.

"Jadi, kapal Jalapatih memiliki daya maksimal 2 kwh dari solar cell dan batere yang ada. Ada 119 batere litium ion (batere khusus solar) yang kami miliki, tapi keunggulan Jalapatih bukan pada solar cell atau batere yang ada, melainkan sistem yang kami rancang," kata mahasiswa semester 4 Jurusan Sistem Perkapalan ITS.

Oleh karena itu, katanya, kemenangan tidak hanya ditentukan kecepatan kapal, melainkan kecerdasan dari "driver" dalam mengatur kecepatan kapal, karena kalau terlalu kencang juga akan membuat batere cepat habis, tapi kalau lambat juga tidak baik.

"Cara kerja kapal bertenaga surya adalah sinar matahari diubah menjadi energi listrik, lalu energi itu disimpan dalam batere khusus dan akhirnya digunakan menggerakkan propeller pada kapal," katanya, didampingi driver lainnya, Ginanjar Basuki.

Dalam peluncuran itu, Gubernur Jawa Timur, Dr H Soekarwo SH Mhum, mengatakan dirinya sangat bangga dengan apa yang telah ditunjukkan oleh mahasiswa ITS.

"Itu merupakan hasil dari kreativitas dan kerja keras dari mahasiswa Jurusan Teknik Sistem Perkapalan. Anak ITS mampu berpikir intelek. Ini teknologi yang luar biasa," jelasnya.

Pihaknya pun sangat tertarik untuk bekerja sama dengan ITS, khusunya dalam hal pengembangan kapal-kapal milik nelayan di daerah Jawa Timur.

"Kapal-kapal nelayan juga butuh sentuhan teknologi agar hasilnya jauh lebih baik, karena itu kerja sama dengan ITS akan segera direalisasikan, termasuk program kerja sama pembuatan teknologi tepat guna untuk pemotong padi," katanya.

Sambutan hangat juga diberikan oleh ketua Jurusan Teknik Sistem Perkapalan ITS, Dr Ir AA Masroeri. Ia merasa sangat bangga dengan apa yang ditunjukkan oleh mahasiswanya.

"Ini menunjukkan bahwa kita juga bisa bersaing dengan negara-negara lain. Kalau secara teknologi kita tidak kalah," katanya.

Tim yang diberangkatkan yakni delapan orang mahasiswa ITS terdiri dari seorang ketua tim (sekaligus driver utama), seorang sekretaris, dua orang marketing (sekaligus driver cadangan), dan empat orang teknisi.



View the Original article

Bakteri di kulit punya peran dalam penyembuhan luka

Jakarta (ANTARA News) - Lapisan tipis mikroorganisme yang berada pada kulit memainkan peran penting dalam penyembuhan luka, demikian hasil studi terbaru yang dipresentasikan peneliti senior, Dr Matthew Hardman dari University of Manchester Healing Foundation Centre.

"Studi ini memberikan kita pemahaman lebih baik soal jenis spesies bakteri dalam kulit yang luka, lalu bagaimana sel-sel kita merespons bakteri serta bagaimana interaksi itu dapat memengaruhi penyembuhan," ujar Dr Hardman, seperti dilansir Medical News Today.

Untuk keperluan studi, para peneliti membandingkan bakteri di kulit dari orang-orang yang memiliki luka kronis dan orang yang lukanya telah sembuh.

Mereka menemukan adanya perbedaan dalam koloni bakteri dari kedua kelompok orang ini. Menurut peneliti, temuan ini menunjukkan mungkin ada pola bakteri tertentu untuk luka yang tidak kunjung sembuh .

Di samping itu, para peneliti juga melakukan percobaan pada tikus untuk menemukan alasan mengapa sejumlah luka dapat sembuh sementara luka lainnya tidak.

Dari percobaan ini, mereka menemukan tikus yang mengalami mutasi gen tertentu memiliki lebih banyak bakteri berbahaya dan sembuh lebih lama dibandingkan tikus dengan gen yang normal.

Gen tersebut telah diketahui memiliki hubungan dengan penyakit Crohn dan dikenal dapat membantu mengidentifikasi sel-sel dan reaksinya pada bakteri.

"Secara bersama-sama, penelitian kami pada manusia dan tikus memberikan bukti yang baik soal mikrobioma kulit memiliki efek langsung soal bagaimana kita dapat sembuh (dari luka)," kata Dr Hardman.  

Ia mengatakan dengan mempelajari lebih banyak tentang bakteri kulit mungkin pihaknya dapat membantu dokter memutuskan perawatan yang sesuai untuk mengatasi bakteri berbahaya tanpa memengaruhi bakteri yang menguntungkan.

Para peneliti dalam studi studi ini berharap temuan ini akan dapat membantu menangani luka kronis di kalangan lansia.

Menurut mereka, sekitar satu dari 20 orang lansia mengalami luka yang tidak pernah sembuh. Luka yang kronis ini merupakan masalah kesehatan yang sering diakibatkan oleh penyakit diabetes atau sirkulasi darah yang buruk.

Dr Hardman mengatakan, luka tersebut dapat bertahan selama bertahun-tahun tak tersembuhkan.

Penelitian Dr Hardman tersebut telah dipresentasikan pada pertemuan Experimental Biology 2014 pertemuan di San Diego, CA , 28 April lalu.



View the Original article

Friday, May 2, 2014

SIMBOL KESUKSESAN

Symbols of success
Jumat, 2 Mei 2014

Despite the oppressive heat, thousands of Gerindra supporters gathered at Gelora Bung Karno Stadium at Senayan, Jakarta in late March. They were waiting for their party leader and presidential candidate, Prabowo Subianto. He arrived on a helicopter, and began to inspect Gerindras paramilitary forces while riding from his two billion rupiah horse, wearing keris on his waist. What is the significance of riding a horse and wearing a keris?

Symbols have often been used during the 2014 electoral campaign. Political parties and their presidential candidates try to embrace voters through various ways of symbolic communication. Prabowo wanted create an image that he is a truly Javanese warrior. Based on tradition, there are certain conditions to be fulfilled to be a Javanese warrior, such as a house, woman, horse, bird, and keris. Each of these symbols has a particular meaning. A horse is a symbol for vehicle that can bring a man anywhere. It represents improvement and progressiveness. A Keris is a traditional Javanese weapon. It is a symbol of preparedness, alertness, and a mans ability to protect.

There are several reasons why Prabowo wants to create a Javanese warrior image. First, voters with Javanese ethnic background are the majority in Indonesia. Javanese voters are not only limited to the island itself, but are also spread out to other regions of Indonesia. Second, Prabowo must compete with his toughest rival, Joko Widodo. And Jokowi is already popular as a person who has a strong connection with Javanese culture.

In order to compete with this lower priyayi from Solo, Prabowo must demonstrate his Javanese nobility. Prabowo wants to be seen as an official descendant of Javanese aristocrats. Prabowos father, Sumitro Djoyohadikusumo, was a high Javanese aristocrat. He has kinship lineage with one of Diponegoros commanders and the Mataram Kingdom.

Jokowi is also clever in terms of using the political symbols. He declared the presidential candidacy at Si Pitungs house in Marunda, North Jakarta in mid-March. When asked why Jokowi chose Si Pitungs house, he just said because this house is a symbol of resistance.

The story of Si Pitung is similar with Robin Hood from England. Si Pitung was legendary hero from Betawi who lived in the colonial period. His resistance to the colonial regime become one of the most popular folk stories in Jakarta. With his fellows, Si Pitung robbed greedy landlords and Dutch colonial officers and then distributed to the poor people. Si Pitung was notorious criminal for the Dutch but he was respected hero for the local people. The story of Si Pitung was brought to cinema in the 1970s and has been broadcast on the television. Therefore, it is not surprising if the story of Si Pitung remains popular, especially for Betawi people.

The message is: if Si Pitung resisted colonial repression, Jokowi will defend the peoples rights for social justice in the market liberal age. Furthermore, Jokowi wants the public to see him as a leader that emerged from ordinary people. Si Pitung is a symbol of common people he did not come from aristocrats. Jokowi is also eager to create an image that he does not belong to one group exclusively. Even though he is a Javanese, Jokowi respect history and culture of other ethnic groups. Furthermore, given that he would no longer be governor of Jakarta if elected as President, Jokowi wants to send appreciation and gratitude for Betawi peoples support during his government.

Political symbols have been used in previous decades in Indonesian history. Javanese indirect speech is influenced by Javanese feudalism, and uses metaphors as a way to express a point of view. The text that be expressed has ambiguous meaning. It can come in the form of satire, sarcasm, and reminder messages.

The use of symbols and metaphors in Indonesian politics is a common practice. Prabowo and Jokowi are contemporary examples. They hope that Indonesian people vote for them because of the symbols they use. However, are these symbols effective to gather the vote? The Presidential election result is the final answer. But keep a look out for other Javanese symbols during the Presidential campaign. They will be subtle, but can be highly effective.

Yogi Setya Permana is a Masters student at the College of Asia the Pacific at The Australia National University.



» Arsip
» Diakses : 36 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

POLEMIK PELESTARIAN CAGAR BUDAYA TROWULAN - LIPI: PERLU DIBENTUK FORUM BERSAMA

Polemik Pelestarian Cagar Budaya Trowulan - LIPI: Perlu Dibentuk Forum Bersama
Jumat, 2 Mei 2014

MOJOKERTO Penetapan Trowulan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akhir tahun lalu tak lantas membuat warga Trowulan berhenti berpolemik.

Bahkan warga Desa Watesumpak dan Desa Jatipasar terlibat konflik terkait rencana pembangunan pabrik baja milik PT Manunggal Sentra Baja (MSB) di kawasan tersebut. Kasus ini rupanya mencuri perhatian Lembagai Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI). Untuk pelestarian dan pengelolaan kawasan cagar budaya nasional, LIPI merekomendasikan dibentuknya Forum Komunikasi Bersama. Rekomendasi itu sekaligus untuk mengurai benang kusut konflik di Desa Watesumpak dan Jatipasar. Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI Endang Turmudi mengatakan, secara tentatif perlu dibentuk Forum Komunikasi Bersama yang melibatkan semua stakeholder.

Dikatakan, stakeholder mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, kelompok masyarakat pelestari budaya, akademisi, pengusaha, dan sebagainya perlu duduk bersama. Harus disatukan untuk merumuskan langkah ke depan, kata Endang. Konflik kepentingan di Trowulan lanjut Endang, muncul lantaran adanya perbedaan perspektif dan visi antar stakeholder. Menurutnya, konflik seperti ini biasa terjadi. Namun, sebaliknya konflik ini bisa menjadi hal yang baik jika bisa dikelola. Ini harus ada yang mengelola.

Jika ada forum komunikasi antarstakeholder, saya yakin aka nada jalan keluar, tegasnya saat saat sosialisasi hasil penelitian LIPI di Museum Majapahit, Trowulan, kemarin. Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Aris Soviyani menyambut baik penelitian yang dilakukan LIPI tiap tahun tersebut. Ia berharap, hasil penelitian LIPI ini bisa diteruskan ke Dirjen Kebudayaan Kemendikbud.

Saya juga setuju kalau dibentuk Forum Komunikasi Bersama, kata Aris. Kepala Museum Mpu Tantular Edi Iriyanto yang mewakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur mengatakan, perlu ada sinergitas antara pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah sudah bergerak. Tapi, memang masih belum fokus,, kata Edi. ● tritus julan



» Arsip
» Diakses : 29 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

DUH, ANGGREK KANTUNG DIBAWA KE PRANCIS SECARA ILEGAL

Duh, Anggrek Kantung Dibawa ke Prancis Secara Ilegal
Jumat, 2 Mei 2014

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG-- Peneliti LIPI Destario Metusala menyatakan, spesies baru Anggrek Kantung dari Sulawesi yang tersimpan di Herbarium Prancis merupakan spesimen yang dibawa dari habitat alaminya secara tidak sah.

Melalui surat elektroniknya yang diterima Rabu malam, Destario Metusala menyatakan, spesies baru Anggrek Kantung dari Sulawesi bernama Paphiopedilum robinsonianum telah dipublikasikan di Prancis, 2013-2014, oleh kolaborasi William Cavestro, N Bougourd, dan Dr Alistair S Robinson.

William Cavestro adalah taksonom anggrek Prancis, N. Bougourd adalah pemilik Nurseri Anggrek Prancis, dan Dr Alistair S Robinson adalah peneliti Nepenthes-UK. Destario, yang merupakan peneliti anggrek, dalam siaran persnya menyatakan, anggrek spesies baru tersebut awalnya diketahui keberadaannya melalui sebuah perjalanan "Redfern Natural History Expedition" di Sulawesi, 2013, yang dipandu dan diorganisir oleh Dr Alistair S Robinson, seorang peneliti Nepenthes kenamaan dunia.

Menurut Destario, bagaimana spesimen Paphiopedilum sp dari Sulawesi tersebut dapat terbang ke Prancis dan sampai ke tangan Cavestro? "Pasalnya, semua spesies Anggrek Kantung (Paphiopedilum spp) hasil perolehan dari habitat alaminya masuk di dalam kategori CITES Apendiks 1," katanya.

Dengan kategori Cites Apendiks 1 berarti tidak diperbolehkan dibawa atau diperdagangkan keluar dari negara Indonesia kecuali dengan persyaratan yang ketat. Sedangkan untuk kepentingan nonkomersial seperti halnya penelitian sekalipun, prosedur pengurusan dokumen izin dan persetujuan dari otoritas CITES tetap harus dilakukan.

Menurut Destario, Kepala Seksi Peredaran Luar Negeri Kementerian Kehutanan Inge Yangesa, selaku otoritas manajemen CITES Indonesia mengonfirmasi dan mengemukakan bahwa tidak ada pengajuan izin CITES pada tahun 2013 untuk mengeluarkan anggrek spesies Paphiopedilum dari Indonesia.

"Sehingga dapat dipastikan spesimen tipe yang tersimpan di Herbarium Perancis tersebut dibawa secara ilegal," kata Destario.

CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) adalah konvensi antarnegara yang melindungi spesies tumbuhan dan satwa liar terhadap tekanan perdagangan dan atau peredaran lintas negara.

Siaran pers menyebutkan, artikel publikasi Paphiopedilum robinsonianum memberikan informasi detail bahwa anggrek tersebut dikoleksi dari habitat alaminya pada 13 Agustus 2013 dari suatu lokasi di Sulawesi Tengah (detail lokasi sengaja dirahasiakan untuk alasan konservasi).



» Arsip
» Diakses : 182 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

LIPI: ADA DI PRANCIS, SPESIES BARU ANGGREK KANTUNG DICOLONG DARI SULAWESI

LIPI: Ada di Prancis, Spesies Baru Anggrek Kantung Dicolong dari Sulawesi
Jumat, 2 Mei 2014

Bisnis.com, BANDUNG - Peneliti LIPI Destario Metusala menyatakan, spesies baru Anggrek Kantung dari Sulawesi yang tersimpan di Herbarium Prancis adalah spesimen yang dibawa dari habitat alaminya secara tidak sah.

Melalui surat elektroniknya, Destario Metusala menyatakan spesies baru Anggrek Kantung dari Sulawesi bernama Paphiopedilum robinsonianum telah dipublikasikan di Prancis pada 2013-2014 oleh kolaborasi William Cavestro, N Bougourd, dan Dr Alistair S Robinson.

William Cavestro adalah taksonom anggrek Prancis, N. Bougourd pemilik Nurseri Anggrek Prancis, dan Dr Alistair S Robinson peneliti Nepenthes-UK.

Destario, yang merupakan peneliti anggrek, menyatakan anggrek spesies baru itu awalnya diketahui keberadaannya melalui sebuah perjalanan Redfern Natural History Expedition di Sulawesi, 2013, yang dipandu dan diorganisir Alistair S. Robinson, seorang peneliti Nepenthes kenamaan dunia.

Destario mempertanyakan bagaimana spesimen Paphiopedilum sp dari Sulawesi tersebut dapat terbang ke Prancis dan sampai ke tangan Cavestro. "Pasalnya, semua spesies Anggrek Kantung (Paphiopedilum spp) hasil perolehan dari habitat alaminya masuk di dalam kategori CITES Apendiks 1," katanya.

Kategori Cites Apendiks 1 berarti tidak dibolehkan dibawa atau diperdagangkan keluar dari negara Indonesia kecuali dengan persyaratan yang ketat. Sedangkan untuk kepentingan nonkomersial seperti penelitian sekalipun, prosedur pengurusan dokumen izin dan persetujuan dari otoritas CITES tetap harus ditempuh.

Menurut Destario, Kepala Seksi Peredaran Luar Negeri Kementerian Kehutanan Inge Yangesa, selaku otoritas manajemen CITES Indonesia, mengonfirmasi dan mengungkapkan tidak ada pengajuan izin CITES pada 2013 untuk mengeluarkan anggrek spesies Paphiopedilum dari Indonesia.

"Sehingga dapat dipastikan spesimen tipe yang tersimpan di Herbarium Perancis tersebut dibawa secara ilegal," kata Destario.

CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) adalah konvensi antarnegara yang melindungi spesies tumbuhan dan satwa liar terhadap tekanan perdagangan dan atau peredaran lintas negara.

Siaran pers itu menyebutkan artikel publikasi Paphiopedilum robinsonianum memberikan informasi detail bahwa anggrek tersebut dikoleksi dari habitat alaminya pada 13 Agustus 2013 dari suatu lokasi di Sulawesi Tengah (detail lokasi sengaja dirahasiakan untuk alasan konservasi).



» Arsip
» Diakses : 63 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article