Tuesday, August 13, 2013

KEPALA BPPT RAIH PENGHARGAAN BINTANG JASA UTAMA

Category: Berita Layanan Info Publik

Kepala BPPT, Marzan A Iskandar meraih penghargaan Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama di Istana Negara, Selasa (13/8). Penghargaan diberikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

Bintang Jasa Utama merupakan penghargaan yang diberikan atas jasa-jasa luar biasa dalam suatu bidang tertentu di luar bidang militer.  Sedang Tanda Kehormatan Bintang Jasa merupakan bintang sipil yang derajatnya setingkat di bawah Bintang Mahaputera, terbagi atas Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama, Tanda kehormatan Bintang Jasa Pratama, dan Tanda Kehormatan Bintang Jasa Nararya.

UU 20/2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, menyatakan beberapa syarat khusus untuk menerima Bintang Jasa Utama.

  Antara lain, berjasa besar di suatu bidang  atau  peristiwa tertentu yang bermanfaat bagi keselamatan, kesejahteraan, dan kebesaran bangsa dan negara. 

Penerima penghargaan juga dinilai karena pengabdian dan pengorbanannya di bidang sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan beberapa bidang lain yang bermanfaat bagi  bangsa dan negara. Darmabakti dan jasanya diakui secara luas di tingkat nasional.

Penghargaan Bintang Jasa Utama juga diberikan kepada empat tokoh nasional lain yaitu Direktur Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik, Kementerian Dalam Negeri, Bupati Jombang Jatim periode 2003-2008 dan 2008-2013, Bupati Bantul DIY periode 2010-2015 dan Bupati Malang Jatim periode 2010-2015.

Pemberian penghargaan kepada warga negara atas jasa-jasa yang luar biasa terhadap bangsa dan negara tersebut diberikan dalam rangka peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tahun ini terdapat 28 orang penerima tanda jasa baik itu Bintang Mahaputera Adipradana, Mahaputera Utama, Mahaputera Nararya, Bintang Jasa Utama, Budaya Parama Dharma, dan Bintang Jasa Nararya.

Marzan Aziz Iskandar menjabat sebagai Kepala BPPT sejak 2008 silam. Sebelum menjabat Kepala BPPT, pria lulusan Institut Teknologi Bandung dan Tokai University Jepang tersebut juga sempat menjadi Deputi Teknologi Informasi Energi dan Material serta Sekretaris Utama BPPT.

Pada Desember 2012 lalu, pria kelahiran Pagaralam tersebut juga mendapatkan penghargaan Honorary Fellowship and Hon Membership Listing pada konferensi tahunan The ASEAN Federation of Engineering Organisations (AFEO) di Kamboja. (SYRA/humas)



View the Original article

SRI ASTUTIK, ‘IBU ASUH’ TUMBUHAN

Sri Astutik, Ibu Asuh Tumbuhan
Selasa, 13 Agustus 2013

Sekilas, Sri Astutik (40), Pemenang III Kompetisi Wanita Karier BII Femina 2012/2013, tampak seperti sosok yang pemalu dan low profile. Tapi, kesan itu berubah 180 derajat ketika ia bercerita tentang pekerjaannya sebagai peneliti tumbuhan di Unit Pelaksana Teknis Badan Konservasi Tumbuhan (UPT BKT) Kebun Raya Cibodas, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pancing saja ia dengan pertanyaan mengenai kondisi keanekaragaman hayati dan kehutanan di Indonesia. Ia akan langsung menjawab dengan sorot mata berbinar-binar dan gaya bicara yang lugas. Passion dan penguasaan ilmunyalah yang memikat hati para juri Kompetisi Wanita Karier BII Femina 2012/2013.

Wanita yang akrab dipanggil Tutik ini membuktikan, dipadukan dengan ilmu pengetahuan dan kerja keras, passion bisa jadi bahan bakar yang menyulut semangat kita untuk tak pernah lelah berkarya. Buktinya, meski baru lima tahun berkarier sebagai peneliti di Kebun Raya Cibodas, Tutik sudah mengukir banyak prestasi.

Tahun 2010 misalnya, ia memperoleh penghargaan Young Scientist Award dari Man and Biosphere UNESCO. Saat itu, ia melakukan penelitian mengenai hubungan karbon dengan keanekaragaman hayati di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang merupakan zona utama cagar biosfer Cibodas. Tak hanya itu, di tahun yang sama, ia juga pernah mewakili Indonesia untuk program beasiswa short course Nature Protection & Conservation of Biodiversity dari UNEP/UNESCO/BMU.

Tumbuhan itu jenis organisme yang menakjubkan. Baik dari aspek sejarah, manfaat, prospeknya bagi kehidupan masa depan, sekaligus esensinya yang mendasar dalam fungsinya menyerap karbon dari udara, papar sarjana pertanian dari Universitas Jember ini. Tumbuhan memang satu-satunya makhluk hidup yang bisa menyerap karbon dari udara dan mengolahnya menjadi bahan yang membuatnya tumbuh besar dan menghasilkan kandungan yang bermanfaat bagi manusia.

Hal itulah yang membuatnya jatuh cinta pada dunia riset dan konservasi tumbuhan. Konservasi tumbuhan merupakan bidang yang sangat menarik. Karena, Indonesia sendiri termasuk mega biodiversity dunia. Namun, positioning ini tidak akan berarti jika kita mengabaikan kelestarian tumbuhan dan hutan, ujar Tutik, antusias.

Itulah lingkup tugasnya sebagai peneliti tumbuhan. Tak hanya meneliti, tapi juga melakukan upaya konservasi dan restorasi tumbuhan asli Indonesia. Karena ia bertugas di Kebun Raya Cibodas, fokus riset, konservasi, dan restorasinya adalah pada tumbuhan dataran tinggi basah.

Biasanya saya akan pergi ke hutan untuk mengambil spesies tumbuhan yang jumlahnya makin berkurang. Lalu, tumbuhan itu akan saya teliti apa manfaatnya, dan dikonservasi di UPT BKT Kebun Raya Cibodas. Setelah itu, tumbuhan tersebut akan direstorasi, dikembalikan ke habitatnya sebagai upaya pemulihan suatu kawasan, sehingga bentuknya mendekati ekosistem asli, jelas Tutik. Meski begitu, hingga saat ini tugasnya lebih banyak fokus pada upaya riset dan konservasi.

Tulus Berbagi Ilmu

Wanita lulusan S-2 Biologi, Institut Teknologi Bandung ini memandang, kelestarian tumbuhan adalah masalah yang krusial dari dunia tumbuhan dan kehutanan Indonesia saat ini. Meski jenisnya banyak, kalau jumlahnya sedikit, sih, percuma saja. Oleh karena itu, kita juga perlu mewaspadai masalah deforestasi atau penebangan hutan. Karena, ketika deforestasi meningkat, jumlah dan jenis keanekaragaman tumbuhan di Indonesia juga pasti berkurang, paparnya, prihatin.

Padahal, hutan asli adalah unsur alam yang sangat krusial, terutama dalam upaya konservasi. Kebun raya sendiri hanya bertugas menopang proses konservasi. Pada banyak kasus, hutan ditebang untuk dijadikan pertambangan batu bara atau perkebunan. Tapi, ketika sumber batu baranya habis, kita membutuhkan waktu 350 tahun untuk memulihkan hutan tersebut. Itu pun tidak mungkin bisa sama seperti aslinya, ujar wanita kelahiran Nganjuk, 4 Juli 1973, ini.

Upaya penghijauan atau pelestarian hutan pun tidak cukup hanya dengan menanam sebanyak-banyaknya pohon, tapi juga perlu memperhatikan kelestarian keanekaragaman hayatinya. Dan masalah deforestasi ini baru bisa diatasi dengan komitmen politik pemerintah.

Tak hanya sibuk meneliti dan mengonservasi, Tutik juga ingin memberi kontribusi nyata kepada masyarakat. Karena itu, sejak awal 2013 ia mendirikan Giri Jagad Community, komunitas kewirausahaan sosial yang berupaya memberdayakan masyarakat petani di kawasan cagar biosfer Cibodas.

Sebenarnya, masyarakat sudah membentuk komunitas ini secara independen sejak sebelum tahun 2013. Saya hanya memfasilitasi kebutuhan mereka lewat komunitas yang lebih well organized, sehingga perkembangannya pun lebih terarah, papar Tutik, yang juga aktif di Indonesian Social Entrepreneurship Community (ISEC).

Lewat Giri Jagad Community ini ia memang ingin membuat terobosan bagaimana ilmu konservasi bisa berperan dalam upaya mengembangkan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dedikasinya terhadap pengembangan komunitas ini berbuah penghargaan Top 20 Community Entrepreneur Challenge Wave III, pada tahun 2012.

Tutik menganggap, memberikan pendidikan lingkungan kepada masyarakat juga tugas penting yang tak boleh ia abaikan. Saya tidak ingin dunia saya terbatas pada hutan dan kebun raya saja. Saya juga tidak ingin jika penelitian saya sekadar berhasil memenangkan penghargaan atau dimuat di jurnal ilmiah internasional. Memang itu prestasi yang membanggakan. Tapi, saya akan jauh lebih senang jika ilmu yang saya punya dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat dan memberikan manfaat yang nyata bagi orang lain, ungkapnya.

Ia sadar, jalannya untuk mewujudkan cita-cita itu masihlah sangat panjang. Ia pun perlu modal ilmu dan networking yang cukup. Tak mengherankan, ia gemar menantang diri dengan mengikuti berbagai kompetisi, termasuk Kompetisi Wanita Karier BII Femina 2012/2013. Saat ini, ia juga tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan program studi S-3 International Forestry and Forest Product di Jerman.

Bahkan, sejak tiga bulan lalu ia sedang kursus bahasa Inggris, English for Academic Study, secara intensif di Denpasar, Bali. Tidak pernah ada kata cukup untuk ilmu. Saya ingin sekolah sampai jenjang yang tertinggi, ujarnya, bersemangat. Semua itu demi mewujudkan cita-cita terbesarnya, menjadikan riset sebagai dasar dalam pembuatan kebijakan mengenai kehutanan dan lingkungan di Indonesia.



» Arsip
» Diakses : 21 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

Monday, August 12, 2013

SUHU BUNGA BANGKAI 60 DERAJAT CELSIUS

Suhu Bunga Bangkai 60 Derajat Celsius
Senin, 12 Agustus 2013

Tepat sebelum mekar, energi yang dikeluarkan membuat bunga ini menjadi panas.Novik Nurhidayat dan Sri Hartin Rahaju dari Pusat Penelitian Biologi bidang Mikrobiologi, LIPI berurusan dengan hal yang paling dihindari dari bunga bangkai, yaitu bau. Lebih tepatnya, mikroorganisme yang ada pada bunga bangkai.

Novik memaparkan, Karena bau yang menyengat dihasilkan dalam waktu yang singkat, cuma beberapa hari, saya pikir bunga sendiri perlu bantuan dari mikroorganisme, ujar Novik. Bunga bangkai memerlukan bau tersebut untuk menarik serangga agar datang dan membantu proses penyerbukan yang terjadi antarbunga.

Tim ini mencoba meneliti bakteri yang ada pada sang bunga. Mulai dari terdapat di tanah, tangkai, kelopak, bunga jantan, bunga betina, hingga tongkol. Bakteri tersebut mereka ambil dan tumbuhkan beberapa waktu di laboratorium, untuk diteliti.

Akhirnya kenyataan pun terungkap. Bunga ini menghasilkan antara lain bau seperti kertas terbakar, bau ikan yang amis, bau telur busuk, dan yang terunik, bau harum maskulin yang hanya ada pada bunga jantan. Apa fungsi khusus dari masing-masing bau, masih jadi misteri yang terus berusaha diteliti oleh mereka.

Saat bunga bangkai akan mekar, ia butuh energi yang besar untuk membuka seludang. Energi itu ia dapatkan dari metabolisme tubuhnya. Pemecahan protein dalam kondisi yang tertutup rapat itu menghasilkan energi yang banyak. Hingga setelah akumulasi cukup besar, ia terbuka ungkap Novik. Pada saat mengumpulkan energi tepat sebelum mekar, suhu yang ada di dalam berkisar antara 50 hingga 60 derajat Celsius.(Titania Febrianti)



» Arsip
» Diakses : 54 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

Saturday, August 3, 2013

KEMENPAREKRAF DUKUNG PEMBANGUNAN 21 KEBUN RAYA

Kemenparekraf dukung pembangunan 21 kebun raya
Sabtu, 3 Agustus 2013

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu mendukung upaya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membangun 21 kebun raya baru di seluruh penjuru Tanah Air sebagai alternatif destinasi wisata dan konservasi flora. "Saya mengapresiasi dan akan mendukung atas upaya pembangunan 21 kebun raya baru, sehingga dapat menjadi tujuan wisata flora bagi wisatawan sekaligus konservasi," ujar Mari Elka Pangestu di Bogor, Jumat (2/8), saat meninjau kesiapan pengelola Kebun Raya Bogor dalam menghadapi wisatawan libur lebaran.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mustaid Siregar, menyampaikan bahwa pihaknya di LIPI sedang berupaya membangun 21 kebun raya baru di seluruh pelosok tanah air. Sebanyak 21 kebun raya tersebut akan menambah daftar kebun raya yang saat ini baru berjumlah empat buah di Indonesia.

Menurut Mari Elka, selain bisa sebagai destinasi wisata flora, keberadaan kebun raya pada intinya akan menjadi sebuah lahan konservasi untuk spesies tumbuhan langka di Indonesia sehingga dapat menjaga keanekaragaman tumbuhan di Indonesia. "Indonesia mempunyai ragam jenis tumbuhan. Di manapun di dunia ini, pasti ingin memiliki kebun raya serta ragam flora yang dikenal di dunia," kata dia.

Sementara itu Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI Mustaid Siregar mengatakan sebagai negara dengan ragam jenis flora, Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negara lain dalam hal jumlah kebun raya. "Kita ini jumlah kebun rayanya hanya empat dalam 45 tahun terakhir, itu pun yang dibangun oleh putra Indonesia hanya satu yakni di Bali. Di Amerika kebun raya ada 300, di Brasil ada 40 buah. Kita jauh tertinggal," kata dia.

Dia mengatakan, dalam membangun 21 kebun raya baru, LIPI akan fokus di wilayah Indonesia Barat terlebih dulu, sebab di wilayah tersebut banyak terjadi kasus deforestasi atau penggundulan hutan. Menurut Mustaid, pembangunan kebun raya perlu dukungan pemerintah daerah dan masyarakat, terutama terkait masalah pembebasan lahan, demi penghijauan dan menjaga kelangsungan ragam flora. (Ant)



» Arsip
» Diakses : 21 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

Thursday, August 1, 2013

TMC BPPT SIAP ATASI BENCANA ASAP DI WILAYAH KALIMANTAN

Category: Berita Teknologi Sumberdaya Alam & Kebencanaan

Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan (UPTHB) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), telah meresmikan “Siaga Darurat Bencana Asap Regional Kalimantan” di Kantor Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), Palangkaraya (31/07).

Kepala UPTHB BPPT, F. Heru Widodo mengatakan bahwa pola bencana asap tahun ini, hampir sama dengan pola bencana asap di tahun 2006-2007. “Polanya sama,  jika dilihat dari sebaran hotspot dan kawasan asapnya” jelasnya.

Adapun secara simbolis pembukaan operasi dilakukan oleh Kepala BNPB, Syamsul Maarif  dengan memukul Gendang Tatau (alat musik khas Dayak) pada Rapat Koordinasi Siaga Darurat Bencana Asap Regional Kalimantan yang dihadiri oleh Gubernur Provinsi Kalteng, Deputi TPSA BPPT dan instansi terkait seperti, Kemenko Kesra, Kemendagri, BNPB dan BMKG.

Pada sambutannya Syamsul mengatakan, penanggulangan bencana asap di Kalimantan ini akan dilakukan dengan dua konsep, melalui darat dan udara. “Melalui darat kami melakukan dua cara yaitu dengan memadamkan, maupun melakukan pengontrolan. Sedangkan lewat udara kami juga melakukannya melalui Teknologi Modifikasi Cuaca dan Water Bombing,” ungkapnya.

Syamsul juga menambahkan, operasi ini didukung juga oleh TNI-AU dengan meminjamkan pesawat Hercules A-1323. “Ada juga pesawat Casa 212 milik BPPT yang akan dipakai untuk penyemaian awan. Sedangkan untuk Water Bombing, rencananya akan didatangkan pesawat Camov dan Sikorsky yang masing-masing mempunyai kapasitas tamping 4000an liter air,” paparnya.

Gubernur Kalimantan Tengah, Agustinus Teras Narang pada sambutannya menghimbau kepada seluruh jajarannya untuk lebih berkordinasi dalam penanganan bencana taunan ini. “Koordinasi harus dilakukan dengan cepat, semua pihak harus saling mendukung. Personil khusus dari TNI, Polri, Manggala Agni, Tagana, Brigade Resque, Satpol PP, dinas kehutanan dan instansi lainya telah di siagakan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala UPTHB BPPT menyampaikan Posko Satgas udara terletak di kompleks Pemadam Kebakaran (PK) di Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya. Dia menambahkan pada operasi TMC kali ini akan didukung 2 Pos Meteorologi (Posmet) di Sampit dan Kapuas dan 4 peralatan Ground Base Generator  untuk pengendalian asap dari darat. “Selain menanggulangi bencana asap dan gambut, TMC kali ini juga diperuntukkan dalam mendukung kelancaraan arus bandara yang ditakutkan terhambat oleh asap,” pungkas Heru. (SYRRA/humas)



View the Original article

BANDROS, PONSEL CERDAS ANTISADAP BUATAN LIPI

BandrOS, Ponsel Cerdas Antisadap Buatan LIPI
Kamis, 1 Agustus 2013

Tajuk.co, JAKARTA Indonesia boleh berbangga karena Indonesia menjadi negara pertama yang menciptakan smartphone atau ponsel cerdas antisadap pertama didunia. Aalah peneliti dari Lembaga Informatika, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang berhasil mengembangkan sistem operasi mobile yang dinamakan sebagai BandrOS (Bandung Raya Operating System).

Ponsel cerdas antisadap itu masih menunggu kerjasama dengan pihak swasta (vendor) untuk masuk ke tahap produksi massal. Diperkirakan harga jual ponsel tersebut antara Rp 800 ribu Rp 1 juta per unit. Namun belum diputuskan apakah nantinya hanya diperuntkkan untuk pasra corporate dan government atau dijual untuk masyarakat umum.

Karena kami hanya membuat OS mobile-nya saja, maka untuk hardware-nya masih tergantung pada vendor yang nanti mau memproduksinya, kata Wawan Wardiana saat dihubungi di Bandung, Rabu (31/7).

Rencananya, LIPI akan memamerkan ponsel cerdas antisadap tersebut pada ajang tahunan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-18 di Taman Mini Indonesia Indah (TMMI), 27 Agustus hingga 1 September 2013 mendatang. Ponsel tersebut menggunakan sistem operasi open source buatan anak bangsa, berbasis Linux yang dikembangkan para peneliti LIPI.

Saya sangat gembira dengan prototipe ponsel pintar yang akan memanfaatkan sistem operasi open source buatan anak bangsa, kata Gusti Muhammad Hatta, di Gedung BPPT Jakarta, Rabu (31/7).

Menurut Wawan, BandrOS adalah sistem operasi open source yang berbasis Linux. Sistem operasi itu merupakan pengembangan dari sistem operasi desktop yang sudah diciptakan sebelumnya.

Terciptanya prototipe ponsel pintar ini adalah buah hasil kerja sama Kominfo dan Kemenristek. Ke depan, kami menginginkan ponsel ini bukan untuk consumer good, tapi untuk segmen pemerintahan dan korporat, ujar Wawan.

Sebenarnya, diakui Wawan, sistem operasi ini bisa digunakan oleh vendor-vendol ponsel lokal, tapi untuk rencana ke depan, akan dibicarakan lagi dengan Kominfo dan Kemenristek.

Mudah-mudahan akhir tahun ini pemanfaatan dari sistem operasi BandrOS bisa digunakan oleh siapa saja. Kami peneliti hanya menciptakan, selanjutnya terserah industri mau menggunakan atau tidak, tutur Wawan.

Prototipe dari ponsel pintar ini menggunakan processor MTK 6575-cortex A9 1Ghz, memanfaatkan jaringan GSM, layar touchscreen, Dual SIM, dan kamera 2MP. (LES)



» Arsip
» Diakses : 135 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article

E-LIBRARY LIPI TERGABUNG DALAM PORTAL SATULAYANAN

E-Library LIPI Tergabung dalam Portal SatuLayanan
Kamis, 1 Agustus 2013

(Jakarta, 1 Agustus 2013 Humas LIPI). Tercatat 161 layanan dari 23 institusi pemerintah, satu perguruan tinggi, dan dua komunitas telah tergabung dalam portal yang diinisiasi Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) melalui gerakan Open Government Indonesia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sendiri berpartisipasi melalui layanan e-Library yang dikelola oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI.

Melalui e-Library, masyarakat dapat mengakses jurnal Indonesia, jurnal asing, data base pakar dan karya ilmiah, hingga dokumen multimedia lainnya cukup melalui komputer yang terhubung ke internet. Mereka tidak harus mengunjungi Perpustakaan PDII yang berlokasi di Kampus LIPI Gatot Subroto, Jakarta.

Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Prof. Dr. Eko Prasojo mengungkapkan, makin meningkatnya kebutuhan publik akan layanan yang cepat dan terjangkau menuntut pemerintah menyediakan sistem layanan yang terpadu. Keinginan masyarakat akan perubahan layanan sesuai dengan deret ukur, sedangkan kecepatan perubahan layanan oleh pemerintah sesuai deret hitung, jelasnya di Jakarta, Rabu (31/7) lalu.

Sebagai respon terhadap kebutuhan publik tersebut, pemerintah melalui UKP4 pada bulan April lalu meluncurkan portal SatuLayanan.net. Portal SatuLayanan adalah laman yang dirancang dan dibangun untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam mendapatkan informasi mengenai layanan-layanan yang diberikan badan publik atau pemerintah kepada warga negaranya.

Peran Media Sosial

Tak hanya itu saja, keberadaan media sosial seperti Facebook dan Twitter juga dapat menjadi sarana untuk mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat. Media sosial secara massif merubah kultur sosial. Semua orang kini bisa bersuara. Everybody is on air, terang pakar media sosial Rene Suhardono.

Saat ini tercatat 64 juta pengguna Facebook dan 29 juta pengguna Twitter di Indonesia. Institusi pemerintah tentunya dituntut untuk lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat. Komplain akan menyebar 5 sampai 10 kali lebih cepat melalui media sosial, jelasnya.

Menurut Rene, saat ini yang diperlukan adalah sinergi dari semua institusi pemerintah untuk menyediakan layanan yang optimal. Saat ini adalah era kolaborasi, ujarnya. Senada dengan Rene, Eko Prasojo menyatakan program reformasi birokrasi yang salah satunya adalah penyediaan layanan yang cepat, murah, dan terintegrasi, harus dilakukan bersamaan dengan bantuan teknologi. Bukan siapa yang member layanan, namun bagaimana kepentingan masyarakat bisa terpenuhi, tutupnya. (fz)



» Arsip
» Diakses : 77 kali
» Dikirim : 0 kali



View the Original article